22 Dec 2013

Merangkul Garuda Muda


Photo credit: Liputan6.com


Kalau memang Indonesia adalah negara yang besar, mengapa kita tidak besar karena prestasi?

Sekali lagi, Tim Nasional Indonesia U-23 kembali gagal merengkuh medali emas di ajang SEA Games 2013 setelah di ajang yang sama pada tahun 2011 mengalami nasib serupa. Final yang anti-klimaks itu ditandai dengan gol kemenangan Thailand U-23 oleh Sarawut di menit ke-22. Dengan hasil tersebut, Thailand melengkapi medali emas cabang sepakbola wanita sambil menikmati medali emas sepakbola ke-14 sepanjang sejarah SEA Games.

Seraya berpikir keras mengapa kita terantuk lagi di partai puncak, kita harus paham bahwa Indonesia U-23 tidak benar-benar matang dalam berbagai aspek. Segala sesuatunya layaknya buah yang terlalu cepat dipetik sehingga masih belum pas di sana-sini. Persiapan terlalu mepet, tim yang serba seadanya, dan mental bertanding yang belum kuat menjadi salah tiga contoh mengapa kita masih terasa mentah di kancah SEA Games tahun ini. Sulit rasanya bila kita bilang kita sepatutnya layak menjadi jawara.

Indonesia U-23 melakukan persiapan yang tidak proporsional selayaknya tim yang akan bertanding di kompetisi cukup besar. MNC Cup pada November 2013 praktis hanya uji coba yang dilakukan walau berisi dengan tim yang relatif di bawah Indonesia. Sebelumnya, mereka sempat beruji tanding ke China dan Korea Utara, namun rasanya kurang cocok untuk dijadikan ajang pelajaran karena kondisi cuaca dan klub pun serba tidak cocok. Alhasil, pelatihan yang dicapai pun tidak maksimal sehingga menghasilkan performa yang kurang apik di SEA Games 2013.

Skuat tim yang ada pun belum bisa dibilang paling oke. Banyak pos yang nampaknya mulai kedodoran dengan kehilangan pemain dengan potensi besar. Posisi kiper, misalnya, hanya diisi oleh Kurnia Mega dan Andritany, yang sangat riskan apabila ada salah satu yang cedera. Ditambah lagi, kematangan kemampuan pemain yang dibawa pun masih penuh tanya jika dibandingkan dengan skuat pada tahun 2011 di ajang yang sama. Kemampuan beberapa pemain yang sempat bermain di SEA Games 2011 bahkan banyak yang menurun seperti Andik Vermansyah dan Egi Melgiansyah walau memang sempat dibekap cedera.

Namun, dari segala aspek, mental bertanding memang menjadi batu sandungan utama. Terlihat dari performa bertanding selama SEA Games tahun ini, banyak attitude pemain yang masih terlalu reaktif dan kurang mawas diri sehingga berimbas pada performa yang tidak maksimal. Kartu kuning banyak muncul karena emosi yang terlalu meledak-ledak. Percaya atau tidak, ini berimbas pada performa permainan yang akan menurun dengan lemahnya mental bertanding punggawa Indonesia U-23. Tugas besar bagi PSSI dan pelatih untuk mengajarkan hal tersebut.

Hasilnya dari semua faktor tersebut adalah Indonesia berhasil menuju final dengan selisih gol yang nilainya minus dengan mencetak 4 gol dan kebobolan 5 gol. Meskipun terseok-seok dengan payah di fase grup, Indonesia mampu membalikkan ketidakmampuannya dengan berlaga di fase knockout dan berujung di final. Catatan penting yang perlu digarisbawahi adalah kita berhasil menang dari Malaysia U-23 setelah final yang tragis di SEA Games 2011.

Walaupun demikian, Indonesia U-23 perlu diapresiasi karena memang tidak mudah menggondol pulang medali perak sekalipun. Pemain memang tidak layak untuk disalahkan, salahkan organisasi kita yang tidak mampu melahirkan pemain dengan kualitas tinggi. Terlebih untuk yang selalu membandingkan Indonesia U-23 dengan Indonesia U-19, perbandingan itu tidak cukup relevan untuk dijadikan patokan kualitas untuk tetap bermimpi juara. Tugas selanjutnya adalah mampu berlaga di ajang Asian Games 2014. Sambil menuju ke sana, merangkul pemain Indonesia U-23 adalah hal yang bisa kita lakukan.

12 Oct 2013

Meredam Asa Untuk Garuda Jaya



Malam ini, Tim Nasional Indonesia U-19 akan menjamu Tim Nasional Korea Selatan U-19 di ajang kualifikasi Piala Asia U-19 2014. Setelah berhasil menang dua kali beberapa hari sebelumnya, hari ini jadi partai pamungkas untuk Indonesia lolos ke babak final Piala Asia U-19 tahun depan. Walaupun fokus akan lebih tertuju pada pertandingan tersebut, coba kita palingkan diri sejenak dari segala harapan yang tertumpu di pundak tiap punggawa Garuda Jaya, sebutan untuk Indonesia U-19. Kita terlalu berharap pada mereka.

Ini bukan perihal rasa pesimis. Ini juga bukan soal nasionalisme. Jauh dari dua hal tersebut, ini masalah bagaimana kita bereaksi terhadap performa yang ditunjukkan oleh Garuda Jaya. Permainan Garuda Jaya bisa dibilang menjadi oase bagi penikmat sepakbola nasional yang kehausan akan prestasi timnas kita. Piala AFF U-19 2013 telah kita berhasil kita angkat dan alasannya karena performa Indonesia U-19 yang brilian. Setelah 22 tahun tanpa gelar apapun, akhirnya sebuah piala bisa kembali menghiasi lemari piala kita.

Namun, nampaknya kita terlalu terlarut dengan banyak harapan pada Indonesia U-19. Kita terlalu terbuai seakan menggeliat dalam ekstasi karena euforia kemenangan di Piala AFF U-19 lalu. Ingat, ini adalah Indonesia U-19, usia pemainnya rata-rata di bawah 19 tahun. Perjalanan karir mereka akan masih menempuh banyak tantangan baik internal atau eksternal. Harapan yang terlalu tinggi akan merenggut sebagian besar potensi yang menjanjikan ini untuk bersinar lagi di pentas yang lebih tinggi.

Jangan bicara soal potensi Indonesia U-19 yang baru muncul sekarang. Beberapa tahun lalu, banyak pemain didikan Primavera seperti Kurniawan Dwi Yulianto atau Kurnia Sandy nampak menjanjikan dan akan mendongkrak prestasi Indonesia di kancah internasional. Namun, karena minimnya dukungan dari pemerintah dan PSSI, pemain-pemain tersebut meredup hingga tak mampu menggendong piala untuk Indonesia. Hal yang seperti ini yang perlu dihindari sedari dini.

Mengapa sekarang lebih berbahaya dari saat tim Primavera beberapa tahun silam? Perhatian. Perhatian dari banyak pihak terlalu memberi beban kepada Garuda Jaya dan perhatian itu sayangnya masih ada yang jauh dari kepentingan sepakbola. Walau PSSI masih cukup membatasi manuver dari pihak-pihak yang mencoba menarik keuntungan dari gemerlap Indonesia U-19, kepercayaan kita terhadap PSSI masih dalam tanda tanya. Mampukah PSSI menahan lebih lama?

