30 Dec 2012

Suksesi Rezim Ferguson

Besok, tepatnya tanggal 31 Desember 2012, Sir Alexander Chapman "Alex" Ferguson akan ganjil berumur 71 tahun. Umur yang tentunya sudah pantas untuk menikmati udara pagi di suasana pegunungan dengan ditemani isteri muda atau mungkin hanya secangkir earl grey tea. Umur yang tentunya sudah tidak pantas untuk berdiri di pinggir lapangan sepakbola dan berkomentar bahwa Newcastle hanyalah "wee club from North East".

Banyak orang pun menebak Fergie akan pergi beberapa waktu ke depan, meninggalkan sejuta prestasi bagi Old Trafford. Masih berdiri sebagai pelatih terlama sebuah klub, Fergie bisa dibilang adalah satu dari sedikit orang yang memiliki rezim yang panjang, seperti Hosni Mubarak atau Hugo Chavez. Namun, tentunya Fergie tidak bisa terus-menerus seperti itu hingga dia harus duduk di kursi roda untuk memarahi Nani yang salah passing.

Beberapa kandidat pengganti Fergie pun bermunculan. Dari sekian banyak kemungkinan penggantinya, beberapa nampaknya cukup memiliki peluang yang baik untuk hadir sebagai pelatih di Old Trafford. Berikut 5 kandidat pelatih pengganti Sir Alex Ferguson versi saya.

1. David Moyes


Anda pasti selalu terkesima jika melihat orang yang berada dari asal yang sama dengan Anda ternyata cukup hebat untuk bersaing dengan Anda. Begitu pula, Alex Ferguson terhadap David Moyes. Sama-sama dari dataran Skotlandia, hubungan mereka pun tampak baik. Soal loyalitas, Moyes bisa diandalkan tentunya karena telah menjadi pelatih terlama ketiga di Premier League di belakang Ferguson dan Wenger ketika menjadi pelatih Everton sejak 2002. Warga kampung sendiri tentunya lebih bisa diandalkan, bukan?

2. Pep Guardiola



Pep adalah tipikal orang yang begitu dinamis dalam sepakbola. Setelah hengkang dari Camp Nou, Pep memilih beristirahat sejenak dari sepakbola untuk menikmati hidup. Kabarnya, Pep bahkan menolak tawaran menukangi Chelsea demi beristirahat dan kemudian digantikan oleh Benitez si Koki Gembul. Namun, Pep akan berpikir keras untuk menerima tawaran United menjadi pelatih klub. Torehan 19 kampiun EPL mungkin jadi pertimbangannya untuk comeback karena mungkin dia rindu menjadi juara.

3. Jose Mourinho



Saling melempar kode, itulah yang terjadi pada Alex Ferguson dan Mourinho. Mereka terkadang sering melempar pujian satu sama lain yang lebih mengarah pada PDKT anak gaul zaman sekarang ketimbang hubungan baik semata. Hal ini bisa menjadi indikasi bahwa Mou akan tiba di United segera. Mou nampak gerah juga dengan kondisi di Bernabeu yang tidak kondusif. Mou bahkan bisa saja membawa si anak hilang, Ronaldo, yang mungkin rindu juga pada Old Trafford.

4. Ole Gunnar Solskjaer



Molde, klub Norwegia, adalah klub resmi pertama yang ditukangi oleh Solskjaer setelah hengkang dari United sebagai pelatih reserves. Di tahun pertamanya, Solskjaer berhasil membawa Molde menjadi juara untuk pertama kalinya sepanjang sejarah klub yang kemudian disusul dengan prestasi yang sama di tahun keduanya. Kembali ke United tentunya bisa menjadi kenangan tersendiri bagi Baby Face Assassin apalagi menjadi pelatih. Supersub bisa saja menjadi Supercoach kelak.

5. Eric Cantona



Eric Cantona hanya merumput selama lima tahun di Old Trafford, namun namanya akan selalu ada di benak tiap fans United. Kungfu Kick dan kemampuan dribel bola yang hebat sudah barang tentu menjadi memori tersendiri baginya. Keluar dari United, Cantona pun serta merta gantung sepatu karena mungkin United adalah happy ever after ending baginya. Pernah menolak menjadi pelatih United, saya rasa kans Cantona tetap besar karena kecintaannya terhadap United memang tak pernah pudar.

Kelima kandidat di atas hanyalah prediksi belaka. Siapa tahu, Fergie akan dimakamkan di atas tanah Stretford End ketika berusia 90an. Mungkin kita bisa menunggu 20 tahun lagi untuk melihat wajah baru di coach bench United atau mungkin bisa musim depan. Siapa yang tahu.

18 Dec 2012

Di Ujung Lapangan Hijau Itu

Sudut stadion itu sunyi dan penuh debu. Rumput di dalamnya tumbuh tinggi dan liar tanpa alur yang jelas. Garis tanda di lapangan sudah tak terlihat, tenggelam dalam rumput yang tak kuasa menahan pertumbuhannya sendiri. Kursi penonton terlihat rapuh dan terisi oleh jaring-jaring laba-laba. Tribun-tribun sudah mulai ditumbuhi lumut yang tak terkira, jamur pun ikut menghiasi. Lampu stadion nampak usang dan sulit untuk dinyalakan. Di luar stadion, banyak dedaunan yang jatuh di pelataran parkir, tak terurus. Terpampang jelas dari jalan utama menuju stadion, sebuah papan berdiri dengan bertuliskan "Telah Terjual" dan papan tanda kontruksi dengan tulisan "Proyek: Apartemen dengan Twin Tower".



Sebuah lapangan hijau kecil di pinggir kota pun tak terawat lagi. Rumput bagian gawang telah kembali ditumbuhi rumput liar dengan tinggi yang bervariasi. Tiang gawang pun nampaknya dapat roboh dengan terpaan angin kencang karena bambunya mulai tergerus oleh alam. Tak ada aktivitas yang berarti di dalam lapangan tersebut, kecuali seekor kerbau yang tengah menikmati rumput liar tersebut dan seorang anak gembalanya yang terlihat mengantuk.

Seorang bapak tua juga terdiam dalam kursinya. Istrinya tengah sibuk membungkus piala-piala usang milik suaminya tersebut. Tertulis di bagian bawah piala tersebut, "Pemain terbaik LIGINA Liga Dunhill 1995-1996". Jersey usang pun dibungkus rapi menggunakan koran, seperti siap dikirimkan ke tempat lain. Foto-foto Bapak tua itu bersama sebuah tim terlihat mulai dikeluarkan dari piguranya dan dimasukkan ke laci lemari di gudang rumahnya. Sepatu-sepatu untuk berlari di atas rumputnya juga sudah rusak dan akan dibuang di tempat sampah.

