2 Jun 2013

Memberi Kredit Kepada Gelandang Bertahan


Kemarin siang, saya punya kesempatan untuk bermain sepakbola di lapangan setelah sekian lama saya tidak menjumpai rumput-rumput di lapangan tersebut. Bersama kawan-kawan, saya memulai bermain bola saat waktu menunjukkan pukul 12.00 atau saat matahari seakan sedang ingin pamer terhadap dirinya sendiri. Entah bodoh atau tak ada kerjaan, saya masih berniat untuk bermain bola walau cuaca seperti itu.

Kebetulan, saya berposisi sebagai gelandang bertahan pada pertandingan tersebut. Biasanya saya berposisi sebagai pemain sayap, namun saya ingin mencoba hal ini. Setelah bermain selama 10 menit, saya merasa bahwa ada beban berat yang menyangkut pada kaki saya sehingga saya sulit bergerak. 5 menit berselang, saya mulai kehabisan nafas. Sampai seketika, saya tahu bahwa beban itu adalah diri saya sendiri yang kurang berolahraga.

Namun, saya tidak akan berkomentar tentang kebugaran saya di sini. Saya akan menelisik tentang gelandang bertahan. Menjadi gelandang bertahan sungguh tidak mudah. Anda harus benar-benar memiliki timing yang tepat untuk bergerak karena tiap gerakan akan menentukan dua hal: serangan tim Anda gagal atau serangan tim lawan berhasil. Sulit.

Hal ini yang kemudian menyadarkan saya bahwa sosok pemain gelandang bertahan memang harus kuat secara stamina. Pada banyak kesempatan, saya seringkali tidak mengindahkan kemampuan seorang gelandang bertahan yang begitu sentral. Kemampuan untuk bisa membagi bola kepada rekan setim dan melihat jauh ke depan apa yang akan terjadi selanjutnya bisa jadi skill penting dalam menjadi gelandang bertahan terutama dalam perannya sebagai water carrier midfielder.

Kini, saya mengerti mengapa sosok seperti Didier Deschamps atau Claude Makelele sangat berpengaruh dalam tim. Ditunjang dengan skill individu masing-masing, sosok gelandang bertahan begitu dinamis dan tak bisa disepelekan. Memang, posisi ini selalu kalah pamor dibandingkan posisi gelandang serang, sayap, atau penyerang. Namun, tak ada penyerangan berarti yang bisa dibangun tanpa gelandang bertahan.

Sering memang terdengar bahwa sosok seperti gelandang bertahan terlihat useless. Anda pasti tidak bisa melihat sosok seperti Sergio Busquets sebagai gelandang yang berguna ditambah dengan sentimen negatif tentang diving dirinya. Namun, cobalah Anda lihat permainan Barcelona secara detil dari kaki ke kaki kemudian Anda akan mengerti mengapa sosok Busquets cukup dominan untuk membagi bola.

Memang, tak akan mudah melihat sosok yang begitu berguna tanpa Anda peka terhadap hal yang Anda lihat. Penyelesaian atau pertahanan terakhir selalu menjadi fokus utama dalam sepakbola terutama di mata para penggemar sepakbola yang masih awam. Saya selalu melihat hal tersebut tak adil dan gelandang bertahan punya kredit lebih.