Dukungan, bukan perhatian yang menyilaukan, tentu dibutuhkan dan harus berkaitan dengan sepakbola dan kesejahteraan pemain. Pemain kita harus dijaga bahkan dari sistem PSSI yang tidak mendidik. Jujur saja, liga lokal tidak memberi banyak pelajaran padahal banyak waktu dari pemain muda kita yang akan hilang karena itu. Oleh karena itu, pemain muda ini harus didorong untuk menimba ilmu di tempat lain seraya terus memperbaiki sistem liga kita yang masih bobrok.

Meredam asa bukan berarti meninggalkan Indonesia U-19. Meredam asa artinya mencoba memberikan perhatian yang sewajarnya, memberi dukungan secara tepat, dan terus mendoakan Garuda Jaya agar berkembang secara kontinu. Meredam asa dengan pas.

13 Sept 2013

Preview Manchester United vs Crystal Palace

Preview Manchester United vs Crystal Palace

 

Manchester United akan mencicipi pergulatan dengan klub Promosi, Crystal Palace, pekan ini di Old Trafford. Setelah melewati 2 laga berat, United berharap mendulang poin penuh dari Crystal Palace yang baru meraih poin penuh saat melawan Sunderland. Manchester United masih tercecer di peringkat 7 sedangkan Crystal Palace bercokol di peringkat 14 di klasemen sementara Premier League.

Skuat United masih harus ditinggalkan oleh sejumlah pemain seperti Wayne Rooney yang kepalanya terkoyak, Rafael Da Silva yang belum sembuh, dan Phil Jones yang dibekap cedera kaki. Alhasil, pos bek kanan mungkin akan diisi oleh Chris Smalling yang baru pulih. Pos dari Wayne Rooney mungkin akan diisi oleh Danny Welbeck yang bermain baik saat berkostum Timnas Inggris pekan lalu.

Semua mata akan tertuju pada Marouane Felaini yang mungkin akan melakukan debutnya saat melawan Palace. Felaini yang baru direkrut ini bisa mengisi lubang di posisi gelandang bertahan United yang sering keropos. Walaupun begitu, Felaini mungkin akan memulai debutnya dari bangku cadangan karena Cleverly dan Carrick masih fit dan bermain cukup baik di 3 laga awal.

Palace juga memiliki skuat yang pincang bahkan lebih parah. 7 pemain dipastikan absen termasuk Jonathan Parr dan Jerome Thomas masih diragukan untuk tampil karena cedera. Ian Holloway kemungkinan akan tetap memainkan winning squad­ kala melawan Sunderland dengan Marouane Chamakh sebagai penyerang tunggal. Dwight Gayle yang mencetak gol saat melawan Sunderland akan bermain di sayap kanan dan Danny Gabbidon bermain di pos bek tengah.

Crystal Palace juga mungkin akan bertemu guardian angel mereka musim lalu, Wilfried Zaha, yang musim ini telah berkostum Setan Merah walau kemungkinannya kecil. Zaha memang belum melakukan debutnya di laga Premier League untuk Manchester United musim ini di luar performanya yang gemilang di laga pra-musim. Mampukah David Moyes memberi kemenangan pertama di Old Trafford musim ini atau terjerembab lebih dalam?

Prakiraan skuat Mancheser United: De Gea; Smalling, Ferdinand, Vidic, Evra; Carrick, Cleverly, Young, Valencia, Welbeck; van Persie.

Prakiraan skuat Crystal Palace: Speroni; Ward, Delaney, Gabbidon, Moxey, Puncheon, Campana, Jedinak, Dikgacoi, Gayle, Chamakh.


Prediksi Skor: Manchester United 2 – 0 Crystal Palace

7 Sept 2013

Transfer United Bak Newbie FJB







Jika Anda penyuka jual beli online terutama di situs semacam Kaskus, Anda pasti melihat seorang penjual atau pembeli dari pangkat/tingkat reputasinya. Apakah dia masih newbie atau sudah jadi orang yang terpercaya sebenarnya bisa dengan mudah dilihat jika Anda memang tak sedang mabuk. Sayangnya, Manchester United sebagai korporasi klub sepakbola ternama di dunia berlagak seperti anak kemarin sore di jendela transfer musim panas tahun ini.

Bagaimana tidak? United terlalu bodoh dalam bertransaksi dari detik jendela transfer dibuka hingga ditutup. Ekspektasi besar ketika David Moyes datang dan nampaknya perlu menambah pasokan kekuatan tim karena banyak kehilangan sosok di dalam tim. Selepas Sir Alex Ferguson keluar dari singgasananya, fans United memang berharap penuh pada David Moyes untuk melakukan permak dalam tubuh tim. Ed Woodward yang datang menggantikan David Gill yang memilih untuk berkiprah di FA, menumpu harapan banyak fans United.

Namun, harapan-harapan itu hanya berserakan tak beraturan. Hampir selama 3 bulan sejak dibuka, United hanya bercumbu rayu dengan beberapa pemain tanpa melakukan pergerakan yang signifikan. Nama-nama seperti Cesc Fabregas dan Thiago Alcantara  adalah contoh bahwa United senang menebar rayuan gombal. Saat United melakukan tur di Australia, Ed Woodward kembali ke Eropa untuk melakukan pendekatan dengan pemain baru. Apa yang terjadi? Tak ada pemain yang berhasil dijaring. Barangkali Ed Woodward hanya bersantai di pantai Nice sambil memakan salad Caesar selama itu dan mempertontonkan pusar di perutnya.

Setelah itu, Moyes tampak tak bisa pindah ke lain hati dari Everton sehingga masih membutuhkan isinya ke dalam United. Marouane Fellaini dan Leighton Baines nampak menjadi incaran yang tepat. Yang bodoh dari United? Tawaran mereka untuk kedua pemain itu yang nampak seperti tawaran ibu-ibu di Pasar Baru yang terlalu tak masuk akal. 28 juta Euro seakan cukup untuk melego kedua pemain itu bagi United dan Everton membalasnya dengan pernyataan bahwa tawaran itu cukup menghina. Ed Woodward masih mabuk laut akibat terlalu banyak memancing di pantai Nice nampaknya. Usaha kedua seharga 40 juta Euro pun masih dimentahkan Roberto Martinez.

Cerita kemudian mendadak gempar ketika Ander Herrera dari Athletic Bilbao kemudian masuk ke dalam daftar pemain incaran United. Semakin dekat pada penutupan jendela transfer, semakin kencang isu yang beredar. Fans-fans United yang terlalu lama geram akan pasifnya United di bursa transfer mulai merasakan secercah cahaya karena Herrera jelas berpeluang masuk karena posisi bermainnya cocok di United yang berkrisis di gelandang bertahan.

