23 Sept 2012

Fans Karbitan dan Merconan

Saya ingat ketika dulu saat masih berumur sekitar 7 tahun, saya dibelikan sebuah jersey oleh ayah saya. Ya, jersey Manchester United. Tepatnya tahun 1998, saya mulai menggemari sepak bola dan tentunya mulai menyukai Manchester United di saat United berhasil merengkuh treble winner. Awalnya, pemain yang saya tahu hanya si tampan bertalenta yang tidak lain dan tidak bukan adalah David Robert Beckham.

Courtesy: fansonline.net
Saya bisa mengakui saya bukan orang yang die-hard fans sejak dahulu kala. Terkadang, saya pun terlelap sebelum pertandingan United bahkan di tengah pertandingan. Saya juga bukan fans yang hafal betul seluruh tahun-tahun kemegahan United dan pemain legenda. Sungguh bukan fans sejati seperti yang biasa orang katakan, bukan? Tapi apalah arti fans sejati?

Tak ada yang tahu hati seseorang melainkan dirinya sendiri dan Tuhan. Bukan tidak mungkin ada orang yang senang mengoleksi jersey sebuah tim namun jarang menyaksikan tim itu bermain. Bukan tidak mungkin ada orang yang tak pernah nge-tweet tentang tim kesukaan mereka, namun selalu tahu seluk beluk tim tersebut. Selalu ada kemungkinan.

Istilah-istilah untuk fans pun muncul. Fans karbitan, sebutan untuk fans yang disebut hanya sekedar ikut-ikutan mendukung saja. Fans City paling sering dianggap demikian karena umurnya yang baru seumur jagung sebagai pesaing juara EPL. Ada juga yang bilang bahwa fans karbitan adalah fans yang tak pernah benar-benar tahu tim kesayangan mereka sampai pemain yang ditransfer keluar oleh tim mereka pun mereka tak tahu. Tapi, sekali lagi, siapa yang tahu?

Tak ada pembakuan arti fans sejati atau fans karbitan. Mengutip perkataan Pangeran Siahaan, kita hanya akan dilihat sebagai "Asian's Market" oleh klub kesayangan kita tentunya. Yang jelas, tak perlu ada klasifikasi fans karena semua fans hanya perlu tidak terlalu sensitif dan provokatif tentunya terhadap fans lain.