Gambaran di atas mungkin akan terjadi di Indonesia beberapa waktu ke depan. Dari ilustrasi di atas, ada sebuah kata kunci yang tidak disebutkan satu pun. Ya, SEPAKBOLA. Mungkin beberapa waktu mendatang, sepakbola sudah menghilang dari sela-sela kehidupan kita. Tidak ada teriakan, tidak ada kesedihan, tidak ada malam tanpa tidur, hanya karena satu alasan: menikmati bergulirnya sebuah bola sepak di lapangan hijau. Sepakbola mungkin lenyap dari Indonesia karena terlalu banyak polemik di negeri ini dan ,mungkin pada suatu titik nanti, titik nadir terendah (bahkan lebih rendah dari saat ini) terjadi seperti gambaran di atas.

Agak terlalu ekstrem mungkin gambaran ini, namun siapa yang mampu menjamin hal itu tidak terjadi? Konflik dua kubu sepakbola Indonesia, hilangnya kesadaran untuk menghargai hak pemain, lepasnya nyawa pemain karena keteledoran, turunnya peringkat FIFA secara drastis, dan kekalahan dari turnamen andalan adalah beberapa indikasi hal di atas mungkin saja terjadi. Orang jadi terlalu malas untuk sepakbola, karena tak kunjung mereda badai permasalahan yang terjadi. Ujung dari segala frustasi yang ada adalah: meninggalkan sepakbola. Terlalu sakit tentunya untuk membayangkan lebih jauh lagi.

Mari kita berdoa yang terbaik untuk sepakbola di negeri ini.

8 Dec 2012

Wawancara Kampret: City-United

Laga panas antara dua tim dari Manchester akan mewarnai EPL pekan ini. Kali ini, Manchester United menjadi tamu Manchester City di Stadion City of Manchester. Pertandingan ini tentunya menjadi pertandingan yang paling diantisipasi di EPL karena mereka adalah pemuncak tahta EPL sementara dengan United selangkah lebih maju. Siapakah yang akan menggerutu ketika pertandingan ini berakhir? Berikut wawancara kampret saya dengan beberapa punggawa kedua tim berikut dengan pelatihnya.

Courtesy: totalfootballmadness.com


Manchester City

Joe Hart: "Ane udah siap banget nih. Liat ga iklan Ane di produk soda yang ga perlu Ane sebutin "Big Cola"? Kesigapan Ane udah lebih dari itu. Persie bahkan bakal nyari di mana gawang City berada. Rooney bakal botak lagi karena mikir gimana cara ngegolin ke gawang City"

Kompany: "Kepala Ane udah siap menanduk segala masalah di pertandingan besok. Ane masih inget dulu kepala Ane yang bikin United nangis di tempat yang sama. Jangan harap Rooney bakal bisa gocek bola besok. Scholes juga bakal gantung sepatu seketika dengan kekalahan esok hari."

Toure: "Insya Allah, besok City bakal menang. Skor 6-1 bakal keulang. Ane udah tahajud semalem dan udah diaminin sama jemaah se-Manchester. Liat aje besok Ane bakal ngobrak-ngabrik Ferdinand secara halal. Asal ga lupa shalat shubuh besok."

Tevez: "Hihihi. Ane udah siap bentangin spanduk sablon Ane bertuliskan "R.I.P. Fergie" lagi. 7 gol di EPL akan nambah lagi besok. Ketajaman tendangan Ane akan setajam gigi Ane yang diasah pake silet. Ane emang anak durhaka, biarin aja."

Mancini: "Ane masih sedih sebenernya gagal ke fase knock-out Liga Champions, kangen lolos euy. Tapi ini saatnya berubah dan meraih kemenangan. Abis pertandingan ini, Fergie akan langsung pake kursi roda saking kagetnya sama performa City."

Manchester United

De Gea: "Joe Hart? Pemain bola kok minumnya soda. Ane nih model iklan "Firdaus Oil", makanya brewok Ane mantep. Liat aja besok, Aguero bakal terkencing-kencing frustasi susah cetak gol. Tevez? Silakan kembali meyusu ke ibunya."

Evans: "Semua orang kesel sama pertahanan United. Jadi salah Ane? Salah temen-temen Ane? Ane ga peduli! Tiap bola lewat akan Ane tendang sampe kempes. Vidic mungkin bisa turun besok, he'll fucking murder ya! "

Scholes: "City itu klub alay. Warna klubnya biru langit, tukang galau siang-siang. Ane gak pantes dikalahin ama tim alay lagi. Besok waktu bikin passing ciamik lagi seperti waktu dulu. Ane mengaku bujangan kepada setiap wanita, ternyata gol-golnya segudang."

Van Persie: "Anak kecil di hati ane berkata untuk jangan ragu nendang ke gawang di pertandingan besok. Besok pengen banget nambah 10 gol di EPL juga bagi United. Nastatic kan beknya? Pasti skill-nya mirip nastar doang. Rooney bakal ngasih sodoran assist yang asik pastinya."

Ferguson: "Patung ane udah ane mandiin kemarin dan kesaktiannya bakal muncul di saat melawan City. Siap-siap mewek buat fans City karena ane akan bikin tambah kesel karena kegagalan di Liga Champions. Noel Gallagher, siap-siap bikin lagu galau buat mereka, ya?"

Begitulah wawancara kampret saya dengan kedua tim. Semakin tidak sabar? Sabarlah, karena orang sabar itu disayang Tuhan. Mari kita menjadi saksi pertarungan kedua Manchester ini esok hari!

4 Dec 2012

Hati dalam Sepakbola

Diego Mendieta. Bagi sebagian orang, mungkin namanya tidak asing dan masih terbayang seorang pemain Valencia. Tapi, Diego Mendieta bukan Gaizka Mendieta. Diego Mendieta adalah pemain Persis Solo yang meninggal Senin malam karena penyakit tifus dan lever yang dideritanya. Bela sungkawa tentu terkirim kepada sanak famili dan kerabatnya yang mungkin berada di Paraguay. Sungguh berita duka ini cukup mengiris hati karena ternyata banyak isu yang berkembang meninggalnya Diego ini. Memang ini bukan kali pertama pemain yang merumput di Indonesia menginggal. Masih saya ingat juga momen di saat Jumadi Abdi, mantan gelandang tengah PKT Bontang pun harus berpulang karena memang risiko cedera dalam dunia sepakbola memang besar.

Namun, tentunya kurang etis jika kita harus membicarakan isu berbagai alasan meninggalnya Diego di saat berduka ini. Isu mengenai gaji, PSSI, dan sejawatnya sungguh tidak pantas untuk diangkat saat ini. Yang ingin saya angkat di sini adalah masalah solidaritas sepak bola. Aksi Pasoepati (pendukung fanatik Persis Solo) untuk menggalang dana bagi meninggalnya Diego patut diapresiasi karena memang itu lah sepakbola. Sepakbola memang untuk membangun hati sebagai manusia seutuhnya, bukan ambisi tanpa nurani.

