Televisi dan media massa
lainnya kini kembali ramai memberitakan tentang tim nasional Indonesia. Ramai diberitakan baru-baru ini, bagaimana salah satu punggawa tim
Merah Putih, yang juga kekasih
Nikita Willy bersama 5 rekannya menghajar seorang lelaki hingga wajahnya tampak begitu mengenaskan, konon si korban sampai mengalami cacat sementara. Berita ini membuat
kondisi persepakbolan negeri ini bagaikan 'sudah jatuh tertimpa tangga'. Di
saat belum redanya pemberitaan tentang
runyamnya dapur PSSI,
berita selanjutnya yang hadir malah semakin memperburuk citra
sepakbola nasional. Jutaan mata kembali tertuju
kepada tim nasional. 2 tahun lalu, saat hendak menjalani AFF Suzuki Cup 2010,
pemberitaan yang
ada tidak “semewah” ini,
tidak ada semua perhatian seperti sekarang.
Animo seluruh
negeri perlahan mulai meningkat
sejak keperkasaan 5-0 tim Garuda melumpukan Harimau Malaya di partai pembuka. (walau turnamen berakhir dengan antiklimaks di tempat yang sama, melawan musuh
yang sama). Idealnya,
semua perhatian sejak dini seperti saat ini menjadi stimulan positif bagi timnas menjelang bergulirnya AFF 2012. Sayangnya,
semua perhatian ini bukanlah satu bentuk
reaksi positif masyarakat terhadap timnas. Saat inilah teori tuan Newton yang terhormat tidak berlaku, ternyata reaksi tidak selalu berlawanan arah dengan aksi. Berita
negatif dari persiapan AFF, respon negatif pula dari penikmat bola tanah air.
Tanpa berita pemukulan di awal cerita pun, sudah banyak yang pesimis Sang Garuda dapat
terbang tinggi di Malaysia nanti.
Berita tentang bek kiri ini,
menarik kembali pemikiran saya tentang naturalisasi, karena yang bersangkutan
adalah salah satu subjek proses tersebut di negeri ini. Sejak dahulu,
selalu ada pertanyaan yang menghantui tentang naturalisasi. Menurut Undang-Undang No. 12 tahun 2006, secara singkat ada dua cara untuk dapat menaturalisasi
seseorang menjadi warga
negara Indonesia, pertama karena sudah bertempat tinggal di Indonesia minimal 5 tahun berturut-turut, dan menjalani hidup disini, hidup berdampingan dengan orang-orang dari beragam suku
dengan adatnya masing-masing, mengenal norma dan budaya bangsa ini, juga dapat
berbahasa Indonesia. Yang
kedua karena memiliki keturunan orang Indonesia dari
leluhurnya,-- di
Undang-Undang tersebut, tercantum ayah atau ibu saja yang berdarah Indonesia,
entah mengapa kenyatan di lapangan sedikit berbeda--, maka ia halal dinaturalisasi.
Dengan semakin marak dan
mudahnya proses naturalisasi di sepakbola, jelas mengundang
banyak pertanyaan akan motif para pemain tersebut
mau membela timnas dan hal-hal lain di luar lapangan
yang terkait dengan Indonesia. Di titik inilah tanda tanya besar menghinggapi mereka. Dengan pengetahuan yang minim
akan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan jika
lagu kebangsaan Indonesia Raya saja tidak mampu mereka lafalkan, wajar muncul keraguan akan kebanggaan mereka bermain
untuk tim nasional. Maka, apa
yang bisa kita harapkan selain skill olah bola dari pemain
naturalisasi?. Namun, demi
kepak sayap sang Garuda, demi kibaran sang saka merah putih di partai final, dan demi bergaungnya Indonesia Raya di pelosok Asia, skill olah bola tidaklah
cukup, kawan.
Selain perkara
nasionalisme, norma dan budaya adalah satu perbedaan mencolok lainnya. Iklim sepakbola Eropa
yang jauh lebih disiplin dengan pola kerja yang serba profesional diharapkan dapat membawa dampak positif untuk pemain lokal agar
mampu mencontohnya. Seperti kita tahu, Indonesia
sudah terlalu permisif untuk kasus indisipliner, hingga bahkan Boaz Solossa sudah
melakukannya lebih dari sekali. Namun, alih-alih tertular sisi positifnya, justru
dampak negatif yang dibawa dengan gaya hidup liberalisme barat yang menjangkit. Kehidupan malam memang sudah menghiasi dunia sepakbola sejak dahulu. Dan, harapan tinggal
harapan, ternyata pemain naturalisasi pun tidak lebih disiplin dibanding pemain
lokal. Glamornya gaya
hidup pemain naturalisasi belum dikompensasi dengan teladan kedisiplinan yang
sepadan.
Sebenarnya, solusi problematika sepakbola nasional sudah kita sama-sama
tahu tanpa perlu terucap. Naturalisasi ini jelas bukan solusi utamanya karena
hanya akan memberi dampak instan, apalagi untuk pemain di senja kariernya, El loco Gonzales telah memberikan dampaknya
dua tahun lalu, kini sudah bukan masanya lagi. Terlebih sekarang, pemain naturalisasi
kita lebih terkenal sebagai bintang
iklan shampoo Clear atau kekasih aktris sinetron dibanding sebagai pemain nasional.
Bule-bule dan londo-londo ini lebih banyak menghadirkan gosip dibanding prestasi.
Hal ini jelas perlu dikaji
ulang ketika kondisinya kini menomorsatukan pemain dengan sedikit darah
Indonesia dan pengalaman PERNAH berman
di liga Eropa, dibanding kualitas dari pelosok desa negeri ini yang dibangun
dari tumpukan ketebatasan di gang-gang kumuh, berdebu beralas aspal, tanpa alas
kaki dan gawang dari sandal. Namun, jangan pernah meragukan mimpi dan kebanggaan mereka yang setinggi langit untuk
negaranya. Semoga di AFF Suzuki Cup nanti, getaran bangga saat menyanyikan Indonesia Raya masih bisa saya,kamu,kita,dan semua pemain di
lapangan rasakan. Bergemuruh
di Malaysia dengan gegap gempita.
Karena ini bukan lagi sekedar menggocek dan mencetak gol, ya kan?
