25 Sept 2012

Djohar-La Nyalla vs Syamsir, Arthur, Andik dll.

Siapa orang Indonesia yang tidak mengenal La Nyalla Mattalitti?  Siapa pula di kolong bumi nusantara ini yang tidak mengenal Djohar Arifin? Siapa yang tidak gemas dengan tingkah laku keduanya dan semua kekacauan yang mereka buat? Dunia persepakbolaan negeri ini sudah cukup menderita dengan kondisi sekarang. Mereka yang berada di pucuk pimpinan seperti tidak peduli sama sekali dengan realita yang terjadi. Seolah ketua umum PSSI adalah sebuah posisi strategis untuk menjadi batu loncatan semata, atau untuk menguasai pos yang lebih besar bersama golongannya masing-masing. Dalam kurun waktu kurang dari dua tahun, dunia sepakbola  Indonesia berubah 180 derajat.


Saat dikira akan lepas landas, ternyata malah karam lebih dalam dari sebelumnya...


Di akhir tahun 2010, kita masih ingat betapa hingar bingar dukungan masyarakat menyertai perjuangan Firman Utina dkk selama AFF Cup di Jakarta. Stadion Utama Gelora Bung Karno selalu penuh selama gelaran tersebut, tak henti-hentinya media memberitakan tentang optimisme menjadi juara AFF untuk pertama kalinya saat itu.


Antiklimaks. Ya, kita sama-sama tahu akhir dari semua euforia saat itu...


Pasca AFF 2010, semua dukungan tersebut berubah menjadi angkara murka mencari kambing hitam atas kondisi sepakbola Indonesia yang nihil prestasi. Banyak mata tertuju kepada Nurdn Halid selaku ketum PSSI saat itu sebagai biang keladi penyebab kegagalan timnas berprestasi dalam kurun satu dekade terakhir. Bermacam konklusi dan solusi ditawarkan oleh berbagai kalangan. Pengamat sepkabola, mantan pemain, hingga rakyat jelata bersuara demi perbaikan sepakbola Indonesia. Namun, tak disangka-sangka, justru itulah awal dari badai kehancuran yang lebih besar lagi. Alih-alih menjadi turning point untuk kembali lepas landas sebagai macan asia, kisruh PSSI saat itu malah menggiring dunia sepakbola Indonesia karam lebih dalam seperti kondisi seperti saat ini.

Dualisme liga, ketidak jelasan aturan kompetisi, sanksi untuk membela timnas “tandingan”, bahkan hingga dikotomi timnas (yang menurut pendapat saya sangat menurunkan “nilai” sebagai seorang pemain timnas) adalah konsekuensi nyata yang harus diterima sepakbola negeri ini. Dua nama yang saya sebut pertama tadi menjadi aktor kunci permainan ini. Menjadi musuh bersama jutaan orang yang bahagia atas kemenangan tim Garuda. Gocekan dan lesakkan gol ke gawang lawan tidaklah menjadi hal yang dinanti rakyat lagi saat ini.

Media, baik cetak maupun elektronik, seakan kompak dan bersatu untuk terus memberitakan carut marut ini kepada khalayak ramai. Seolah bersekongkol untuk membunuh harapan rakyat Indonesia yang masih optimis sepakbola Indonesia masih bisa bangkit lagi. Menutup mata orang-orang agar selalu terfokus pada masalah. Sialnya, dampak masalah ini pun semakin menjalar dan tidak lagi tepat sasaran. Hal ini terlihat ketika timnas bertanding di GBK dan sepi penonton. Hey, pemain-pemain timnas bukan subjek permasalahannya, mereka tetap butuh dukungan dan support dari kita semua.


Namun, Ini hanya perkara dimana sudut tempat kita memandang saja.


Opini publik bagaikan pisau bermata dua yang bisa berdampak positif, namun juga bisa digunakan untuk mengarahkan pandangan publik ke arah negatif, walaupun keduanya belum tentu benar. Kondisi yang kedua ini yang terjadi di Indonesia. Dan opini publik ini sebagian besar “dibentuk” lewat media massa, karena memang sebegitu besarnya peran media massa di sini. Apa yang kita lihat setiap hari, itulah yang akan kita ingat, dan itulah yang akan kita percaya terhadap  suatu hal. Jika sudut pandang kita untuk sepakbola Indonesia terbatas dari apa yang selalu diberitakan saja, maka kegelapan inilah yang kita percaya. Padahal, mungkin ada sisi lain disana yang lebih terang tapi kita tidak melihatnya.