Sejak dahulu kala, sepakbola selalu bisa memberi nafas terhadap solidaritas dan kemanusiaan. Momen kemanusiaan tersebut selalu disempatkan di luar lapangan atau bahkan di dalam lapangan. Sampai saat ini, kita masih sering melihat ada ban hitam di lengan baju pemain saat peringatan suatu insiden atau kecelakaan di berbagai belahan dunia. Masih terekam cukup baik di kepala saya, insiden Fabrice Muamba menjadi contoh sepakbola dunia sangat menjunjung tinggi kemanusiaan. Muamba yang kala itu berseragam Bolton Wanderers tengah bertanding melawan Tottenham Hotspurs dan kemudian tersungkur lemas tak berdaya. Setelah paramedis lapangan tidak mampu berbuat banyak, Muamba dilarikan ke rumah sakit. Owen Coyle sebagai pelatih Bolton dan Kevin Davies sebagai kapten Bolton ikut menemani Muamba di ambulans. Muamba akhirnya sembuh dan gantung sepatu. Howard Webb yang menjadi wasit di pertandingan itu mengambil langkah tepat untuk menghentikan pertandingan agar evakuasi bisa berlangsung.



Kita juga masih sering melihat momen mengheningkan cipta yang hadir sebelum pertandingan berlangsung. Belum lama ini, ada masa penggunaan pin berbentuk bunga berwarna merah pada sebagian besar ofisial tim di Premier League. Remembrance Day adalah alasan di balik semua itu, mengingat masa di mana tentara Commonwealth berjuang demi bangsanya dan gugur di medan perang. Nyaris hampir 100 tahun setelah momen itu, solidaritas dan kemanusiaan masih dijunjung untuk mengenang jasa pahlawan Inggris.

Sungguh, sepakbola seyogyanya adalah perayaan sebuah kemanusiaan. Bukan momen untuk mencari kejayaan semata, melainkan momen di mana manusia mengingatkan manusia lain sebagai manusia seutuhnya. Momen di mana nurani disatukan, bukan dipecah belah hanya untuk kemenangan pribadi. Tanpa solidaritas dan kemanusiaan, sepakbola hanya sebuah permainan kulit bundar tanpa arti.

2 Dec 2012

Kambing Hitam Merah Putih?

Semua penonton terdiam. Terpana melihat apa yang terjadi di layar kaca. Nyaris tidak ada suara-suara lain saat itu, yang ada hanya keheningan. Beberapa yang lain terlihat tertunduk, yang lain hanya mampu menatap kosong ke hadapan televisi. Air muka mereka pun seakan layu, seperti jatuh ke dalam sungai deras. Momen itu mungkin hanya berlangsung 2 detik. Selepas itu, mulailah suara-suara lain bermunculan secara acak.

Ya, anda pun tahu. Momen itu adalah momen tepat setelah Azamuddin Akil berhasil menceploskan bola ke gawang Wahyu Tri di menit ke-27 pada pertandingan semalam. Saya pun hanya mampu terdiam kala itu, tak mampu berkata. Hanya kesunyian yang terjadi di kepala saya. Sontak, saya pun langsung menggerutu mengapa harus terjadi gol itu. Namun, masih ada kepingan semangat untuk Indonesia yang kemudian semakin kandas setelah gol Mahali Jasuli tercipta.



Laga semalam sungguh menyayat hati saya cukup dalam. Bukan karena Malaysia bisa memenangkan pertandingan, melainkan tak ada hasrat bermain di tubuh pemain Indonesia. Hal yang repetitif dari tahun ke tahun pun terjadi: umpan pendek banyak salah, pemain belakang kedodoran, bermain umpan lambung tidak tepat, terlalu banyak membawa bola, pemain tengah tidak berhasil merebut bola, tendangan terlalu spekulatif, dan banyak permasalahan klasik lainnya. Saat itu pun saya sadar bahwa Indonesia belum ke mana-mana untuk mengubah dirinya sendiri menjadi lebih baik.

Kekuatan Malaysia semalam bisa dikatakan hanya satu: fokus mencuri kesempatan. Mereka bertahan secara disiplin kemudian berbalik menyerang secara cepat tanpa basa-basi. Dua gol semalam adalah contoh kegigihan permainan mereka itu. Selebihnya, mereka pun masih tidak terlalu jauh dari kita, kecuali masalah determinasi. Rajagopal berhasil mentransformasi kekalahan besar atas Singapura lalu menjadi cambuk semangat tim.

Sejak pertandingan Laos, Indonesia memang kurang terlihat trengginas. Laos yang semakin kuat malah menyulitkan Indonesia sehingga gagal memenuhi poin penuh dan kehilangan Endra Prasetya. Laga kontra Singapura sedikit lebih baik dan bernyawa, terbantu Singapura yang terlihat kurang bergairah. Terlalu besar memang harapan serta ekspektasi dari masyarakat yang terdorong oleh media yang terlalu jor-joran mengekspos Indonesia.

Mengulang sejarah di AFF Cup 2007 silam, Indonesia kembali gagal masuk ke semi-final. Siapa yang perlu disalahkan? Nil Maizar, ujar beliau sendiri. "Tak perlu kambing hitam, saya yang salah.", kata Nil Maizar setelah pertandingan melawan Malaysia. Saya tidak akan menyalahkan Nil Maizar atau Timnas Indonesia karena kita sama-sama tahu siapa yang lebih pantas disalahkan, bukan?


25 Nov 2012

Demi Memori 21 Tahun Lalu


Tulisan ini dicoret di Sabtu pagi yang mendung, sebelum pertandingan pertama timnas melawan Laos Minggu sore. Saat semua masih mungkin terjadi di turnamen paling akbar se-Asia Tenggara ini. Saat semua kemungkinan masih terbuka: jatuh terperosok, atau terbang mengangkasa,semua bisa saja.
Indonesia memang memiliki tradisi antiklimaks di turnamen sepakbola antar negara. Dengan predikat langganan runner-up sejak AFF Suzuki cup ini masih bernama Tiger cup, juga di Sea Games 2011 lalu saat perjuangan timnas U-23 terhenti di partai final, bahkan saat turnamen Sultan Hassanal Bolkiah di Brunei pun, kita kandas di partai puncak.

Jika ditarik mundur lebih jauh, banyak fenomena mewarnai perjalanan Indonesia selama medio akhir 90'an hingga saat ini, mulai dari gol salto ajaib Widodo Cahyono Putro di Piala Asia 1996, lalu gol yang lebih 'ajaib' dari Mursyid Effendi di Tiger Cup 1998, disusul dengan memori keperkasaan BP,Kurniawan,dan Boaz (saat jaya-jayanya di tahun 2002) menghempaskan Malaysia 4-1 di Bukit Jalil. Juga gol Elie Aiboy yang menumbuhkan asa kita bisa menahan imbang Arab Saudi di kandang sendiri dalam Piala Asia 2007,walau akhirnya kalah akibat gol sundulan di menit terakhir. Satu yang belum terjadi (lagi), adalah memenangi gelar juara turnamen sepakbola antar negara. Ricky Yacobi dkk. mungkin tidak sadar piala yang dibawanya setelah menjuarai Sea Games Manila 1991 akan menjadi barang langka hingga 20 tahun kemudian. Cerita ini membuat pencinta timnas tak ubahnya Liverpudlian yang bangga akan sejarah, walau belum pernah menjadi saksi mata euforianya.

