22 Nov 2012

Naturalisasi Jelas Bukan Nasionalisasi


Televisi dan media massa lainnya kini kembali ramai memberitakan tentang tim nasional Indonesia. Ramai diberitakan baru-baru ini, bagaimana salah satu punggawa tim Merah Putih, yang juga kekasih Nikita Willy bersama 5 rekannya menghajar seorang lelaki hingga wajahnya tampak begitu mengenaskan, konon si korban sampai mengalami cacat sementara. Berita ini membuat kondisi persepakbolan negeri ini bagaikan 'sudah jatuh tertimpa tangga'. Di saat belum redanya pemberitaan tentang runyamnya dapur PSSI, berita selanjutnya yang hadir malah semakin memperburuk citra sepakbola nasional. Jutaan mata kembali tertuju kepada tim nasional. 2 tahun lalu, saat  hendak menjalani AFF Suzuki Cup 2010, pemberitaan yang ada tidak “semewah” ini, tidak ada semua perhatian seperti sekarang. Animo seluruh negeri perlahan mulai meningkat sejak keperkasaan 5-0 tim Garuda melumpukan Harimau Malaya di partai pembuka. (walau turnamen berakhir dengan antiklimaks di tempat yang sama, melawan musuh yang sama). Idealnya, semua perhatian sejak dini seperti saat ini menjadi stimulan positif bagi timnas menjelang bergulirnya AFF 2012. Sayangnya, semua perhatian ini bukanlah satu bentuk reaksi positif masyarakat terhadap timnas. Saat inilah teori tuan Newton yang terhormat tidak berlaku, ternyata reaksi tidak selalu berlawanan arah dengan aksi. Berita negatif dari persiapan AFF, respon negatif pula dari penikmat bola tanah air. Tanpa berita pemukulan di awal cerita pun, sudah banyak yang pesimis Sang Garuda dapat terbang tinggi di Malaysia nanti.



Berita tentang bek kiri ini, menarik kembali pemikiran saya tentang naturalisasi, karena yang bersangkutan adalah salah satu subjek proses tersebut di negeri ini. Sejak dahulu, selalu ada pertanyaan yang menghantui tentang naturalisasi. Menurut Undang-Undang No. 12 tahun 2006, secara singkat ada dua cara untuk dapat menaturalisasi seseorang menjadi warga negara Indonesia, pertama karena sudah bertempat tinggal di Indonesia minimal 5 tahun berturut-turut, dan menjalani hidup disini, hidup berdampingan dengan orang-orang dari beragam suku dengan adatnya masing-masing, mengenal norma dan budaya bangsa ini, juga dapat berbahasa Indonesia. Yang kedua karena memiliki keturunan orang Indonesia dari leluhurnya,-- di Undang-Undang tersebut, tercantum ayah atau ibu saja yang berdarah Indonesia, entah mengapa kenyatan di lapangan sedikit berbeda--, maka ia halal dinaturalisasi.

Dengan semakin marak dan mudahnya proses naturalisasi di sepakbola, jelas  mengundang banyak pertanyaan akan motif para pemain tersebut mau membela timnas dan hal-hal lain di luar lapangan yang terkait dengan Indonesia. Di titik inilah tanda tanya besar menghinggapi mereka. Dengan pengetahuan yang minim akan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan jika lagu kebangsaan Indonesia Raya saja tidak mampu mereka lafalkan, wajar muncul keraguan akan kebanggaan mereka bermain untuk tim nasional. Maka, apa yang bisa kita harapkan selain skill olah bola dari pemain naturalisasi?. Namun, demi kepak sayap sang Garuda, demi kibaran sang saka merah putih di partai final, dan demi bergaungnya Indonesia Raya di pelosok Asia, skill olah bola tidaklah cukup, kawan.

Selain perkara nasionalisme, norma dan budaya adalah satu perbedaan mencolok lainnya. Iklim sepakbola Eropa yang jauh lebih disiplin dengan pola kerja yang serba profesional diharapkan dapat membawa dampak positif untuk pemain lokal agar mampu mencontohnya. Seperti kita tahu, Indonesia sudah terlalu permisif untuk kasus indisipliner, hingga bahkan Boaz Solossa sudah melakukannya lebih dari sekali. Namun, alih-alih tertular sisi positifnya, justru dampak negatif yang dibawa dengan gaya hidup liberalisme barat yang menjangkit. Kehidupan malam memang sudah menghiasi dunia sepakbola sejak dahulu. Dan, harapan tinggal harapan, ternyata pemain naturalisasi pun tidak lebih disiplin dibanding pemain lokal. Glamornya gaya hidup pemain naturalisasi belum dikompensasi dengan teladan kedisiplinan yang sepadan.

Sebenarnya, solusi problematika sepakbola nasional sudah kita sama-sama tahu tanpa perlu terucap. Naturalisasi ini jelas bukan solusi utamanya karena hanya akan memberi dampak instan, apalagi untuk pemain di senja kariernya, El loco Gonzales telah memberikan dampaknya dua tahun lalu, kini sudah bukan masanya lagi. Terlebih sekarang, pemain naturalisasi kita lebih terkenal sebagai  bintang iklan shampoo Clear atau kekasih aktris sinetron dibanding sebagai pemain nasional. Bule-bule dan londo-londo ini lebih banyak menghadirkan gosip dibanding prestasi.

Hal ini jelas perlu dikaji ulang ketika kondisinya kini menomorsatukan pemain dengan sedikit darah Indonesia dan pengalaman PERNAH berman di liga Eropa, dibanding kualitas dari pelosok desa negeri ini yang dibangun dari tumpukan ketebatasan di gang-gang kumuh, berdebu beralas aspal, tanpa alas kaki dan gawang dari sandal. Namun, jangan pernah meragukan mimpi  dan kebanggaan mereka yang setinggi langit untuk negaranya. Semoga di AFF Suzuki Cup nanti, getaran bangga saat menyanyikan Indonesia Raya masih bisa saya,kamu,kita,dan semua pemain di lapangan rasakan. Bergemuruh di Malaysia dengan gegap gempita.

Karena ini bukan lagi sekedar menggocek dan mencetak gol, ya kan?