Di hari terakhir bursa transfer, Herrera nampak begitu dekat dengan United. Dengan Ozil tiba di Arsenal, terdengar raungan fans-fans United yang iri dan ingin United membeli seseorang yang hebat. Siapapun yang penting hebat bahkan Eric Djemba-Djemba sekalipun. Namun, apa dinyana. United gagal menggaet Ander Herrera yang terkendala dengan pajak dan gaji yang kurang pas. Setelah terusut, masalah gagalnya transfer Herrera karena ada pihak penipu yang mencoba menjadi penyambung lidah United dengan Bilbao. Tolol.

Detik-detik akhir jelang penutupan jendela transfer, Fellaini tiba-tiba menjadi headline berbagai media untuk berseragam United musim ini. Berita simpang siur pun hadir ditambah dengan kabar bahwa Fabio Contreao akan dipinjamkan Real Madrid semusim ke United. Akhirnya, Everton mengkonfirmasi Fellaini akan pergi ke Manchester United. Ada suara lenguhan nafas lega dari fans United di seluruh penjuru dunia yang sudah cukup geram. Namun, bagaimana dengan nasib Fabio Contreao? Ternyata, transfer Contreo gagal. Alasannya karena faksimili berkas transfer Contreao gagal tiba tepat waktu. Tolol kuadrat.

Jelas, Fellaini adalah pemain yang tidak mubazir dibeli. Sudah lama semenjak Roy Keane pergi, tak ada gelandang yang kuat untuk membantu penyerangan dan pertahanan. Fellaini rasanya bisa memberi kenyamanan di lini tengah. Namun, Fellaini seharusnya bisa datang lebih murah dengan total mahar 23 juta Pounds, lebih murah 4.5 juta Pounds dari nilai transfernya. Bayangkan berapa banyak shampoo yang bisa dibelikan dengan sisa uang sebanyak itu untuk perawatan rambut Fellaini yang terlihat cukup mahal.


Kesimpulan tulisan ini sebenarnya adalah mencerca bagaimana transfer United sangat hancur sehancur-hancurnya seperti doa Arya Wiguna kepada Eyang Subur. David Moyes dan Ed Woodward memang masih hijau di Old Trafford, tapi interaksi United di bursa transfer kali ini terlihat kikuk dan cenderung tak berotak. Terlalu bodoh jika akhir musim ini United gagal juara dan beralasan transfer United yang tak efektif. Alasan ini sama basinya seperti Newbie FJB yang mencoba menipu pembeli kawakan. Tolol pangkat tiga.

30 Jun 2013

Erick Thohir Harus Membeli Inter Milan


Sudah hampir 3 bulan semenjak isu Erick Thohir, pengusaha besar Indonesia, akan membeli saham Inter Milan. Tarik ulur terjadi dan hasilnya masih belum bisa dipastikan. Massimo Moratti sebagai presiden Inter Milan nampaknya kini harus berbagi saham dengan Erick setelah negosiasi yang cukup panjang. Kabarnya, Erick hanya mendapatkan 40% dari total saham Inter Milan.

Saya bukan seorang pakar ekonomi, namun saya cukup paham apa arti dari kepemilikan saham sebesar 40% yang akan dimiliki Erick. Besar kemungkinan Erick tentu bukan pemegang tertinggi karena sisa saham Inter Milan masih milik Moratti. Namun, ini adalah peluang yang besar bagi Erick yang telah lama menekuni bisnis olahraga hingga ke mancanegara ini. Beberapa kebijakan Inter Milan mungkin akan mendengarkan pendapat Erick jika benar Erick mendapatkan tempat di Inter Milan.

Erick mungkin salah satu pelopor pebisnis dalam negeri yang berhasil melambungkan nama Indonesia di dunia bisnis internasional. Sepak terjangnya di dunia bisnis olahraga juga tidak bisa dibilang kacangan sebagai orang Indonesia. Erick yang kini telah memiliki sebagian besar kepemilikan klub Major League Soccer (MLS), DC United, nampaknya benar-benar serius menekuni bidang bisnis olahraga yang tengah marak ini.

Apa yang dilakukan oleh Erick memang tidak mungkin terlepas dari soal bisnis. Bisnis amat erat kaitannya dengan masalah keuntungan dan semua orang tahu tentang ini. Erick tak mungkin begitu ambisius ingin membeli saham Inter Milan tanpa memikirkan peluang bisnis yang besar di sana. Inter Milan yang notabene adalah klub besar bisa menjadi lumbung keuntungan bagi Erick dan Inter Milan kini tengah membutuhkan asupan dana besar setelah prestasi mereka menurun dalam beberapa tahun terakhir.

Lalu, mengapa saya begitu ingin Erick membeli Inter Milan? Saya tidak melihat dari segi bisnis, namun segi sepakbolanya. Indonesia punya peluang yang cukup besar untuk memiliki koneksi yang kuat dengan tim sebesar Inter Milan jika Erick berhasil mengambil saham tersebut. Memang tidak akan seketika dan signifikan dalam waktu dekat, namun kans sepakbola Indonesia untuk lebih baik bisa jadi berawal dari sana. Indonesia secara umum akan diuntungkan.

Syamsir Alam adalah orang yang sempat mencicipi keuntungan semacam itu di DC United. Setelah bermain untuk CS Vise, Syamsir dipinjamkan ke DC United untuk berlaga di MLS selama semusim. Walau Syamsir urung bertanding secara reguler, Syamsir tentu mendapat pelajaran berharga dari berlatih di kasta sepakbola yang lebih tinggi dibanding liga kedua di Belgia. Tak bisa dipungkiri ini juga berkat kehadiran Erick di dalam tubuh DC United.

CS Vise juga bisa menjadi percontohan klub yang bisa menjadi tempat menimba ilmu bagi pemain muda Indonesia. Setelah diakuisisi oleh Bakrie Group, CS Vise kini lebih diwarnai oleh wajah-wajah Indonesia. Yang paling populer tentunya Alfin Tualasamony yang kabarnya tengah diincar Benfica dan Bologna. Ini lah mengapa memiliki klub Eropa terlebih klub papan atas bisa mendongkrak prestasi pemain muda kita.

Dengan kedatangan Erick, pemain Indonesia punya sedikit harapan untuk melihat jauh ke depan karir mereka di Eropa. Dengan koneksi semacam ini, kesempatan untuk pemain semacam Syamsir di DC United semakin terbuka. Beberapa kontrak yang akan menguntungkan pemain muda Indonesia juga mungkin bisa membantu pengembangan talenta pemain kita, seperti pendirian sekolah sepakbola, magang pemain Indonesia, atau coaching clinic.

Memang, semuanya tidak akan instan dan butuh proses panjang. Inter Milan juga tidak akan begitu saja merekrut pemain kita tanpa melihat potensi besar tiap kemampuan pemain kita. Namun, ini bisa menjadi motivasi besar bahwa kini ada lebih besar peluang untuk bermain di kompetisi yang lebih kompetitif karena peran pebisnis Indonesia termasuk Erick. Caranya? Tetap berikan yang terbaik dan bermimpi besar.

23 Jun 2013

Indonesia Pindah ke Oseania?


