27 Jan 2013

Don't Look Back In Wenger

Arsene Wenger. Semua orang yang mendengarnya pun tahu bila Arsene Wenger adalah pelatih Arsenal. Lihat saja nama depannya yang silabelnya sejenis dengan Arsenal. Bisa jadi ayah dari Arsene Wenger memang mendoakan untuk menjadi pelatih Arsenal. Siapa tahu. Namun, polemik Arsene Wenger mulai mencuat keras dan membahana pada tahun ini. Tentu saja, permasalahannya tentang performa Arsenal yang sering dibilang carut-marut dan inkonsisten. Masalah ini bukan muncul dalam tahun ini saja melainkan tahun-tahun sebelumnya sejak Arsenal tidak lagi menghiasi lemari pialanya dari tahun 2005 saat mereka menjuarai FA Cup.



Beberapa gooners bahkan sudah mulai gerah dan mulai berteriak "Wenger out!" dari hari ke hari. Mereka sudah cukup lelah dengan berbagai kemunduran yang terjadi pada tim. Namun, Wenger bukan saja permasalahan utama dari hilangnya taji Arsenal. Keuangan Arsenal juga menjadi batu ganjalan selama ini. Hal ini dapat terlihat dari gairah transfer pemain dari Arsenal yang begitu dingin. Dinginnya Arsenal pada musim transfer bisa disetarakan dengan wanita frigid. Belum lagi, isu loyalitas yang merebak di Arsenal setelah banyak bintang mereka pergi tak kembali.

Sejak musim panas tahun lalu, Arsenal "hanya" berhasil merekrut sekitar 3 pemain saja, seperti Oliver Giroud, Santi Cazorla, dan Lukas Podolski. Mereka tentu saja bukan pemain ecek-ecek bahkan peran mereka cukup krusial dalam mempertahankan posisi Arsenal saat ini. Hanya saja, Arsenal benar-benar melakukan seperti di peribahasa "Besar pasak daripada tiang". Alih-alih menambah pemain, Arsenal secara kontinu kehilangan pemain sejak jendela transfer musim panas lalu. Arsenal kehilangan sekitar 13 pemain first-team yang ditransfer permanen dan dipinjamkan termasuk Alex Song, Emmanuel Frimpong, dan tentunya Robin Van Persie.

Kehilangan beberapa pemain kunci ini lantas tidak membuat Arsenal menjadi aktif dalam jendela transfer musim dingin ini. Arsene Wenger baru-baru ini malah mengutarakan bahwa fans Arsenal jangan terlalu berharap Arsenal akan merekrut talenta baru ke Emirates Stadium. Wenger memang bukan PHP namun bukan berarti dia harus diam saat Arsenal di tengah kegentingan ini. Bisa jadi, target Arsenal musim ini hanyalah lolos ke fase penyisihan Champions League apabila performa baik tak kunjung berjumpa.

Penurunan gairah Arsenal di bursa transfer ditengarai disebabkan oleh manajemen Arsenal yang kurang baik. Walau mungkin dari segi finansial terlihat sehat, kehilangan Pat Rice sebagai asisten manajer Wenger cukup berimplikasi pada perubahan kebutuhan tim. Belum lagi, kebijakan pihak board Arsenal yang disebut-sebut lebih condong mengambil keuntungan finansial semata dibanding membangun tim dengan matang seperti menaikan harga tiket penonton Emirates Stadium hingga mencapai 92 poundsterling atau sekitar Rp 1.400.000. Uang sebanyak itu tentunya lebih baik untuk dijadikan cicilan motor.

Semua pendukung Arsenal bahkan penikmat Liga Inggris tentunya rindu Arsenal bisa menjadi tim yang trengginas seperti tahun 2003-2004 dengan rekor unbeaten mereka. Menyalahkan Wenger bisa jadi benar, namun tidak absolut. Lalu siapa yang perlu disalahkan? Siapa tahu.

14 Jan 2013

A Neighbor from Hell

Hal paling menyebalkan dalam hidup bertetangga adalah masalah tenggang rasa. Selalu ada masa-masa ketika tetangga terlalu asik mendengarkan lagu kesukaannya dengan keras dan berulang kali, ketika tetangga terlalu mudah mengeluarkan suara lantangnya di malam hari, atau hanya dengan sering keluar masuk pintunya yang telah rapuh. Begitulah hidup bertetangga, tenggang rasa memang diperlukan.

Kota Liverpool adalah salah satu kota yang memiliki tetangga yang mungkin paling menyebalkan. Merebut torehan gelar 18 kali Liga Inggris adalah salah satu capaian yang mengesalkan bagi Kota Liverpool. Ya, kota Manchester hanyalah berjarak 33,6 miles atau sekitar 46 menit dari kota Liverpool di jam yang padat. Kekesalan itu pun bertambah dengan kekalahan di Old Trafford semalam.

Semalam, Liverpool datang ke kandang Manchester United dengan kekuatan penuh. Minus Nuri Sahin yang kembali ke Dortmund, Liverpool menurunkan skuat terbaik mereka dengan tentunya kehadiran Stewart Downing. Kubu Manchester United terlihat lebih jumawa walau dengan skuat yang apa adanya tanpa kehadiran Wazza. Saya sendiri agak ragu pertandingan ini akan berakhir dengan kemenangan bagi United. Hal yang tidak terulang di pertandingan sebelumnya adalah Suarez yang akhirnya menyalami Evra layaknya halal bihalal setelah salat idul fitri.