Seperti Itulah yang terjadi di sepakbola Indonesia, masalah dan masalah tentang kisruh Djohar vs La Nyalla adalah konsumsi sehari-hari kita, menu tetap berita olahraga dalam negeri. Itu semualah yang kita “makan”. Kita lupa bahwa ada “makanan lokal bergizi” lainnya dalam bentuk Hendra Bayauw, Ramdani Lestaluhu, Yosua Pahabol, Alan Martha, Andik Vermansyah yang tidak kita “konsumsi”. Atau “makanan lokal yang diekspor” seperti Arthur Irawan, Syamsir Alam, Alfin Tuasalamony, Yericho Christiantoko, Yandi Munawar, juga “makanan impor rasa lokal” layaknya Diego Michiels dan Kim Jeffrey. Mereka semua kelahiran 1990an. Karier sepakbola mereka masih panjang, skill cukup mumpuni, dan sedang mencari pengalaman bertanding. 


Intinya, mereka semua memenuhi kriteria : Muda, beda dan berbahaya.


Salah satu “produsen makanan” ini, S.A.D Indonesia, masih rajin membina pemain muda Indonesia di ujung dunia yang lain. Di bawah bimbingan pelatih Cesar payovich, mereka telah ikut berkompetisi sejak 2007, mengirim tim U-17 dan U-19 untuk bertanding disana. Saat ini sudah tiga angkatan yang berhasil dikirim kesana. Syamsir, Yericho, dan Alfin adalah alumni S.A.D yang sekarang sedang mencoba aroma persaingan liga Eropa bersama C.S. Vise. Atau Arthur Irawan, bek kanan kelahiran 1993 yang masih akan terus bersinar bersama Espanyol B. Andik Vermansyah sedang berusaha melewati kerasnya trial di D.C United, dan ia pasti mendapatkan sesuatu sepulangnya dari sana. Juga nama-nama yang sudah akrab di telinga kita seperti Irfan Bachdim, Kim Jeffrey, dan Diego Michiels. Dari kaki-kaki merekalah kita berharap gelimang prestasi akan hadir suatu saat nanti.

Liverpool, AC Milan, Arsenal, yang juga akan disusul Real Madrid dan Barcelona mendirikan akademinya di negeri ini. Fenomena ini perlu dimanfaatkan sebaik mungkin dan mendapat perhatian lebih demi kemajuan sepakbola Indonesia. Walaupun berbau bisnis, tapi apa salahnya berharap suatu nanti saat ada anak bangsa berkaus AC Milan dan bermain di Derby Della Madonnina? Atau  akan ada darah Papua sebagai sayap cepat di Arsenal menggantikan Theo Walcott yang sudah menua?. Memang ini tidak akan terwujud dalam dua tiga tahun, namun kita pasti bisa bersabar demi melihat hal itu terjadi. Jika cara menunggu klub Eropa mendirikan akademinya di Indonesia dirasa terlalu pasif, langkah yang ditempuh beberapa pemain muda kita dengan merantau ke negeri orang menunjukan ke-Bhinneka an pemain muda kita, berbeda-beda tapi tetap satu tujuan: membawa  tim Garuda kembali berjaya.

Saya tidak bermaksud untuk melupakan dosa Nurdin, Djohar, La Nyalla dan semua antek-anteknya dengan tulisan ini. Hanya berusaha memberikan sudut pandang lain yang sedikit lebih bercahaya. Bahwa sepakbola negeri ini baru akan beranjak dewasa, baru akan lepas landas, dan media memegang peranan penting dalam proyek ini. Nama-nama muda yang menjanjikan di atas akan menjadi rangsangan positif agar jutaan orang Indonesia kembali optimis pada timnasnya, kembali mendukung demi prestasi timnasnya. Juga menjadi stimulus positif bagi pemain-pemain yang lebih muda lagi seperti Hanif Sjahbandi (ia mendapat undangan untuk berpartisipasi di World Skills Finals 2009 yang dilangsungkan di Old Trafford), Tristan Alif Naufal (ia berlatih di Liverpool FC International Football Academy) dan yang lainnya untuk terus berusaha dan mengikuti jejak mereka, dan kita tidak akan pernah kehabisan bakat muda karena itu.


Semoga semua rencana Tuhan ini indah pada waktunya. Saat semua tunas muda itu matang, PSSI telah “sembuh” dan menjadi organisasi sepakbola yang seharusnya.

23 Sept 2012

Dilema Italia, Ketika "Catenaccio" mulai dilupakan



Pecinta Bola sejati, baik penggemar Serie A, BPL, atau pun La Liga, pasti pernah mendengar kata "Catenaccio". Pola permainan khas dari Negeri Pizza yang pada masa jayanya diadopsi oleh hampir seluruh klub di Italy dan di takuti di eropa.