Pindah lapak bagi seorang pedagang adalah sebuah langkah yang besar dalam situasi tertentu. Lapak lama bisa jadi tidak menguntungkan saat ini, tapi lapak baru pun tak seketika begitu menjanjikan sebuah keuntungan yang besar. Perlu adanya sebuah keberanian untuk berpindah dari suatu tempat, hanya karena untuk mendapatkan rezeki yang lebih banyak. Sebuah harapan.

Kita tak bisa menyalahi takdir Tuhan yang telah mengirim Indonesia jatuh di zona ekuator bumi ini. Kita juga tidak bisa menampik bahwa kita hadir di tengah-tengah samudra yang membelah dua benua besar, Asia dan Australia. Namun, soal sepakbola, ada sebuah kesempatan di mana kita bisa jadi lebih realistis untuk bermimpi bermain di ajang terbesar sepakbola sedunia yang selalu kita impikan, Piala Dunia.

Baru-baru ini, beberapa media memberitakan tentang seorang pelatih sepakbola Indonesia yang mempunyai sebuah gagasan untuk Indonesia agar berpindah konfederasi sepakbola dari AFC (Asia) ke OFC (Oseania). Beliau adalah Timo Scheunemann, pelatih keturunan Jerman yang telah lama menjajaki kursi kepelatihan di Indonesia terutama Tim Nasional Indonesia usia muda. Beliau pun punya alasan: Indonesia perlu kesempatan lebih untuk berlaga di Piala Dunia.

Kita sama-sama tahu bahwa bermimpi Indonesia untuk bertanding di kompetisi sebesar itu masih terdengar seperti mengisap jempol sambil bermimpi di siang bolong. Prestasi tim nasional kita yang tak kunjung membaik selalu membuat gelisah para pecinta sepakbola yang peduli akan perubahan. Negara-negara Asia cenderung semakin kuat dan kita cenderung terbelah dengan isu yang seringkali di luar konteks sepakbola. Di manakah kita sekarang?

Lalu, mengapa dengan pindah ke OFC kita bisa lebih punya kesempatan untuk berlaga di Piala Dunia? OFC saat ini memiliki 14 negara dengan 11 anggota tetap. Anggotanya, seperti kita tahu, mungkin hanya terkenal seperti negara pariwisata dan pelesiran, contohnya Kepulauan Fiji atau Tahiti yang baru bertanding di Piala Konfederasi 2013. Negara-negara zona OFC di atas kertas memang cenderung lebih lemah dibanding negara di zona ASEAN sekalipun.

Berdasarkan hal itu, coach Timo percaya kans Indonesia akan lebih besar untuk bisa meraih tiket ke putaran final Piala Dunia. OFC memilki jatah 0 atau 1 negara yang akan lolos. New Zealand tahun ini berhasil lolos playoff yang akan menghadapi juara keempat zona CONCACAF (Amerika Utara dan Tengah) untuk berebut tiket ke Piala Dunia. Dibanding melawan macan Asia seperti Jepang, Korea Selatan, atau Australia, coach Timo melihat kesempatan pindah konfederasi baik untuk Indonesia ke depannya.

Sebelum pindah ke zona AFC (Asia), Australia memang selalu menjadi jawara di zona OFC. Sempat terdengar bahwa alasan Australia pindah ke zona Asia karena kompetisinya yang kurang kompetitif dan selalu kalah di ajang playoff melawan zona CONCACAF. Ini bisa jadi kekurangan kita juga jika kita memang ingin pindah ke OFC. Tantangannya tidak kalah berat dan tidak juga lebih mudah jika kita masih belum menunjukkan perbaikan.

Secara pribadi, saya tetap ingin Indonesia berada di zona AFC karena saya rasa tujuan sepakbola Indonesia lebih dari sekadar lolos ke Piala Dunia. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada coach Timo, Indonesia sedang bergerak ke arah perubahan yang lebih baik dan mengubah zona konfederasi akan sedikit memberi goncangan juga penyesuaian. Saya harap Indonesia masih bisa lebih bekerja keras di zona AFC yang relatif lebih kompetitif sehingga selalu memotivasi kita.

Memang, tak ada yang pedagang yang tidak mencari keuntungan. Berpindah lokasi berjualan harusnya bisa mendapat keuntungan lebih. Namun, kita harus sadar bahwa Tim Nasional Indonesia lebih dari sekadar pedagang yang mencari untung. Timnas Indonesia adalah tim yang harus bisa tetap bekerja keras di mana pun mereka bertanding dan memberi prestasi demi Indonesia. Suatu hari nanti. Percayalah.

16 Jun 2013

Indonesia Muda di Tanah Orang




Ini bukan sebuah tulisan tentang sumber daya alam kita yang diambil oleh negara lain. Ini juga bukan sebuah gambaran bagaimana kita tampak lemah di mata dunia. Ini adalah bukti mengapa kita harus berdiri tegak, berbangga hati, dan terus berusaha memperbaiki diri. Jawaban dari sebuah keraguan yang kerap muncul bagi sepakbola Indonesia.

Mungkin sebagian dari Anda sudah tahu bahwa ada beberapa anak bangsa yang sedang berkelana di berbagai penjuru dunia guna bermain sepakbola. Saya akan mencoba memberi sedikit informasi tentang siapa saja pemain muda yang punya potensi besar untuk mengharumkan nama sepakbola Indonesia di luar negeri.

Syamsir Alam


Syamsir Alam adalah talenta muda yang telah lama bersemayam di telinga kita. Kini, Syamsir bermain bagi DC United di Liga Major League Soccer, Amerika Serikat. Syamsir memang belum bisa menembus jajaran pemain utama di DC United karena memang persaingan yang ketat. Kontrak dengan DC United akan berakhir pada Desember tahun ini dan Syamsir akan kembali ke CS Vise.

Syamsir sempat sedikit geram karena belum mendapat panggilan untuk bermain bagi Tim Nasional Indonesia sewaktu menjamu Tim Nasional Belanda di Jakarta beberapa waktu yang lalu. Namun, ini adalah sebuah peringatan bagi Syamsir untuk terus berjuang di negeri Paman Sam. Semoga Syamsir akan bersinar dalam waktu dekat.

Alfin Tuasalamony


Alfin mungkin pemain muda Indonesia yang paling santer dibicarakan akhir-akhir ini. Umurnya masih 20 tahun dan kini bermain di CS Vise, Belgia. Musim ini Alfin bermain untuk klubnya sebanyak 29 kali, tergolong cukup konsisten bagi pemain Indonesia ditambah 2 assists. Situs transfermarkt mengklaim harganya kini bisa mencapai 200.000 Euro atau 2,6 miliar Rupiah.

Isu yang berkembang kini, Alfin sedang dikejar-kejar oleh klub Benfica setelah sebelumnya dilirik oleh beberapa klub Eropa lain. Posisinya bermain sebagai bek kiri dan bisa menjadi pelapis untuk skuat Benfica musim depan. Kita berharap semoga ini bukan hanya isapan jempol belaka dan Alfin bisa segera merumput bersama klub besar Portugal tersebut.

