Soccer Tsar
We are not the star. We are Tsar, in soccer ways.
20 May 2014
Ryan Giggs: Pelari Dingin Manchester United
"If we can play like that every week, we'll get some of level consistency." - Sir Alex Ferguson
Jika kalimat Sir Alex Ferguson itu diinterpretasikan menjadi seorang pemain sepakbola, Ryan Giggs adalah sosok yang paling tepat.
Saya ingat menonton pertandingan Manchester United ketika masih duduk di sekolah dasar. Hanya beberapa pemain United yang saya benar-benar hafal terutama David Beckham. Eric Cantona saja tidak melekat di benak saja. Namun, ada satu orang yang sangat berbeda bagi saya: Ryan Giggs.
7 Feb 2014
Melatih Pelatih Berlatih
Tak banyak yang tahu bahwa menjadi seorang pelatih membutuhkan lebih dari sekadar sepasang bola mata dan sebuah otak untuk terus melaju. Formulasi untuk menjadi seorang pelatih yang komplet jauh dari kata-kata yang sederhana. Cara untuk mewujudkannya? Menjadi pelatih sebenarnya.
Selama periode bulan November 2013 hingga Januari 2014, sela hidup saya diisi dengan salah satu pekerjaan yang tidak pernah saya pikir sebelumnya, yaitu pelatih tim sepakbola. Tim sepakbola ini memang bukan tim professional, ini hanyalah tim sepakbola yang mewakili himpunan mahasiswa jurusan saya. Dalam rangka menghadapi suatu kompetisi sepakbola paling akbar di kampus saya, tim ini kemudian terbentuk dan menjadi bagian dari hidup saya selama periode waktu tersebut.
22 Dec 2013
Merangkul Garuda Muda

Photo credit: Liputan6.com
Kalau memang Indonesia adalah negara yang besar, mengapa kita tidak besar karena prestasi?
Sekali lagi, Tim Nasional Indonesia U-23 kembali gagal merengkuh medali emas di ajang SEA Games 2013 setelah di ajang yang sama pada tahun 2011 mengalami nasib serupa. Final yang anti-klimaks itu ditandai dengan gol kemenangan Thailand U-23 oleh Sarawut di menit ke-22. Dengan hasil tersebut, Thailand melengkapi medali emas cabang sepakbola wanita sambil menikmati medali emas sepakbola ke-14 sepanjang sejarah SEA Games.
Seraya berpikir keras mengapa kita terantuk lagi di partai puncak, kita harus paham bahwa Indonesia U-23 tidak benar-benar matang dalam berbagai aspek. Segala sesuatunya layaknya buah yang terlalu cepat dipetik sehingga masih belum pas di sana-sini. Persiapan terlalu mepet, tim yang serba seadanya, dan mental bertanding yang belum kuat menjadi salah tiga contoh mengapa kita masih terasa mentah di kancah SEA Games tahun ini. Sulit rasanya bila kita bilang kita sepatutnya layak menjadi jawara.
Indonesia U-23 melakukan persiapan yang tidak proporsional selayaknya tim yang akan bertanding di kompetisi cukup besar. MNC Cup pada November 2013 praktis hanya uji coba yang dilakukan walau berisi dengan tim yang relatif di bawah Indonesia. Sebelumnya, mereka sempat beruji tanding ke China dan Korea Utara, namun rasanya kurang cocok untuk dijadikan ajang pelajaran karena kondisi cuaca dan klub pun serba tidak cocok. Alhasil, pelatihan yang dicapai pun tidak maksimal sehingga menghasilkan performa yang kurang apik di SEA Games 2013.
Skuat tim yang ada pun belum bisa dibilang paling oke. Banyak pos yang nampaknya mulai kedodoran dengan kehilangan pemain dengan potensi besar. Posisi kiper, misalnya, hanya diisi oleh Kurnia Mega dan Andritany, yang sangat riskan apabila ada salah satu yang cedera. Ditambah lagi, kematangan kemampuan pemain yang dibawa pun masih penuh tanya jika dibandingkan dengan skuat pada tahun 2011 di ajang yang sama. Kemampuan beberapa pemain yang sempat bermain di SEA Games 2011 bahkan banyak yang menurun seperti Andik Vermansyah dan Egi Melgiansyah walau memang sempat dibekap cedera.
