22 Dec 2013

Merangkul Garuda Muda


Photo credit: Liputan6.com


Kalau memang Indonesia adalah negara yang besar, mengapa kita tidak besar karena prestasi?

Sekali lagi, Tim Nasional Indonesia U-23 kembali gagal merengkuh medali emas di ajang SEA Games 2013 setelah di ajang yang sama pada tahun 2011 mengalami nasib serupa. Final yang anti-klimaks itu ditandai dengan gol kemenangan Thailand U-23 oleh Sarawut di menit ke-22. Dengan hasil tersebut, Thailand melengkapi medali emas cabang sepakbola wanita sambil menikmati medali emas sepakbola ke-14 sepanjang sejarah SEA Games.

Seraya berpikir keras mengapa kita terantuk lagi di partai puncak, kita harus paham bahwa Indonesia U-23 tidak benar-benar matang dalam berbagai aspek. Segala sesuatunya layaknya buah yang terlalu cepat dipetik sehingga masih belum pas di sana-sini. Persiapan terlalu mepet, tim yang serba seadanya, dan mental bertanding yang belum kuat menjadi salah tiga contoh mengapa kita masih terasa mentah di kancah SEA Games tahun ini. Sulit rasanya bila kita bilang kita sepatutnya layak menjadi jawara.

Indonesia U-23 melakukan persiapan yang tidak proporsional selayaknya tim yang akan bertanding di kompetisi cukup besar. MNC Cup pada November 2013 praktis hanya uji coba yang dilakukan walau berisi dengan tim yang relatif di bawah Indonesia. Sebelumnya, mereka sempat beruji tanding ke China dan Korea Utara, namun rasanya kurang cocok untuk dijadikan ajang pelajaran karena kondisi cuaca dan klub pun serba tidak cocok. Alhasil, pelatihan yang dicapai pun tidak maksimal sehingga menghasilkan performa yang kurang apik di SEA Games 2013.

Skuat tim yang ada pun belum bisa dibilang paling oke. Banyak pos yang nampaknya mulai kedodoran dengan kehilangan pemain dengan potensi besar. Posisi kiper, misalnya, hanya diisi oleh Kurnia Mega dan Andritany, yang sangat riskan apabila ada salah satu yang cedera. Ditambah lagi, kematangan kemampuan pemain yang dibawa pun masih penuh tanya jika dibandingkan dengan skuat pada tahun 2011 di ajang yang sama. Kemampuan beberapa pemain yang sempat bermain di SEA Games 2011 bahkan banyak yang menurun seperti Andik Vermansyah dan Egi Melgiansyah walau memang sempat dibekap cedera.

Namun, dari segala aspek, mental bertanding memang menjadi batu sandungan utama. Terlihat dari performa bertanding selama SEA Games tahun ini, banyak attitude pemain yang masih terlalu reaktif dan kurang mawas diri sehingga berimbas pada performa yang tidak maksimal. Kartu kuning banyak muncul karena emosi yang terlalu meledak-ledak. Percaya atau tidak, ini berimbas pada performa permainan yang akan menurun dengan lemahnya mental bertanding punggawa Indonesia U-23. Tugas besar bagi PSSI dan pelatih untuk mengajarkan hal tersebut.

Hasilnya dari semua faktor tersebut adalah Indonesia berhasil menuju final dengan selisih gol yang nilainya minus dengan mencetak 4 gol dan kebobolan 5 gol. Meskipun terseok-seok dengan payah di fase grup, Indonesia mampu membalikkan ketidakmampuannya dengan berlaga di fase knockout dan berujung di final. Catatan penting yang perlu digarisbawahi adalah kita berhasil menang dari Malaysia U-23 setelah final yang tragis di SEA Games 2011.

Walaupun demikian, Indonesia U-23 perlu diapresiasi karena memang tidak mudah menggondol pulang medali perak sekalipun. Pemain memang tidak layak untuk disalahkan, salahkan organisasi kita yang tidak mampu melahirkan pemain dengan kualitas tinggi. Terlebih untuk yang selalu membandingkan Indonesia U-23 dengan Indonesia U-19, perbandingan itu tidak cukup relevan untuk dijadikan patokan kualitas untuk tetap bermimpi juara. Tugas selanjutnya adalah mampu berlaga di ajang Asian Games 2014. Sambil menuju ke sana, merangkul pemain Indonesia U-23 adalah hal yang bisa kita lakukan.