Defense! Defense! Defense!






ya, Catenaccio adalah pola permainan yang lebih menjurus kearah defense. pola ini sangat dekat dengan klub yang berasal dari Italy. Tujuan dari diterapkannya pola ini dilapangan hanya ada 2, yaitu Mementahkan Serangan Lawan dan Menjaga agar gawang tidak kebobolan. Pola permainan yang dianggap tidak menarik ini sungguh menakutkan bagi tim dari luar Italy, karena kekokohan barisan belakang. "Catenaccio" sempat menjadi trend seiring dengan populernya sepakbola italy pada tahun 80 Akhir, Dekade 90an, dan 2000 awal.






Tapi lihat sekarang,gaung dari " Catenaccio" hampir tidak terdengar. para pecandu bola lebih menggaungkan TikiTaka khas Barcelona. bahkan banyak orang lebih mengenal Total Football khas belanda daripada " Catenaccio". wajar saja hal itu terjadi, 2 tahun belakangan, Sepakbola Italy mengalami penurunan yang cukup signifikan dalam hal permainan maupun daya tarik. sehingga semakin sedikit orang yang memperhatikan liga italy.






Ibarat kapal, Badai tak kunjung pergi dari persepakbolaan italy, mulai dari badai Moggiopoli dilanjut ke krisis keuangan. walaupun Matahari sesekali terbit ( Milan dan Inter menjuarai Liga Champion diantara masa tsb) namun secara keseluruhan persepakbolaan Italy mengalami Penurunann kualitasnya. puncaknya adalah tahun 2012 ini, Eksodus Bintang besar-besaran ( Thiago Silva, Ibrahimovic (milan) , Pastore (palermo/musim lalu), Lavezzi ( Napoli) , Veratti ( Pescara) ) membuat sepakbola italy makin dianggap membosankan. belum lagi Legenda italy yang "terpaksa" meninggalkan Italy, seperti Del piero, Gattuso, Nesta. dan pemain yang pensiun seperti Inzaghi dan Zambrotta. hal tersebut makin memperburuk keadaan sepak bola italy dan memperkokoh ketidak-menarikkan liga italy. diperparah dengan fakta jika musim 2012 ini, hanya 2 wakil italia yang berlaga di fase grup Liga Champions.






Saya seorang milanisti, membenci inter, menghormati juve, pecinta italy.. dan dengan berat hati harus mengatakan, LIGA INGGRIS dan LIGA SPANYOL lebih MENARIK dari LIGA ITALY






saya pribadi sedih, pola permainan paling efektif sedunia, " Catenaccio" sebagai trademark persepakbolaan italia , kalah populer ketimbang "TikiTaka" atau "KicknRush".






tapi disini saya lebih suka membahas penyebab kenapa persepakbolaan italy mengalami kemunduran. hipotesis dari saya mengerucut pada beberapa hal, yaitu:










1.Seperti banyak orang bilang sebelumnya, permasalahan utama adalah FINANSIAL. secara simpel, Klub-klub italy nyaris tidak mampu untuk membayar gaji tinggi untuk pemain bintang. itu karena pemerintah mengenakan pajak yang tinggi pada gaji pemain. otomatis pemain yang merasa usahanya layak untuk diganjar dengan gaji tinggi lebih senang hengkang dari italy. krisis moneter yang diderita italy makin memperparah keadaan dan mempersulit klub-klub untuk belanja






2. Dukungan pemerintah lokal masih terkesan "minim". bila dilihat dari stadionnya, kecuali Kandang Juve yang baru, semua stadion di italy sistemnya adalah Sewa ke pemerintah kota setempat. sehingga uang hasil penjualan tiket tidak bisa dioptimalkan oleh klub. hal itu sebenernya masih berhubungan dengan Finansial, karena pada dasarnya, Italy sendiri ( termasuk persepakbolannya) sedang dirundung krisis finansial yang memang sedang mendera ekonomi di eropa.






3. Tim Marketing Serie A masih kalah dibanding La Liga, Terutama BPL yang menurut saya memiliki strategi marketing yang terbaik diantara semua liga sepakbola yang ada. Bandingkan saja dari Jadwal pertandingan. BPL memiliki jadwal yang sangat bervariasi sehingga dalam seminggu, pecinta sepakbola sejati di regional Asia saja masih bisa menonton setidaknya 6-7 pertandingan BPL secara live dalam sepekan. sementara Serie A paling banyak 3-4 pertandingan sepekan.