Namun, dari segala aspek, mental bertanding memang menjadi batu sandungan utama. Terlihat dari performa bertanding selama SEA Games tahun ini, banyak attitude pemain yang masih terlalu reaktif dan kurang mawas diri sehingga berimbas pada performa yang tidak maksimal. Kartu kuning banyak muncul karena emosi yang terlalu meledak-ledak. Percaya atau tidak, ini berimbas pada performa permainan yang akan menurun dengan lemahnya mental bertanding punggawa Indonesia U-23. Tugas besar bagi PSSI dan pelatih untuk mengajarkan hal tersebut.
Hasilnya dari semua faktor tersebut adalah Indonesia berhasil menuju final dengan selisih gol yang nilainya minus dengan mencetak 4 gol dan kebobolan 5 gol. Meskipun terseok-seok dengan payah di fase grup, Indonesia mampu membalikkan ketidakmampuannya dengan berlaga di fase knockout dan berujung di final. Catatan penting yang perlu digarisbawahi adalah kita berhasil menang dari Malaysia U-23 setelah final yang tragis di SEA Games 2011.
Walaupun demikian, Indonesia U-23 perlu diapresiasi karena memang tidak mudah menggondol pulang medali perak sekalipun. Pemain memang tidak layak untuk disalahkan, salahkan organisasi kita yang tidak mampu melahirkan pemain dengan kualitas tinggi. Terlebih untuk yang selalu membandingkan Indonesia U-23 dengan Indonesia U-19, perbandingan itu tidak cukup relevan untuk dijadikan patokan kualitas untuk tetap bermimpi juara. Tugas selanjutnya adalah mampu berlaga di ajang Asian Games 2014. Sambil menuju ke sana, merangkul pemain Indonesia U-23 adalah hal yang bisa kita lakukan.
12 Oct 2013
Meredam Asa Untuk Garuda Jaya
Malam ini, Tim Nasional Indonesia U-19 akan menjamu Tim Nasional Korea Selatan U-19 di ajang kualifikasi Piala Asia U-19 2014. Setelah berhasil menang dua kali beberapa hari sebelumnya, hari ini jadi partai pamungkas untuk Indonesia lolos ke babak final Piala Asia U-19 tahun depan. Walaupun fokus akan lebih tertuju pada pertandingan tersebut, coba kita palingkan diri sejenak dari segala harapan yang tertumpu di pundak tiap punggawa Garuda Jaya, sebutan untuk Indonesia U-19. Kita terlalu berharap pada mereka.
Ini bukan perihal rasa pesimis. Ini juga bukan soal nasionalisme. Jauh dari dua hal tersebut, ini masalah bagaimana kita bereaksi terhadap performa yang ditunjukkan oleh Garuda Jaya. Permainan Garuda Jaya bisa dibilang menjadi oase bagi penikmat sepakbola nasional yang kehausan akan prestasi timnas kita. Piala AFF U-19 2013 telah kita berhasil kita angkat dan alasannya karena performa Indonesia U-19 yang brilian. Setelah 22 tahun tanpa gelar apapun, akhirnya sebuah piala bisa kembali menghiasi lemari piala kita.
Namun, nampaknya kita terlalu terlarut dengan banyak harapan pada Indonesia U-19. Kita terlalu terbuai seakan menggeliat dalam ekstasi karena euforia kemenangan di Piala AFF U-19 lalu. Ingat, ini adalah Indonesia U-19, usia pemainnya rata-rata di bawah 19 tahun. Perjalanan karir mereka akan masih menempuh banyak tantangan baik internal atau eksternal. Harapan yang terlalu tinggi akan merenggut sebagian besar potensi yang menjanjikan ini untuk bersinar lagi di pentas yang lebih tinggi.
Jangan bicara soal potensi Indonesia U-19 yang baru muncul sekarang. Beberapa tahun lalu, banyak pemain didikan Primavera seperti Kurniawan Dwi Yulianto atau Kurnia Sandy nampak menjanjikan dan akan mendongkrak prestasi Indonesia di kancah internasional. Namun, karena minimnya dukungan dari pemerintah dan PSSI, pemain-pemain tersebut meredup hingga tak mampu menggendong piala untuk Indonesia. Hal yang seperti ini yang perlu dihindari sedari dini.