Joey Suk


Joey Suk mungkin memang belum memastikan diri untuk berpaspor Indonesia, namun sampai saat ini pun belum ada kepastian pihak Belanda akan memasukkannya sebagai warga negara. Joey kini berumur 23 tahun dan Beershot FC adalah klubnya di Belgia. Posisi Joey adalah gelandang tengah dan bisa menjadi playmaker.

Musim depan, Joey Suk akan pindah ke NAC Breda yang bertanding di liga Eredivisie, Belanda. Itu adalah sebuah lompatan yang besar untuk berkompetisi di liga yang lebih kompetitif. Seperti dilansir situr transfermarkt, Joey Suk dibanderol seharga 400.000 Euro atau 5,3 miliar Rupiah. Semoga Joey Suk bisa segera berseragam Merah Putih kelak.

Daftar beberapa pemain muda Indonesia lain di luar negeri:
(Data diambil 16 Juni 2013)

Irfan Bachdim (Chonburi FC - Thailand)
Arthur Irawan (RCD Espanyol B - Spanyol)
Syaffarizal Mursalin Agri (Al-Khor Sports Club - Qatar)
Stefano Lillipaly (Almere City FC - Belanda)

Pemain-pemain di atas adalah segelintir pemain-pemain yang kita miliki yang tengah berjuang di daratan yang tidak kita miliki. Mereka tentu berjuang untuk memberi bukti kepada Indonesia bahwa pemain Indonesia bukanlah kacang-kacang rebus pinggir jalan, melainkan makanan premium. Kita harus berbangga dan terus mendukung mereka. Kelak, pemain kita akan benar-benar menjadi bintang di tanah orang. Semoga.

Sumber: Indonesia Talent

9 Jun 2013

Mengekspos Timnas Kembali


Sepakbola Indonesia terasa menggeliat lagi minggu ini. Khususnya pada hari Jumat lalu, masyarakat seakan terbangun dari tidur yang cukup lama untuk meneriakkan lagi nama Garuda dan ikut dalam euforia sesaat. Tim Nasional Belanda yang hadir pun jadi faktor utama mengapa Indonesia kembali bergairah untuk beberapa waktu.

Tentu, seperti kebanyakan prediksi orang-orang yang berpikir secara nalar, Indonesia tak akan bisa berbuat banyak ketika dihadapkan oleh kekuatan Dunia seperti Belanda. Segala macam alasan seperti jetlag, makanan kurang cocok, atau agenda yang ketat, tidak bisa mengalahkan superioritas mereka di lapangan hijau. Indonesia pun takluk dengan skor 3-0.

Lalu, apa yang bisa Indonesia ambil dari pertandingan tersebut? Pengalaman. Itu saja. Tentu berharap menggondol kemenangan bukan hal yang tak mungkin, tapi perlu dibedakan dengan bermimpi di siang bolong di tengah padang pasir. Namun, momen mencoba menggocek Ron Vlaar atau membaca permainan Jonathan De Guzman secara langsung bukan hal yang murah.

Segala aspek teknis yang berpengaruh seperti ketatnya pertandingan liga domestik dan keharmonisan di tubuh PSSI sepatutnya bisa menjadi faktor lain untuk berupaya lebih di pertandingan sekelas ini. Namun, bersyukur adalah langkah paling tepat dan menyadari bahwa pengalaman ini akan sangat berharga untuk masa depan Indonesia.

Belanda mungkin negara dengan peringkat FIFA paling tinggi yang pernah kita lawan di tanah sendiri selama ini. Kita sempat melawan Yordania dengan FIFA Ranking #75 dan takluk dengan skor 0-5. Patut disyukuri bisa hanya berselisih sedikit dengan Belanda? Tidak juga, karena proses dan faktor lain juga harus dilihat. Saat Yordania menang, kita bertanding di kandang mereka dan selalu menjadi batu sandungan Indonesia.

Sejauh ini, jadwal pertandingan internasional akan berlangsung Oktober ini kala Pra-Kualifikasi Piala Asia 2014 dan berhadapan China di kandang sendiri. Diselingi dengan pertandingan non-FIFA seperti melawan Arsenal dan Liverpool, Indonesia punya waktu luang untuk berbenah diri. Jawaban dari pertanyaan apakah hikmah dari melawan Belanda akan tergambar jelas di pertandingan selanjutnya.

2 Jun 2013

Memberi Kredit Kepada Gelandang Bertahan


Kemarin siang, saya punya kesempatan untuk bermain sepakbola di lapangan setelah sekian lama saya tidak menjumpai rumput-rumput di lapangan tersebut. Bersama kawan-kawan, saya memulai bermain bola saat waktu menunjukkan pukul 12.00 atau saat matahari seakan sedang ingin pamer terhadap dirinya sendiri. Entah bodoh atau tak ada kerjaan, saya masih berniat untuk bermain bola walau cuaca seperti itu.

Kebetulan, saya berposisi sebagai gelandang bertahan pada pertandingan tersebut. Biasanya saya berposisi sebagai pemain sayap, namun saya ingin mencoba hal ini. Setelah bermain selama 10 menit, saya merasa bahwa ada beban berat yang menyangkut pada kaki saya sehingga saya sulit bergerak. 5 menit berselang, saya mulai kehabisan nafas. Sampai seketika, saya tahu bahwa beban itu adalah diri saya sendiri yang kurang berolahraga.

Namun, saya tidak akan berkomentar tentang kebugaran saya di sini. Saya akan menelisik tentang gelandang bertahan. Menjadi gelandang bertahan sungguh tidak mudah. Anda harus benar-benar memiliki timing yang tepat untuk bergerak karena tiap gerakan akan menentukan dua hal: serangan tim Anda gagal atau serangan tim lawan berhasil. Sulit.

Hal ini yang kemudian menyadarkan saya bahwa sosok pemain gelandang bertahan memang harus kuat secara stamina. Pada banyak kesempatan, saya seringkali tidak mengindahkan kemampuan seorang gelandang bertahan yang begitu sentral. Kemampuan untuk bisa membagi bola kepada rekan setim dan melihat jauh ke depan apa yang akan terjadi selanjutnya bisa jadi skill penting dalam menjadi gelandang bertahan terutama dalam perannya sebagai water carrier midfielder.

Kini, saya mengerti mengapa sosok seperti Didier Deschamps atau Claude Makelele sangat berpengaruh dalam tim. Ditunjang dengan skill individu masing-masing, sosok gelandang bertahan begitu dinamis dan tak bisa disepelekan. Memang, posisi ini selalu kalah pamor dibandingkan posisi gelandang serang, sayap, atau penyerang. Namun, tak ada penyerangan berarti yang bisa dibangun tanpa gelandang bertahan.

Sering memang terdengar bahwa sosok seperti gelandang bertahan terlihat useless. Anda pasti tidak bisa melihat sosok seperti Sergio Busquets sebagai gelandang yang berguna ditambah dengan sentimen negatif tentang diving dirinya. Namun, cobalah Anda lihat permainan Barcelona secara detil dari kaki ke kaki kemudian Anda akan mengerti mengapa sosok Busquets cukup dominan untuk membagi bola.