Di awal pertandingan, United terlihat superior dan Liverpool seakan mempersilakan mereka untuk seperti itu. Ditambah lagi, Liverpool terlalu santai seperti sedang main kucing-kucingan bola. Welbeck yang mungkin malas dianggap sebagai kucing beraksi sesekali merebut bola walau penyelesaian akhir kurang baik. Peran Lucas Leiva sebagai gelandang pengangkut air kali ini kurang terlihat dominan. Kekuatan United mulai terasa ketika Old Trafford bergemuruh meneriakkan "Oooh Robin Van Persie" pada menit ke-19 usai sepakan santainya menemui jala gawang Reina.

Setelah gol itu, Liverpool semakin kelimpungan mencari arah serangan. Suarez terlihat berusaha sendiri tanpa ada sodoran dari Glen Johnson atau Downing. Kesulitan ini menambah ketika Suarez lebih sering track back sehingga terlalu jauh untuk menuju gawang. Praktis, Suarez seperti katak dalam tempurung yang dikurung teman-temannya sendiri. United pun lebih bermain dominan dan banyak peluang tercipta, termasuk backheel Van Persie yang mungkin sempat diajarkan di Emirates Stadium.

Di babak kedua, Sturridge masuk menggantikan Lucas yang sedang. Raut wajah yang kesal di babak pertama setidaknya jadi pemicu Sturridge lebih termotivasi. Namun, belum juga Sturridge melahap bola, United kembali mencetak gol lewat sudulan Evra-Vidic seperti sundulan bersama ala Tsubasa. Evra menyundul dan Vidic mengarahkan bola, mirip bukan? Setelah gol tersebut, Liverpool seperti tersengat lebah, mereka pun akhirnya bangkit menyerang.

Sturridge dalam laga debut resminya di Liga Inggris bersama Merseyside Red akhirnya mampu menceploskan bola ke dalam gawang De Gea setelah tendangan Gerrard ditepis kurang sempurna. Selebrasi dengan 5 jari adalah momen yang penuh keyakinan untuk Liverpool. Selepas itu, Liverpool menjadi aktif dalam menyerang dan United meladeninya dengan bermain buruk. Valencia yang datang menggantikan Young yang cedera masih sulit menemukan di mana arti nomer punggung 7 dan mengapa dia tidak menggantinya ke nomer punggung 69.

Beruntungnya United masih dapat memenangkan pertandingan dengan skor 2-1. Jose Mourinho yang datang ke Old Trafford pun sepertinya tahu dirinya akan dipecat atau tidak di laga Februari nanti. Fergie, yang di akhir pertandingan hanya memandangi jam tangan, cukup bersyukur bisa memenangkan pertandingan walau Vidic dan Young yang dibopong ke luar lapangan. Akhirnya, tetangga dari neraka ini kembali mengesalkan tetangganya tersebut.

4 Jan 2013

Balotelli Tidak Jatuh Jauh dari Mancini



Jika Anda adalah penggemar anjing dan sering menyaksikan channel National Geographic, Anda tentunya tak akan asing dengan program "Dog Whisperer". Program ini menyuguhkan aksi fenomenal dari seorang pecinta dan pengendali anjing bernama Cesar Milan dalam menghadapi anjing-anjing yang dinilai kurang beretika keanjingan. Cesar seringkali dipanggil door-to-door untuk menyelesaikan berbagai masalah tersebut. Bagaikan sulap, Cesar pun mampu mengubah sifat anjing yang bermasalah itu menjadi lebih punya attitude.

Jika Anda adalah orang yang sedang mengisi liburan Anda kali ini dengan membaca kabar sepakbola terkini, Anda pastinya akan tahu tentang konflik antara Mancini dengan Balotelli di Carrington Training Ground beberapa waktu lalu. Beberapa sumber bahkan mengutip bahwa perselisihan itu harus dilerai oleh beberapa ofisial klub Manchester City. Dalam beberapa foto, Mancini memang terlihat meladeni The-Who-Always-Me dengan wajah yang berang.

Korelasi yang ingin saya utarakan dengan program "Dog Whisperer" dengan kasus Mancini-Balotelli ini sebenarnya sederhana. Kalau boleh diasosiasikan, Mancini adalah Cesar Milan dan tentunya Balotelli adalah anjing yang salah arah ini. Cesar Milan sering mengatakan dirinya adalah leader of pack atau pimpinan dari kawanan. Begitupun dengan Mancini, City tentunya adalah kawanan yang perlu diarahkan di dalam lapangan maupun di luar lapangan. Tanpa menyandingkan Balotelli dengan anjing secara harfiah, Balotelli bukan satu-satunya orang yang perlu disalahkan karena sebetulnya Mancini pun bisa dibilang salah.

Mengapa demikian? Mancini dan Balotelli pun berkewarganegaraan sama, pernah sama-sama mengecap lapangan San Siro, dan datang ke City dengan selang waktu yang tidak berjauhan. Agak aneh memang bila Mancini tidak bisa mengendalikan Balo bila mereka datang dengan berbagai latar belakang yang sama. Manajemen Mancini dalam bertindak pun bisa dipersalahkan karena nyatanya Balo terus melakukan kontroversi selama di City. November lalu, Mancini bahkan mengisyaratkan bahwa Balo tak akan pergi dari Etihad Stadium. Namun, terulang lagi insiden yang memakan banyak halaman di forum-forum sepakbola internasional.

Tak ada buah yang jatuh jauh dari pohonnya. Buah adalah Balotelli dan Pohon adalah Mancini. You can blame both if you want to.