Hari ini, 21 tahun sejak itu. Seharusnya kita tidak asing lagi dengan kata 'hampir', karena status 'hampir' bukan sekali dua kali menyertai sepak terjang Garuda di kancah Asia Tenggara. Namun, dunia pasti berputar, dan kita tak tahu kapan berada di atas. Teruslah berusaha, karena jika kita tidak ikut memutar roda ini saat di bawah, maka tidak etis rasanya jika kita menikmati euforia saat berada di atas. Jika kita tak bisa mendukung saat tim nasional Indonesia terpuruk, maka jangan pernah bersorak ketika Merah Putih berjaya.




Endra,Wahyu,Hamdi,Novan,Nopendi,Fachrudin,Wahyu,Valentino,Arthur,Geddi,Elie,Andik,Tonnie,Taufiq,Vendry,Rasyid,Okto,BP,Samsul,Rachmat,van Beukering,Irfan.


Semoga kalian juara,
Demi mengulang memori 21 tahun yang lalu.
Demi membungkam semua cibiran dan pesimisme.

24 Nov 2012

Timnas Indones(a)ia



Saya membawa kencang sepeda motor saya kala itu. Mungkin sampai kecepatan paling cepat yang pernah saya kemudikan saat itu. Hujan pun ikut mewarnai perjalanan saya pulang itu. Untuk apa saya rela menggantungkan nyawa pada lalu lintas pada saat itu? Menonton pertandingan timnas.

Menonton pertandingan timnas memang sebetulnya tidak bisa dijadikan hiburan semata. Dibanding menyaksikan aksi United di Liga Inggris, pertandingan timnas tentunya jauh lebih menjemukan atau kurang atraktif. Operan yang banyak salah, terlalu percaya diri bermain long pass, tendangan penyelesaian yang nyaris menembak bulan, atau blunder pertahanan sudah menjadi barang lumrah saat menyaksikan timnas. Namun, yang dikatakan diri saya lain, memilih untuk bertahan dengan kebosanan itu.

Saya pun tipikal orang yang sering mengoreksi permainan tim yang saya tonton. "Oper ke atas!" "Shoot!" "Ah ngapain dioper ke sana?" sudah menjadi umpatan terlaris saya setiap pertandingan yang saya tonton. Menonton timnas? Lebih sering lagi frekuensi umpatan saya sampai-sampai saya pernah dimarahi Ibu saya karena terlalu berisik. "Kamu teriak-teriak gitu gak bikin timnas jadi menang juga, kan?", ujar Ibu saya kala itu. Ya, saya diam sesaat dan kemudian tak kuasa membendung umpatan lain. Maafkan saya, Bu, namun memang ada aroma lain di saat saya menonton timnas.

Tak bisa dipungkiri bahwa kita memang lahir di negara yang minim prestasi persepakbolaan dan tidak bisa berharap banyak. Mengharapkan Indonesia bisa mengembangkan permainan seperti di Eropa bahkan seperti kebanyakan tim besar di Asia itu seperti berharap Nikita Willy bermain sinetron tanpa make up, nyaris mustahil, dan saya pun tak akan bicara tentang pengharapan yang terlalu jauh untuk saat ini.

Rasa memiliki. Mungkin itu alasan paling tepat mengapa saya begitu terobsesi dengan timnas. Saya tidak pernah merasa memiliki sebuah tim sepakbola selain kepada timnas secinta-cintanya saya dengan Manchester United. Saya merasa punya hak memiliki karena saya terlahir di sini dan saya merasa tim ini adalah tim paling realistis yang bisa saya miliki. Murahan mungkin memiliki tim sekelas timnas ini, namun saya tak pernah menyangsikannya.

Memiliki timnas seperti memilki sebuah mobil usang. Rodanya sudah berdecit, kaki-kaki pada asnya sudah tak kuat, gasnya sudah tidak menghentak, bunyinya sudah tak karuan, atapnya sudah bocor, wiper hujannya sudah tidak lancar, spionnya sudah berembun, kacanya sudah tidak jernih, radionya sudah tidak jelas, setirnya sudah berat, namun itu milik kita sendiri, kan?




23 Nov 2012

Percakapan Kampret: Roman-Di Matteo

21 November 2012.
Fulham, London.
Jam 21:43

Malam itu begitu dingin di sana. Riuh penonton yang hadir mulai surut dari pendengaran. Langkah kaki Di Matteo mulai menyusuri sebuah ruangan di Stadion Stamford Bridge. Langkah itu diisi dengan tundukan kepala dan ritme yang pelan, sepelan alunan lagu Claire De Lune. Akhirnya, dia tiba di depan ruang bertuliskan "Owner Room".

DM: Roberto Di Matteo
RA: Roman Abramovich

DM: *ketuk pintu*
RA: *kaget* *beresin tissue*  "Ya, masuk."
DM: "Aduh, maaf kalau saya ganggu nih."
RA: "Ya mau gimana lagi. Mata saya udah bengkak menangisi kekalahan ini."
DM: "Bapak tadi manggil saya?"
RA: "Iya, saya lagi pengen pijet nih. Tolong ya bagian betis agak kaku."
DM: .....
RA: "Ah kamu masih kaku aja kayak triplek. Saya cuma becanda."
DM: "Saya lagi ga bisa becanda, Pak."
RA: "Lah itu muka senyum terus dari dulu? Awas gigi kering kebanyakan senyum."
DM: ....
RA: "Oh ya, saya memang memanggil kamu tadi. Ada hal yang ingin saya bicarakan."
DM: "Soal karir saya kah?"
RA: "Bukan, soal botol vodka. Ya soal karir kamu lah di Chelsea. Kamu tahu salah kamu apa?"
DM: "Saya gagal membawa Chelsea ke babak knockout Champions League."
RA: "Kamu udah kalah dari Sir Fergie Simelekete itu dan West Brom. Kamu juga gagal menumbuhkan rambut dari dulu, bikin saya tambah kesel dan pingin jitak ndasmu."
DM: "Maafkan saya, Pak."
RA: "Kalau maaf berguna, buat apa ada polisi?"
DM: "I..Itu kan kata-kata Tau Ming Tse, Pak."
RA: "Lumayan nge-trend dulu Meteor Garden di Russia. Eh btw, kamu tau intinya pembicaraan ini apa?"
DM: "Saya salah dan bertanggung jawab atas kegagalan Chelsea ini."
RA: "Nah itu kamu sadar. Kamu sih nggak mainin Torres dari awal."
DM: "Saya pikir dia akan melempem lagi seperti kerupuk basi, Pak."
RA: "Kamu pikir saya beli 50 juta Euro cuma buat beli kerupuk? Gundulmu!"
DM: "Aduh maafkan saya, Pak. Torres bukan sekedar kerupuk."
RA: "Ah kebanyakan maaf kamu. Kalo di Russia, kamu udah jadi tutup botol vodka kalo gini terus."
DM: "Ampun, Pak. Saya siap menerima konsekuensi apapun."
RA: "Konsekuensinya: KAMU DIPECAT."
DM: "Ciyus?"
RA: "YA TUHAN! SAYA CINCANG JUGA KAMU!"
DM: "Ampun...ampuuun."
RA: "Saya udah nelpon juru masak dari Spanyol bertubuh gempal yang dulunya sempat kerja di kota Valencia, di kota Liverpool, dan di kota Milan buat gantiin kamu."
DM: "Apa? Buat apa, Pak?"
RA: "Buat ngasah pisau dapur pake gundulmu!"
DM: "AAAAAH!" *kabur*
RA: "HAHAHAHA! Aku adalah jin dari timur tengah. Eh, itu kan kata-kata di sinetron Jin dan Jun. Aku adalah raja minyak dari Medan. Eh, itu juga kata-kata di sinetron Gerhana. AKU ADALAH PEMECAT MANAJER DARI RUSIA. HAHAHAHA!"