Mengapa sekarang lebih berbahaya dari saat tim Primavera beberapa tahun silam? Perhatian. Perhatian dari banyak pihak terlalu memberi beban kepada Garuda Jaya dan perhatian itu sayangnya masih ada yang jauh dari kepentingan sepakbola. Walau PSSI masih cukup membatasi manuver dari pihak-pihak yang mencoba menarik keuntungan dari gemerlap Indonesia U-19, kepercayaan kita terhadap PSSI masih dalam tanda tanya. Mampukah PSSI menahan lebih lama?
Dukungan, bukan perhatian yang menyilaukan, tentu dibutuhkan dan harus berkaitan dengan sepakbola dan kesejahteraan pemain. Pemain kita harus dijaga bahkan dari sistem PSSI yang tidak mendidik. Jujur saja, liga lokal tidak memberi banyak pelajaran padahal banyak waktu dari pemain muda kita yang akan hilang karena itu. Oleh karena itu, pemain muda ini harus didorong untuk menimba ilmu di tempat lain seraya terus memperbaiki sistem liga kita yang masih bobrok.
Meredam asa bukan berarti meninggalkan Indonesia U-19. Meredam asa artinya mencoba memberikan perhatian yang sewajarnya, memberi dukungan secara tepat, dan terus mendoakan Garuda Jaya agar berkembang secara kontinu. Meredam asa dengan pas.
13 Sept 2013
Preview Manchester United vs Crystal Palace
Preview Manchester United vs Crystal Palace

Manchester
United akan mencicipi pergulatan dengan klub Promosi, Crystal Palace, pekan ini
di Old Trafford. Setelah melewati 2 laga berat, United berharap mendulang poin
penuh dari Crystal Palace yang baru meraih poin penuh saat melawan Sunderland.
Manchester United masih tercecer di peringkat 7 sedangkan Crystal Palace bercokol
di peringkat 14 di klasemen sementara Premier League.
Skuat
United masih harus ditinggalkan oleh sejumlah pemain seperti Wayne Rooney yang
kepalanya terkoyak, Rafael Da Silva yang belum sembuh, dan Phil Jones yang
dibekap cedera kaki. Alhasil, pos bek kanan mungkin akan diisi oleh Chris
Smalling yang baru pulih. Pos dari Wayne Rooney mungkin akan diisi oleh Danny
Welbeck yang bermain baik saat berkostum Timnas Inggris pekan lalu.
Semua
mata akan tertuju pada Marouane Felaini yang mungkin akan melakukan debutnya
saat melawan Palace. Felaini yang baru direkrut ini bisa mengisi lubang di
posisi gelandang bertahan United yang sering keropos. Walaupun begitu, Felaini
mungkin akan memulai debutnya dari bangku cadangan karena Cleverly dan Carrick
masih fit dan bermain cukup baik di 3 laga awal.
Palace
juga memiliki skuat yang pincang bahkan lebih parah. 7 pemain dipastikan absen
termasuk Jonathan Parr dan Jerome Thomas masih diragukan untuk tampil karena
cedera. Ian Holloway kemungkinan akan tetap memainkan winning squad kala melawan Sunderland dengan Marouane Chamakh
sebagai penyerang tunggal. Dwight Gayle yang mencetak gol saat melawan Sunderland
akan bermain di sayap kanan dan Danny Gabbidon bermain di pos bek tengah.
Crystal
Palace juga mungkin akan bertemu guardian
angel mereka musim lalu, Wilfried Zaha, yang musim ini telah berkostum
Setan Merah walau kemungkinannya kecil. Zaha memang belum melakukan debutnya di
laga Premier League untuk Manchester United musim ini di luar performanya yang
gemilang di laga pra-musim. Mampukah David Moyes memberi kemenangan pertama di
Old Trafford musim ini atau terjerembab lebih dalam?
Prakiraan
skuat Mancheser United: De Gea; Smalling, Ferdinand, Vidic, Evra; Carrick,
Cleverly, Young, Valencia, Welbeck; van Persie.
Prakiraan
skuat Crystal Palace: Speroni; Ward, Delaney, Gabbidon, Moxey, Puncheon,
Campana, Jedinak, Dikgacoi, Gayle, Chamakh.
Prediksi
Skor: Manchester United 2 – 0 Crystal Palace
Subscribe to:
Posts (Atom)