Memang, tak akan mudah melihat sosok yang begitu berguna tanpa Anda peka terhadap hal yang Anda lihat. Penyelesaian atau pertahanan terakhir selalu menjadi fokus utama dalam sepakbola terutama di mata para penggemar sepakbola yang masih awam. Saya selalu melihat hal tersebut tak adil dan gelandang bertahan punya kredit lebih.

25 May 2013

Yang Tertinggal Dari Wembley Malam Ini



Kursi-kursi penonton akan menjadi hangat selama beberapa jam selagi menunggu dinginnya angin kota London meredakan temperatur dari kursi tersebut. Beberapa botol bir dan bungkus makanan mungkin sedikit tergeletak di sudut stadion yang agak tercecer. Pita-pita bekas semacam untuk perayaan nampaknya akan sedikit bersisa di lantai-lantai tribun.

Itu lah mungkin sedikit gambaran yang akan terjadi selepas final Liga Champions malam ini. Stadion Wembley memang telah dipilih untuk menjadi stadion penutup perhelatan akbar antar klub-klub top flight Eropa. Bukan tidak berdasar, pemilihan Wembley bisa jadi krusial karena Stadion Wembley yang mungkin masih menyandang stadion termegah di Eropa saat ini.

90.000 kursi pasti telah terpesan penuh untuk laga malam ini dan Anda yang baru datang ke London dan belum mendapatkan tiket tentu harus merogoh kocek dalam-dalam untuk mendapatkannya. Memang, tak banyak calo-calo tiket yang berkeliaran seperti di stadion kita dalam negeri yang bergerak seperti ayam-ayam yang keluar dari kandang untuk mencari cacing di pagi hari.

Siapapun yang menang nanti malam baik Bayern Munchen atau Borussia Dortmund akan berpesta di tanah orang. Kini, orang-orang Jerman akan bersatu seakan tak pernah ada batas di antara mereka seperti saat mereka dipisahkan oleh Tembok Berlin. Mereka akan merayakan satu hal yang sama: klub Jerman menjadi raja Eropa tahun ini.

Siapa yang patut disalahkan dari momen ini? Kehebatan klub Jerman. Tak dipungkiri bahwa dua klub yang bertemu di final ini adalah jebolan sebuah daratan di tengah Eropa yang sedang menggeliat kembali setelah kedigdayaan Spanyol beberapa waktu kemarin. Lihatlah mereka bermain seperti layaknya bocah-bocah yang menendang bola di sore hari. Penuh semangat.

Saya tak merasa harus menghakimi klub Inggris, Spanyol, Italia, atau negara lain yang terlihat tak kuasa menahan gempuran klub Jerman yang kini menjadi-jadi, namun mereka jelas harus berbenah diri. Mengingat kekuatan ini nampak terlalu kuat untuk dihancurkan dalam waktu dekat, mereka harus mawas diri dan berpikir lebih baik lagi.

Yang tersisa dari laga Wembley ini adalah sebuah kejayaan. Kejayaan dari Jerman yang mungkin pernah hadir saat mereka hebat di Piala Dunia saat masih berbentuk Jerman Barat. Sisanya, hanyalah sebuah peringatan. Peringatan kepada klub-klub non-Jerman yang harus siap menghadapi tahun depan yang lebih menantang.

9 May 2013

(Sir) Alexander (Chapman Ferguson) The Great



Blog ini hidup kembali dengan sebuah entri yang terlalu egois bagi saya pribadi. Mengapa? Karena saya sebagai orang yang menyisipkan Manchester United dalam hidup saya terlalu terpukul dengan berita yang gencar hadir di berbagai media yang kepo luar biasa.

Ya, ini memang artikel tentang pensiunnya Sir Alex Ferguson. Isi kepala saya meloncat jauh ke depan dan berpikir ulang bahwa ini bahkan bukan tentang obituari pelatih asal Skolandia itu. Obituari Sir Alex Ferguson akan lebih mendalam maknanya tentunya. Namun, ini memang tentang kepergian Sir Alex Ferguson ke dunia lain.

Dunia yang ditempatinya selama hampir 27 tahun ke belakang adalah dunia impian bagi anak-anak kecil yang menghabiskan sore hari mereka untuk menendang kulit bundar. Terlebih lagi, tertulis secara tak kasat mata bahwa arsiteknya adalah Fergie sendiri. Tentu, menyangkal pernyataan terakhir saya sedikit mendekati dengan menyangkal rumus kuantum fisika milik Albert Einstein.

Banyak artikel yang telah menyebutkan betapa banyak trofi yang diraih oleh pria tua renta berwajah merah ini. Namun, saya tahu bahwa trofi itu tidak lebih dari logam-logam yang akan berkarat kemudian bisa hancur di tempat insenerator sampah. Ini adalah masalah pencapaian yang panjang tentang konsistensi dan kepiawaian dalam bertindak menjadi seorang manajer.

Tahun 1986 mungkin tak berarti apa-apa bagi Manchester United selain perpindahan tahta pada masa itu. Kenangan bersama Sir Matt Busby terlalu manis untuk dilanjutkan. Kemudian, Fergie datang membawa harapan sebagai pelatih asal Skotlandia yang sukses bersama Aberdeen. Namun, semua akan berusaha mencari hujatan yang tepat ketika Fergie memulai debutnya dengan kekalahan 2-0 atas Oxford United.

Ada hal yang tidak berubah pada masa kini. 26 tahun kemudian, Fergie pun memulai musim ini dengan kekalahan melawan Everton yang dipimpin David Moyes yang digadang-gadang akan menggantikannya. Namun, satu hal yang pernah disesali oleh pecinta United ketika laga perdana Fergie adalah menengoknya sebagai pelatih yang akan mengantarkan Manchester United sebagai salah satu tim terbaik saat ini.

Seiring dengan kepergiannya, Old Trafford hanya akan terisi oleh suara-suara selain suara geraman atau kunyahan permen karet Fergie. Hanya lah sebuah patung dan nama tribun yang akan mengukir betapa kuatnya Manchester United di bawah lindungan Fergie. Sir Matt Busby pun berdecak kagum di atas sana atas prestasi Fergie.

Rezim ini kemudian akan berakhir dalam dua pekan yang akan sangat berharga bagi setiap fans United semenjak kedatangan Fergie. Ibu saya bahkan belum berpikir untuk memiliki anak seperti saya ketika Fergie hadir di Old Trafford. Namun, saya akan membalas hal itu dengan memberikan sebuah apresiasi yang mungkin terdengar seperti justifikasi ini.

Tak ada yang tahu Anda akan dilahirkan untuk mencintai klub sepakbola apa. Namun, Anda pasti tahu klub mana yang akan mengisi hari-hari Anda sebelum Anda dikebumikan. Sir Alex Ferguson menanamkan arti Manchester United begitu dalam pada diri saya. Sampai suatu hari seperti kepergian Fergie ini, dia hanya membiarkan benih itu tumbuh tanpa siraman darinya lagi.

Terima kasih, Sir Alexander Chapman Ferguson.