Di Matteo kemudian beranjak pergi dari Stamford Bridge. Tak ada lagi senyuman ala Dr. Evil kala itu di stadion kebanggaan Chelsea itu dan akan tergantikan oleh tubuh gempal yang akan menjadi komando di sisi lapangan Chelsea.


22 Nov 2012

Jangan Menangis, Mancini.


Kontributor: Awan Haryo Pamungkas (@awanpamungkas)

Dua juara liga masing-masing kontinen bertemu yaitu Manchester City dan Real Madrid yang diadakan di Etihad Stadium. Untuk Madrid hanya membutuh kan hasil seri agar mengamankan tiket masuk ke fase selanjutnya, dan City? Kudu menang. Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur, hasil seri 1(Benzema) – 1(Aguero) yang diperoleh harus dimakan City dan harus ikhlas kaga lolos fase selanjutnya. 90 + 5 menit merupakan pertandingan yang cukup menarik untuk dibahas, ayo kita simak dari sudut susunan pemain kedua team, permainan, serta ‘ulah’ wasit yang minta digigit.

Menghadapi Madrid, City memasang Dzeko sebagai ujung tombak penyerangan. Entah apa yang dipikirkan Mancini. Dia seharusnya tau bahwa komunikasi antar bek-khususnya Pepe dan Ramos-tidak terlalu baik dalam clearence. Kedua bek tersebut tidak jarang untuk menahan bola (dibanding langsung tendang jauh) gocek dikit, lalu short pass, dan kemampuan short pass kedua bocah tersebut asem. Sering kali gagal atau tidak 100% akurat. Disini sebenarnya peluang terjadi, dibutuhkan striker dengan kecepatan dan kemampuan penjelajah lapangan, Tevez dari awal. Sementara itu Aguero menjadi SS, dia bahkan lebih seringkali mengisi posisi Dzeko.

Peluang City terbuka pada menit-menit pertama pertandingan dengan as i said berkat kedua bocah yang itu. Tapi membaiknya kondisi Coentrao sangat positif bagi pertahanan Madrid, dan ia juga bermain cukup baik, bertahan, maju kedepan, mundur kebelakang, belok kekanan, belok kekiri, dst.
Dilain sisi, Ronaldo dijaga ketat oleh Zabaleta yang mengantongi satu kartu kuning (padahal bukan wasit, tapi dia ngantongin) membuat pergerakan Ronaldo menjadi.....normal. Zabaleta gabisa jaga doi rupanya hahaha (makanya dapet kartu kuning).

Ayo kita serius....

Pergerakan Ronaldo cukup terhambat, beberapa attempt harus ia buat sendiri dibanding mendapat supply bola dari kawan. Sama halnya dengan Silva, sepertinya Mou melakukan double team terhadapnya dan efektif.

Ayo kita bahas yang lain...., karena topik sebelumnya udah ga serius.

WASIT KALI INI KATRO, KENAPA? KARENA RAMBUTNYA BELAH PINGGIR.

Bukan...., bukan itu.

Wasit udah kaya SI BUTA DARI GOA HANTU.............BEGO!

Total 6 kartu kuning, 1 kartu merah(Arbeloa). Beberapa (yang seharusnya)foul jatuh tepat didepan mata, tidak digubris. Ini berbicara tentang kelima wasit pertandingan, bukan satu orang, bukan Howard Webb.
Keputusan-keputusan GIANLUCA ROCCHI merugikan kedua team. Yang Ronaldo didorong lah, dua kali didorong, 22nya kaga dapet foul. Aneh lagi si Di maria, colek dikit jatoh, dapet foul, gimana City kaga gedeg. Dan masih banyak keputusan-keputusan wasit yang UNYU (UANYING LU) lainnya.

Menjelang akhir permainan, wasit terlihat memihak sebelah, lebih condong ke City , terlihat ia bertukar kaos dengan Aguero. Kematangan para pemain City menghadapi luar liga juga kurang. Beberapa pemain seperti Silva, Nasri, Aguero terpaksa mengeluarkan skill individu karena pergerakan mereka terhenti, dan pola penyerangan menemui titik buntu. Kesimpulannya, City coba lagi tahun depan, ubah gaya permainan yang disesuaikan dengan team yang akan dihadapi. Berbeda jika menghadapi team-team EPL, City bisa memakain satu formasi-gampangnya.  Beda halnya dengan tingkat UCL.




Naturalisasi Jelas Bukan Nasionalisasi


Televisi dan media massa lainnya kini kembali ramai memberitakan tentang tim nasional Indonesia. Ramai diberitakan baru-baru ini, bagaimana salah satu punggawa tim Merah Putih, yang juga kekasih Nikita Willy bersama 5 rekannya menghajar seorang lelaki hingga wajahnya tampak begitu mengenaskan, konon si korban sampai mengalami cacat sementara. Berita ini membuat kondisi persepakbolan negeri ini bagaikan 'sudah jatuh tertimpa tangga'. Di saat belum redanya pemberitaan tentang runyamnya dapur PSSI, berita selanjutnya yang hadir malah semakin memperburuk citra sepakbola nasional. Jutaan mata kembali tertuju kepada tim nasional. 2 tahun lalu, saat  hendak menjalani AFF Suzuki Cup 2010, pemberitaan yang ada tidak “semewah” ini, tidak ada semua perhatian seperti sekarang. Animo seluruh negeri perlahan mulai meningkat sejak keperkasaan 5-0 tim Garuda melumpukan Harimau Malaya di partai pembuka. (walau turnamen berakhir dengan antiklimaks di tempat yang sama, melawan musuh yang sama). Idealnya, semua perhatian sejak dini seperti saat ini menjadi stimulan positif bagi timnas menjelang bergulirnya AFF 2012. Sayangnya, semua perhatian ini bukanlah satu bentuk reaksi positif masyarakat terhadap timnas. Saat inilah teori tuan Newton yang terhormat tidak berlaku, ternyata reaksi tidak selalu berlawanan arah dengan aksi. Berita negatif dari persiapan AFF, respon negatif pula dari penikmat bola tanah air. Tanpa berita pemukulan di awal cerita pun, sudah banyak yang pesimis Sang Garuda dapat terbang tinggi di Malaysia nanti.



Berita tentang bek kiri ini, menarik kembali pemikiran saya tentang naturalisasi, karena yang bersangkutan adalah salah satu subjek proses tersebut di negeri ini. Sejak dahulu, selalu ada pertanyaan yang menghantui tentang naturalisasi. Menurut Undang-Undang No. 12 tahun 2006, secara singkat ada dua cara untuk dapat menaturalisasi seseorang menjadi warga negara Indonesia, pertama karena sudah bertempat tinggal di Indonesia minimal 5 tahun berturut-turut, dan menjalani hidup disini, hidup berdampingan dengan orang-orang dari beragam suku dengan adatnya masing-masing, mengenal norma dan budaya bangsa ini, juga dapat berbahasa Indonesia. Yang kedua karena memiliki keturunan orang Indonesia dari leluhurnya,-- di Undang-Undang tersebut, tercantum ayah atau ibu saja yang berdarah Indonesia, entah mengapa kenyatan di lapangan sedikit berbeda--, maka ia halal dinaturalisasi.

Dengan semakin marak dan mudahnya proses naturalisasi di sepakbola, jelas  mengundang banyak pertanyaan akan motif para pemain tersebut mau membela timnas dan hal-hal lain di luar lapangan yang terkait dengan Indonesia. Di titik inilah tanda tanya besar menghinggapi mereka. Dengan pengetahuan yang minim akan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan jika lagu kebangsaan Indonesia Raya saja tidak mampu mereka lafalkan, wajar muncul keraguan akan kebanggaan mereka bermain untuk tim nasional. Maka, apa yang bisa kita harapkan selain skill olah bola dari pemain naturalisasi?. Namun, demi kepak sayap sang Garuda, demi kibaran sang saka merah putih di partai final, dan demi bergaungnya Indonesia Raya di pelosok Asia, skill olah bola tidaklah cukup, kawan.

Selain perkara nasionalisme, norma dan budaya adalah satu perbedaan mencolok lainnya. Iklim sepakbola Eropa yang jauh lebih disiplin dengan pola kerja yang serba profesional diharapkan dapat membawa dampak positif untuk pemain lokal agar mampu mencontohnya. Seperti kita tahu, Indonesia sudah terlalu permisif untuk kasus indisipliner, hingga bahkan Boaz Solossa sudah melakukannya lebih dari sekali. Namun, alih-alih tertular sisi positifnya, justru dampak negatif yang dibawa dengan gaya hidup liberalisme barat yang menjangkit. Kehidupan malam memang sudah menghiasi dunia sepakbola sejak dahulu. Dan, harapan tinggal harapan, ternyata pemain naturalisasi pun tidak lebih disiplin dibanding pemain lokal. Glamornya gaya hidup pemain naturalisasi belum dikompensasi dengan teladan kedisiplinan yang sepadan.

Sebenarnya, solusi problematika sepakbola nasional sudah kita sama-sama tahu tanpa perlu terucap. Naturalisasi ini jelas bukan solusi utamanya karena hanya akan memberi dampak instan, apalagi untuk pemain di senja kariernya, El loco Gonzales telah memberikan dampaknya dua tahun lalu, kini sudah bukan masanya lagi. Terlebih sekarang, pemain naturalisasi kita lebih terkenal sebagai  bintang iklan shampoo Clear atau kekasih aktris sinetron dibanding sebagai pemain nasional. Bule-bule dan londo-londo ini lebih banyak menghadirkan gosip dibanding prestasi.

Hal ini jelas perlu dikaji ulang ketika kondisinya kini menomorsatukan pemain dengan sedikit darah Indonesia dan pengalaman PERNAH berman di liga Eropa, dibanding kualitas dari pelosok desa negeri ini yang dibangun dari tumpukan ketebatasan di gang-gang kumuh, berdebu beralas aspal, tanpa alas kaki dan gawang dari sandal. Namun, jangan pernah meragukan mimpi  dan kebanggaan mereka yang setinggi langit untuk negaranya. Semoga di AFF Suzuki Cup nanti, getaran bangga saat menyanyikan Indonesia Raya masih bisa saya,kamu,kita,dan semua pemain di lapangan rasakan. Bergemuruh di Malaysia dengan gegap gempita.

Karena ini bukan lagi sekedar menggocek dan mencetak gol, ya kan?

21 Nov 2012

KTBFFH, its either Blues or Bianconeri

Kontributor: Rean Affizar (@reanaffizar)



            Juventus membuka lebar peluang untuk lolos ke babak 16 besar liga champions, menjamu Chelsea di Juventus Stadium pada rabu (21/11/2012) dinihari WIB, Si Nyonya Tua menghajar sang juara bertahan dengan tiga gol tanpa balas. Ketiga gol tersebut dicetak oleh Fabio Quagliarella pada babak pertama, Arturo Vidal dan Sebastian Giovinco melengkapinya di babak kedua.
            Hasil ini menjadi sangat penting untuk Juve karena tinggal membutuhkan hasil seri di kandang Shaktar Donestk untuk memastikan lolos ke fase knockout, sedangkan posisi Chelsea berada diujung tanduk menyusul kekalahan ini, karena mereka harus berharap Juve kalah oleh Shaktar dan mereka menang melawan Nordsjaelland untuk lolos ke babak selanjutnya.
            Pertandingan ini sendiri diwarnai perubahan formasi yang dilakukan oleh pelatih Chelsea, Roberto Di Matteo, yang biasanya menampilkan 4-2-3-1, tadi malam Chelsea menurunkan formasi 4-3-3 false 9, seperti yang diperagakan Spanyol di Piala Eropa, saat menyerang dan menjadi 5-2-3 saat bertahan, dengan Juan Mata, Oscar, dan Eden Hazard menjadi tiga penyerang dalam formasi tersebut. Sedangkan Juventus menggunakan formasi andalannya 3-5-2 dengan menampilkan duet penyerang Quagliarella-Vucinic.
            Perubahan formasi yang dilakukan Chelsea bisa dibilang bunuh diri karena lini tengah mereka yang diisi tiga pemain kalah telak dengan lini tengah Juve yang diisi 5 pemain. Juventus begitu mendominasi permainan dan mendapatkan lebih banyak peluang mencetak gol. Gol pertama Juve di babak pertama dimulai saat tendangan Pirlo dari luar kotak penalti, dibelokkan arahnya oleh Quagliarella. Gol kedua Juve berawal dari akselerasi Asamoah di sayap kiri berhasil mengirimkan umpan silang yang mampu dimaanfaatkan dengan baik oleh Vidal.  
            Setelah tertinggal 2 gol, Di Matteo memasukkan Moses menggantikan Azpilicueta dan Torres yang menggantikan Mikel, yang berarti Chelsea memiliki 5 pemain bertipe menyerang untuk mengejar ketertinggalan mereka. Tetapi lini pertahanan Juve yang digalang Buffon, Barzagli, Bonucci, dan Chiellini tampil solid dan tidak memberikan kesempatan kepada Chelsea untuk membuat gol. Justru Chelsea yang bernafsu mengejar gol, terkena counter attack Juve pada menit-menit akhir pertandingan, umpan terobosan Vidal mampu dimanfaatkan dengan baik oleh Giovinco yang tinggal satu lawan satu dengan Petr Cech, dan membuat skor menjadi 3-0. Untuk Man of The Match, layak diberikan kepada Giorgio Chiellini yang tampil bak batu karang yang sangat sulit ditembus oleh para pemain Chelsea.
            Hasil ini semakin membuat kursi Roberto Di Matteo semakin panas karena terus mendapatkan hasil buruk semenjak dikalahkan Manchester United, apalagi sebelum kalah melawan Juve, mereka juga kalah oleh West Bromwich di ajang Premier League. Sedangkan untuk Juve, hasil ini semakin menegaskan kebangkitan mereka semenjak dikalahkan oleh Inter Milan. Semenjak kalah mereka menorehkan hasil 4-0 melawan Nordsjaelland, 6-1 melawan Percara, 0-0 melawan Lazio, dan 3-0 melawan Chelsea. Dan mereka bersiap untuk menghadapi Milan akhir pekan ini. Membuat 13 gol dan hanya kebobolan satu gol dalam empat pertandingan adalah hasil yang sangat impresif.
Sedangkan Chelsea akhir pekan ini akan menghadapi lawan berat yaitu pimpinan klasemen Manchester City. Menjadi tugas berat bagi Di Matteo untuk menaikkan mental anak asuhnya setelah rentetan hasil buruk. Bahkan kekalahan akhir pekan ini bisa membuat sang pelatih semakin dekat dengan pemecatan.
Terkait judul artikel ini, sebenarnya KTBFFH atau Keep The Blues Flag Flying High adalah slogan milik Chelsea yang diplesetkan oleh beberapa pendukung Juve di Twitter dengan mengganti Blues dengan Bianconeri yang merupakan julukan Juventus. Tetapi dengan hasil Juventus-Chelsea, dapat diterima bahwa tadi malam memang bendera hitam putih lah yang pantas berkibar dengan gagah.