9 Feb 2013

Follow Back Your Club

Mendapatkan info terbaru transfer pemain, minute-by-minute live match report, dan ikut berpartisipasi dalam nonton bareng. Hal-hal tersebut hanya dapat didapatkan dari akun Twitter fans klub. Akun fans klub ini pun banyak tersebar di berbagai penjuru dunia dan juga tentunya di Indonesia. Di Indonesia, komunitas fans klub ini bahkan dibagi ke dalam tiap kota di tanah air, analog dengan dewan pengurus cabang kota pada partai politik.

Beberapa klub kawakan di Eropa sebagian besar telah memiliki akun Twitter resmi mereka masing-masing. Beberapa klub bahkan menyediakan beberapa akun resmi tambahan sesuai bahasa fans mereka masing-masing. Liverpool FC, misalnya, menyediakan 10 akun Twitter resmi untuk fansnya, termasuk dalam bahasa Indonesia dan Bangladesh. Bukan tanpa alasan, mereka melakukannya karena mereka ingin lebih dekat dengan penggemarnya. Tentu, bila Anda penggemar Kim Kardhasian, Anda ingin juga disapa dengan bahasa Indonesia, bukan?

Source: soccer.indonewyork.com
Chart di atas menggambarkan bagaimana suatu klub bisa sangat populer di Twitter dengan menghitung jumlah follower pada akun Twitter resmi. Barcelona bertengger di peringkat teratas dengan jumlah hampir 8.000.000 followers sedangkan Real Madrid menguntit setelahnya dengan 6.000.000 followers. Manchester United, yang digadang-gadang sebagai klub paling populer di dunia, tidak muncul di chart ini karena mereka tidak memiliki akun Twitter resmi. Arsenal, Chelsea, dan Liverpool tentunya sudah tidak aneh berada di chart ini, namun kehadiran Galatasaray, Fenerbache, Corinthians, Flamengo, dan Chivas sungguh cukup menarik mengingat mereka bukan klub favorit kebanyakan orang. Bisa jadi ada kewajiban warga negara tiap klub tersebut untuk mem-follow akun-akun tersebut, bila tidak, mereka akan ditembak mati. Mungkin saja.

Hal di atas juga menunjukkan bagaimana engagement yang diberikan suatu klub dapat menarik minat para pengguna Twitter. Tentunya, akun resmi sebuah club tidak serta merta di-follow oleh para penggemar klub tersebut, tetapi juga para haters atau orang yang sekadar ingin tahu saja. Jika kembali merujuk pada chart di atas, Arsenal adalah klub terpopuler EPL di Twitter. Anda tentunya tidak aneh jika melihat beberapa teman anda di twitter memiliki bio: "Real Arsenal Fans" "Gooners" "Pride of North London" dan banyak menggerutu tentang timnya akhir-akhir ini.

Chart di atas juga tidak terlalu berimplikasi dengan prestasi klub di liga domestik semenjak Twitter diluncurkan pada tahun 2006. Barcelona dan Real Madrid sama-sama memiliki 3 trofi dan begitupula dengan Galatasaray dan Fenerbache juga Corinthians dan Flamengo. Arsenal dan Liverpool malah belum memiliki gelar liga domestik semenjak 2006, Chelsea hanya mendapatkan satu gelar. Maka, jika Anda pengguna Twitter dan juga fans klub yang setia, Anda sebetulnya tidak wajib untuk mem-follow klub favorit Anda di Twitter. Cukup doakan saja sebelum Anda kembali ke peraduan menjelang Anda tidur.

27 Jan 2013

Don't Look Back In Wenger

Arsene Wenger. Semua orang yang mendengarnya pun tahu bila Arsene Wenger adalah pelatih Arsenal. Lihat saja nama depannya yang silabelnya sejenis dengan Arsenal. Bisa jadi ayah dari Arsene Wenger memang mendoakan untuk menjadi pelatih Arsenal. Siapa tahu. Namun, polemik Arsene Wenger mulai mencuat keras dan membahana pada tahun ini. Tentu saja, permasalahannya tentang performa Arsenal yang sering dibilang carut-marut dan inkonsisten. Masalah ini bukan muncul dalam tahun ini saja melainkan tahun-tahun sebelumnya sejak Arsenal tidak lagi menghiasi lemari pialanya dari tahun 2005 saat mereka menjuarai FA Cup.



Beberapa gooners bahkan sudah mulai gerah dan mulai berteriak "Wenger out!" dari hari ke hari. Mereka sudah cukup lelah dengan berbagai kemunduran yang terjadi pada tim. Namun, Wenger bukan saja permasalahan utama dari hilangnya taji Arsenal. Keuangan Arsenal juga menjadi batu ganjalan selama ini. Hal ini dapat terlihat dari gairah transfer pemain dari Arsenal yang begitu dingin. Dinginnya Arsenal pada musim transfer bisa disetarakan dengan wanita frigid. Belum lagi, isu loyalitas yang merebak di Arsenal setelah banyak bintang mereka pergi tak kembali.

Sejak musim panas tahun lalu, Arsenal "hanya" berhasil merekrut sekitar 3 pemain saja, seperti Oliver Giroud, Santi Cazorla, dan Lukas Podolski. Mereka tentu saja bukan pemain ecek-ecek bahkan peran mereka cukup krusial dalam mempertahankan posisi Arsenal saat ini. Hanya saja, Arsenal benar-benar melakukan seperti di peribahasa "Besar pasak daripada tiang". Alih-alih menambah pemain, Arsenal secara kontinu kehilangan pemain sejak jendela transfer musim panas lalu. Arsenal kehilangan sekitar 13 pemain first-team yang ditransfer permanen dan dipinjamkan termasuk Alex Song, Emmanuel Frimpong, dan tentunya Robin Van Persie.

Kehilangan beberapa pemain kunci ini lantas tidak membuat Arsenal menjadi aktif dalam jendela transfer musim dingin ini. Arsene Wenger baru-baru ini malah mengutarakan bahwa fans Arsenal jangan terlalu berharap Arsenal akan merekrut talenta baru ke Emirates Stadium. Wenger memang bukan PHP namun bukan berarti dia harus diam saat Arsenal di tengah kegentingan ini. Bisa jadi, target Arsenal musim ini hanyalah lolos ke fase penyisihan Champions League apabila performa baik tak kunjung berjumpa.

Penurunan gairah Arsenal di bursa transfer ditengarai disebabkan oleh manajemen Arsenal yang kurang baik. Walau mungkin dari segi finansial terlihat sehat, kehilangan Pat Rice sebagai asisten manajer Wenger cukup berimplikasi pada perubahan kebutuhan tim. Belum lagi, kebijakan pihak board Arsenal yang disebut-sebut lebih condong mengambil keuntungan finansial semata dibanding membangun tim dengan matang seperti menaikan harga tiket penonton Emirates Stadium hingga mencapai 92 poundsterling atau sekitar Rp 1.400.000. Uang sebanyak itu tentunya lebih baik untuk dijadikan cicilan motor.

Semua pendukung Arsenal bahkan penikmat Liga Inggris tentunya rindu Arsenal bisa menjadi tim yang trengginas seperti tahun 2003-2004 dengan rekor unbeaten mereka. Menyalahkan Wenger bisa jadi benar, namun tidak absolut. Lalu siapa yang perlu disalahkan? Siapa tahu.