Susunan Pemain:
Juventus: Buffon; Barzagli, Bonnuci, Chiellini, Lichsteiner (Caceres 67’), Vidal, Pirlo, Marchisio, Asamoah; Quagliarella (Pogba 89’), Vucinic (Giovinco 83’).

Chelsea: Cech; Azpilicueta (Moses 60’), David Luiz, Cahill, Ivanovic, A.Cole; Ramires, Mikel (Torres 70’); Hazard, Juan Mata, Oscar.

18 Nov 2012

Pemain Yang Bikin Sulit Move-On

Beberapa mantan pacar terlalu sulit dilupakan bagi seorang pria. Mereka, para mantan, memang terlalu memiliki pesona dan juga memori yang kuat di dalam batin pria-pria. Pria-pria itu pun merasa ingin kembali dengan mantan tersebut, namun keadaan seringkali tidak memudahkannya.

Begitupun juga dengan pria, beberapa klub nampaknya sulit untuk move-on dari pemain yang telah hengkang dari klub tersebut. Pemain tersebut begitu membekas di hati para fans sehingga mereka pun tak berhenti berharap seraya terus meneriakkan chant pemain tersebut kala masih merumput di klub kesayangan mereka. Berikut beberapa pemain yang sulit dilupakan oleh fans klub dalam dekade terakhir:

1. Cristiano Ronaldo



Pemain yang satu ini memang tak perlu diragukan lagi kualitasnya. Torehan 124 gol dari 113 pertandingan yang dilakoni bersama Los Galacticos menjadi torehan gol terbanyak juga tercepat di Madrid. Siapa yang merindukan CR7? Warga Stretford End alias fans Manchester United, pastinya. Dalam suatu wawancara, Sir Alex Ferguson bahkan masih berharap dia akan kembali ke Old Trafford walau kemungkinannya kecil.

2. Kaka



Kaka adalah salah satu fenomena yang pernah terjadi di San Siro. Dia sempat mencetak 70 gol selama 193 kali merumput dan mengangkat trofi Champions League dan Serie A bersama AC Milan. Mimpi Milan mempertahankan Kaka berakhir saat Real Madrid menggondolnya seharga 68.5 juta Euro. Sayang, karirnya di Madrid tidak sebersinar saat di Milan sehingga fans Milan berharap Kaka bisa kembali.

3. Robin van Persie



Salah satu pembelian paling fenomenal di musim ini adalah pembelian RvP dari Arsenal ke United. RvP yang musim lalu menjadi kapten The Gunners tentunya tak diprediksi hengkang secepat itu. Hal ini membuat shock kebanyakan fans Arsenal yang tidak sedikit memancing amarah kepada RvP. Tapi, tak mungkin mereka melupakan kontribusi RvP sebanyak 96 gol untuk Arsenal yang pasti dirindukan di Emirates Stadium.

4. Ronaldinho



Barcelona layaknya bangga pernah memiliki Ronaldinho. Dialah satu-satunya pemain yang mencetak 23 gol ketika umurnya masih 13 tahun dalam satu pertandingan. Sebanyak 69 gol telah ia sarangkan selama 5 tahun bersama Barcelona. Setelah Ronaldinho pindah ke Milan, Barcelona untungnya menemukan Messi yang kemudian menjadi pahlawan. Tapi, yang pasti Ronaldinho dirindukan warga Catalan.

5. Zlatan Ibrahimovic



Zlatan tak pernah singgah lebih dari 4 tahun pada sebuah klub saat karir seniornya. Dia telah mencetak lebih dari 220 gol sebelum ia pindah dari AC Milan ke Paris Saint-Germain. Sepakan yang berbuah gol seringkali terjadi begitu hebat dan selalu menimbulkan decak kagum. Banyak tentunya yang merindukan Zlatan, seperti Ajax, Juventus, Internazionale, Barcelona, dan tentunya AC Milan.

Diklat Kilat Indonesia

Semua pecinta bola Indonesia pasti mulai merindukan kiprah timnas setelah Piala AFF 2010 yang begitu fenomenal. Walau berakhir anti-klimaks, Indonesia tetap bersikukuh ingin bertengger di puncak turnamen sepakbola dua tahunan tersebut. Piala AFF 2012 yang tinggal dalam hitungan hari ini pun dipersiapkan oleh skuat timnas untuk bersaing ketat dengan negara se-Asia Tenggara.

Dua pertandingan uji coba beberapa hari lalu bisa kita jadikan bahan evaluasi untuk menyongsong Piala AFF 2012. Timor Leste dan Kamerun, dua tim yang bisa dibilang berbeda kelasnya di atas kertas, dijadikan kelinci percobaan untuk tim Nil Maizar ini. Muncul juga harapan baru yang dibawa dari negeri Eropa berupa 3 pemain naturalisasi, yaitu Tonnie Cussel, Jhonny van Beukering, dan Raphael Maitimo. Maitimo masih terkendala masalah administrasi sehingga urung bermain saat uji coba kemarin. Mereka bertiga pun malah terlihat unyu dengan berbagi foto keakraban di social media.

Di pertandingan melawan Timor Leste, Indonesia terlihat masih mencari pola permainan mereka. Beberapa pemain sebenarnya menunjukkan permainan yang cukup baik, seperti Irfan Bachdim. Nampaknya Bachdim mulai sadar jika dia terlalu banyak menjadi model iklan, dia akan meredup permainannya sehingga dia mulai jarang muncul di layar kaca dan kemudian bermain cukup apik sebagai second striker di belakang BP. Bachdim bahkan sering track-back yang malah lebih tepat disebut ball winning striker atau striker pengangkut air. Winger saat itu, Okto dan Ellie, masih belum maksimal dalam memberikan kontribusi dalam tim. Pos belakang pun masih sering tercecer sehingga mudah digempur serangan lawan. Tonnie Cussel yang harusnya bermain sebagai ball winning midfielder masih belum padu sehingga beberapa long pass masih gagal. Namun, van Beukering bisa menyumbang assist kepada BP sehingga Indonesia menang tipis 1-0 dari Timor Leste walau badannya saja seperti habis memenangkan voucher gratis makan di McD selama sebulan.

Melawan Kamerun, formasi yang diterapkan berbeda saat melawan Timor Leste. van Beukering menjadi starter sebagai post-play striker, Okto dan Andik menjadi winger, dan Bachdim masih konsisten sebagai second striker dengan track back yang baik. Masih sulit rasanya mengatakan winger kita bermain dengan baik karena masih banyak peluang yang terbuang. Pos tengah rasanya lebih aman setelah Taufik hadir dan Cussel mulai membaik performanya walau masih sering kehilangan bola. BP dan Ellie yang masuk pada babak kedua tidak memberi pengaruh signifikan pada permainan secara umum. Lini belakang pun sering kecolongan offside, beruntung bola masih enggan bersarang di gawang kita. Namun, yang paling menyelamatkan Indonesia dari kekalahan adalah performa duo kiper, Endra dan Wahyu, yang berhasil menahan gempuran Kamerun sehingga pertandingan berakhir seri tanpa gol.

Pekerjaan rumah terberat Nil Maizar adalah mulai menentukan formasi dan komposisi yang tepat untuk Piala AFF 2012. Praktis hanya Okto, Bachdim, dan Bambang, yang pernah mencicipi aroma persaingan di Piala AFF 2010 sehingga sebagian besar tim masih bisa dibilang minim jam terbang. Jumlah pemain yang dibawa pun terbatas karena alasan ini-itu yang untuk menjelaskannya perlu satu rim kertas folio bergaris. Pemain naturalisasi pun tidak bisa selalu menjadi kartu as kita karena mereka pun masih mencoba mencari ritme permainan dan ritme lagu kebangsaan kita pula. Kita tinggal berharap Indonesia menunjukkan yang terbaik di Piala AFF 2012 kali ini. Ayo Garuda!

17 Nov 2012

Wawancara Kampret: Arsenal - Spurs

North London Derby selalu berlangsung dalam tensi tinggi. Arsenal dan Spurs masih saling berebut posisi aman di klasemen sementara EPL. Pekan ini, mereka akan beradu sengit di Emirates Stadium. Kita simak wawancara kampret saya dengan pelatih Arsenal dan Spurs.



Pelatih Arsenal: Arsene Wenger

Pewawancara Kampret: PK
Arsene Wenger: AW

PK: "Apa kabar, Pak Wenger?"
AW: "Kabar baik, Dik."
PK: "Bapak kenal saya nggak?"
AW: "Ya nggak kenal."
PK: "Oh gitu ya. Langsung saya nanya aja, Pak. Siapkah dengan North London Derby pekan ini?"
AW: "Siap banget, Dik. Dalam 16 pertandingan di sini, 15 pertandingan di antaranya kita tidak terkalahkan. Biasanya juga saya sudah pesan tiket duluan dari jauh-jauh hari buat siap-siap."
PK: "Loh memangnya Bapak mau duduk di tribun? Bapak kan Pelatih Arsenal."
AW: "Oh maaf saya salah. Maaf, Dik."
PK: "Ah Bapak ini. Saya dengar Theo Walcott cidera. Anda siap dengan penggantinya?"
AW: "Pendengaran anda betul sekali, cedera ringan makanya tidak dibawa saat Inggris dibantai Swedia. Saya sebenarnya cukup siap apabila dia benar-benar cedera, saya siap main."
PK: "Bapak ini kenapa sih? Jawabnya suka keterlaluan deh. Ga suka."
AW: "Ya maaf, Dik."
PK: "Tim Bapak masih terjerembab di posisi 8 sementara, apakah Bapak siap untuk menjadi juara musim ini?
AW: "Saya masih yakin Arsenal bisa juara musim ini. Musim masih panjang, kan? Giroud jugas sudah mulai ga mandul lagi setelah saya suntik hormon."
PK: "Wah hati-hati salah tusuk, Pak. Anyway, bagaimana hubungan Bapak dengan Andre Villas Boas (AVB) akhir-akhir ini?"
AW: "Hubungan kami baik-baik saja. Rivalitas itu biasa lah. Kadang malem-malem saya nelpon, cuma dia paling sering nutup telpon duluan karen ketiduran."
PK: "Halah, Pak. Mbok ya dijawab yang bener kenapa sih? Ya cukup sekian deh, Pak. Matur nuwun."
AW: "Sami-sami, Dik."

Pelatih Spurs: Andre Villas Boas

Pewawancara Kampret: PK
Andre Villas Boas: AVB

PK: "Ape kareba, Pak AVB?"
AVB: "Ngomong apa sih kamu, Mas?"
PK: "Maaf, saya agak berbau kesukuan, Pak. Senang sekali bertemu dengan Bapak."
AVB: "Ya iyalah. Saya ini pelatih termodis di tanah Britania."
PK: "Ya gimana Bapak ajalah. Siap dengan North London Derby pekan ini?"
AVB: "Spurs dalam kondisi puncak. Kami cuma selisih 1 posisi dengan Arsenal pekan ini. Saya tidak mau diselip posisinya oleh Recommended Seller itu."
PK: "Recommended Seller? Maksud Bapak, Arsene Wenger? Kok bisa gitu?"
AVB: "Ya memang. Banyak anak-anak saya dari lapak Arsenal. Adebayor, Gallas, semua bisa barang top. Terima kasih, Arsenal."
PK: "Oh begitu ya, kayak kilinik Tong Fong aja. Masih merasa kehilangan dengan cideranya Dembele?"
AVB: "Iya, Dik. Dembele sering memberi kontribusi yang hebat dalam tim. Dia juga sering motongin rumput White Hart Lane kalo lagi libur."
PK: "Kasian amat. Kayak gak ada yang lain aja, Pak. Defoe siap cetak gol lagi gak nih, Pak?"
AVB: "Dia nyatakan siap. Bale siap bantu supply bola dan cetak gol kalau perlu. Adebayor juga boleh mencetak gol buat pertunjukan malam ini. Saya nanti tinggal joget di pinggir lapangan."
PK: "Alah Bapak ini ngawur aja sih. Ya sudah, saya pulang dulu, Pak. Terima kasih."
AVB: "Sama-sama, Dik. Jangan lupa sendalnya ketuker."

Terlihat dari wawancara kampret di atas, persaingan pertandingan North London Derby malam ini akan berlangsung panas. Siapakah yang akan menjadi pemenang? Kita nantikan malam ini!