14 Jan 2013

A Neighbor from Hell

Hal paling menyebalkan dalam hidup bertetangga adalah masalah tenggang rasa. Selalu ada masa-masa ketika tetangga terlalu asik mendengarkan lagu kesukaannya dengan keras dan berulang kali, ketika tetangga terlalu mudah mengeluarkan suara lantangnya di malam hari, atau hanya dengan sering keluar masuk pintunya yang telah rapuh. Begitulah hidup bertetangga, tenggang rasa memang diperlukan.

Kota Liverpool adalah salah satu kota yang memiliki tetangga yang mungkin paling menyebalkan. Merebut torehan gelar 18 kali Liga Inggris adalah salah satu capaian yang mengesalkan bagi Kota Liverpool. Ya, kota Manchester hanyalah berjarak 33,6 miles atau sekitar 46 menit dari kota Liverpool di jam yang padat. Kekesalan itu pun bertambah dengan kekalahan di Old Trafford semalam.

Semalam, Liverpool datang ke kandang Manchester United dengan kekuatan penuh. Minus Nuri Sahin yang kembali ke Dortmund, Liverpool menurunkan skuat terbaik mereka dengan tentunya kehadiran Stewart Downing. Kubu Manchester United terlihat lebih jumawa walau dengan skuat yang apa adanya tanpa kehadiran Wazza. Saya sendiri agak ragu pertandingan ini akan berakhir dengan kemenangan bagi United. Hal yang tidak terulang di pertandingan sebelumnya adalah Suarez yang akhirnya menyalami Evra layaknya halal bihalal setelah salat idul fitri.

Di awal pertandingan, United terlihat superior dan Liverpool seakan mempersilakan mereka untuk seperti itu. Ditambah lagi, Liverpool terlalu santai seperti sedang main kucing-kucingan bola. Welbeck yang mungkin malas dianggap sebagai kucing beraksi sesekali merebut bola walau penyelesaian akhir kurang baik. Peran Lucas Leiva sebagai gelandang pengangkut air kali ini kurang terlihat dominan. Kekuatan United mulai terasa ketika Old Trafford bergemuruh meneriakkan "Oooh Robin Van Persie" pada menit ke-19 usai sepakan santainya menemui jala gawang Reina.

Setelah gol itu, Liverpool semakin kelimpungan mencari arah serangan. Suarez terlihat berusaha sendiri tanpa ada sodoran dari Glen Johnson atau Downing. Kesulitan ini menambah ketika Suarez lebih sering track back sehingga terlalu jauh untuk menuju gawang. Praktis, Suarez seperti katak dalam tempurung yang dikurung teman-temannya sendiri. United pun lebih bermain dominan dan banyak peluang tercipta, termasuk backheel Van Persie yang mungkin sempat diajarkan di Emirates Stadium.

Di babak kedua, Sturridge masuk menggantikan Lucas yang sedang. Raut wajah yang kesal di babak pertama setidaknya jadi pemicu Sturridge lebih termotivasi. Namun, belum juga Sturridge melahap bola, United kembali mencetak gol lewat sudulan Evra-Vidic seperti sundulan bersama ala Tsubasa. Evra menyundul dan Vidic mengarahkan bola, mirip bukan? Setelah gol tersebut, Liverpool seperti tersengat lebah, mereka pun akhirnya bangkit menyerang.

Sturridge dalam laga debut resminya di Liga Inggris bersama Merseyside Red akhirnya mampu menceploskan bola ke dalam gawang De Gea setelah tendangan Gerrard ditepis kurang sempurna. Selebrasi dengan 5 jari adalah momen yang penuh keyakinan untuk Liverpool. Selepas itu, Liverpool menjadi aktif dalam menyerang dan United meladeninya dengan bermain buruk. Valencia yang datang menggantikan Young yang cedera masih sulit menemukan di mana arti nomer punggung 7 dan mengapa dia tidak menggantinya ke nomer punggung 69.

Beruntungnya United masih dapat memenangkan pertandingan dengan skor 2-1. Jose Mourinho yang datang ke Old Trafford pun sepertinya tahu dirinya akan dipecat atau tidak di laga Februari nanti. Fergie, yang di akhir pertandingan hanya memandangi jam tangan, cukup bersyukur bisa memenangkan pertandingan walau Vidic dan Young yang dibopong ke luar lapangan. Akhirnya, tetangga dari neraka ini kembali mengesalkan tetangganya tersebut.

4 Jan 2013

Balotelli Tidak Jatuh Jauh dari Mancini



Jika Anda adalah penggemar anjing dan sering menyaksikan channel National Geographic, Anda tentunya tak akan asing dengan program "Dog Whisperer". Program ini menyuguhkan aksi fenomenal dari seorang pecinta dan pengendali anjing bernama Cesar Milan dalam menghadapi anjing-anjing yang dinilai kurang beretika keanjingan. Cesar seringkali dipanggil door-to-door untuk menyelesaikan berbagai masalah tersebut. Bagaikan sulap, Cesar pun mampu mengubah sifat anjing yang bermasalah itu menjadi lebih punya attitude.

Jika Anda adalah orang yang sedang mengisi liburan Anda kali ini dengan membaca kabar sepakbola terkini, Anda pastinya akan tahu tentang konflik antara Mancini dengan Balotelli di Carrington Training Ground beberapa waktu lalu. Beberapa sumber bahkan mengutip bahwa perselisihan itu harus dilerai oleh beberapa ofisial klub Manchester City. Dalam beberapa foto, Mancini memang terlihat meladeni The-Who-Always-Me dengan wajah yang berang.

Korelasi yang ingin saya utarakan dengan program "Dog Whisperer" dengan kasus Mancini-Balotelli ini sebenarnya sederhana. Kalau boleh diasosiasikan, Mancini adalah Cesar Milan dan tentunya Balotelli adalah anjing yang salah arah ini. Cesar Milan sering mengatakan dirinya adalah leader of pack atau pimpinan dari kawanan. Begitupun dengan Mancini, City tentunya adalah kawanan yang perlu diarahkan di dalam lapangan maupun di luar lapangan. Tanpa menyandingkan Balotelli dengan anjing secara harfiah, Balotelli bukan satu-satunya orang yang perlu disalahkan karena sebetulnya Mancini pun bisa dibilang salah.

Mengapa demikian? Mancini dan Balotelli pun berkewarganegaraan sama, pernah sama-sama mengecap lapangan San Siro, dan datang ke City dengan selang waktu yang tidak berjauhan. Agak aneh memang bila Mancini tidak bisa mengendalikan Balo bila mereka datang dengan berbagai latar belakang yang sama. Manajemen Mancini dalam bertindak pun bisa dipersalahkan karena nyatanya Balo terus melakukan kontroversi selama di City. November lalu, Mancini bahkan mengisyaratkan bahwa Balo tak akan pergi dari Etihad Stadium. Namun, terulang lagi insiden yang memakan banyak halaman di forum-forum sepakbola internasional.

Tak ada buah yang jatuh jauh dari pohonnya. Buah adalah Balotelli dan Pohon adalah Mancini. You can blame both if you want to.