4. Distribusi kekuatan pada BPL bisa dibilang lebih merata dibanding Serie A (soal distribusi kekuatan, tentu saja kita bisa mengeliminasi La Liga karena sejatinya La Liga cuma diisi Madrid dan Barca. ). apakah hal itu berpengaruh ke kualitas Serie A? tentu saja!!.. ditambah lagi dengan gaya bermain di BPL yang cenderung lebih offensif, fluktuatif, dan menghibur membuat sepakbola italy menjadi sangat-sangatlah monoton. hal tersebut berpengaruh langsung pada Kualitas Pertandingan yang digelar.






Hasil pertandingan memang bisa bermacam-macam, namun JALANNYA pertandingan cenderung bisa diprediksi, sepakat?...






nah pada BPL Hasil pertandingan dan Jalannya pertandingan cenderung tidak bisa diprediksi secara akurat. jalannya pertandingan pada Serie A mudah sekali ditebak. mind set tim yang tidak diunggulkan adalah bertahan, otomatis tim yang dianggap pebih kuat akan menyerang. jalannya pertandingan 90% akan seperti itu dan biasanya tim unggulan akan kejebolan dari counter attack karena mereka terlalu fokus menyerang. ironis? sangat!!.. siapa sih yang mau ngikutin liga yang kaya begitu? yaa paling tifosi-tifosi sejatinya aja yang masih bertahan.






5. Terlalu banyak skandal pada Sepakbola Italy. ada banyak kasus mengenai Suap-Menyuap Wasit, dan Ratusan Kasus perjudian yang Menjerat Para Pemain dan Pelatih sepakbola.skandal yang terakhir umum terdengar tentu saja skandal yang melibatkan Allenatore Juventus, Antonio Conte yang terkena sanksi tidak boleh mendampingi juve selama 10 bulan karena tersangkut kasus perjudian.


Skandal itu dekat dengan kecurangan. kecurangan itu anonim dari sportifitas. sehingga membuat orang meragukan kualitas dari Serie A.. saya rasa semua udah tau tarikan pembicaraan saya kemana :)










Tapi!!! dari semua hal jelek yang kita bahas diatas, ada beberapa hal positif yang bisa kita bahas, diantaranya:


1. Perkembangan Sektor youth italy yang sangat pesat!!.. tim U-21 Italy berani diadu sama tim U-21 manapun!!.. segelintir nama yang sekarang udah jadi pembicaraan, El Shaarawy, Insigne, Immobile, Veratti, Mattia Perin, De Sciglio, Giovinco, dan lain lain... berhubung klub ngga bisa beli, jadi sistem youth di optimalkan dan hasilnya tahun ini banyak pemain muda italy yang mencuat ke permukaan dan mencuri perhatian.






sebenernya buat sekarang, saya rasa itu aja.. hal positif lainnya ya bangkitnya Juventus :).. Saya milanisti, tapi saya ikut senang kalo Juventus kembali ke performa puncak.. semoga pada akhirnya, Milan-Juve yang akan bersaing memperebutkan scudetto, seperti musim lalu..






tentunya, saya ingin "Catenaccio" mendapat pengakuan lagi, sebagai gaya bermain papan atas yang tidak semua Klub bisa menerapkan.. Kita lihat saja nanti :)






FORZA CALCIO!!

Fans Karbitan dan Merconan

Saya ingat ketika dulu saat masih berumur sekitar 7 tahun, saya dibelikan sebuah jersey oleh ayah saya. Ya, jersey Manchester United. Tepatnya tahun 1998, saya mulai menggemari sepak bola dan tentunya mulai menyukai Manchester United di saat United berhasil merengkuh treble winner. Awalnya, pemain yang saya tahu hanya si tampan bertalenta yang tidak lain dan tidak bukan adalah David Robert Beckham.

Courtesy: fansonline.net
Saya bisa mengakui saya bukan orang yang die-hard fans sejak dahulu kala. Terkadang, saya pun terlelap sebelum pertandingan United bahkan di tengah pertandingan. Saya juga bukan fans yang hafal betul seluruh tahun-tahun kemegahan United dan pemain legenda. Sungguh bukan fans sejati seperti yang biasa orang katakan, bukan? Tapi apalah arti fans sejati?

Tak ada yang tahu hati seseorang melainkan dirinya sendiri dan Tuhan. Bukan tidak mungkin ada orang yang senang mengoleksi jersey sebuah tim namun jarang menyaksikan tim itu bermain. Bukan tidak mungkin ada orang yang tak pernah nge-tweet tentang tim kesukaan mereka, namun selalu tahu seluk beluk tim tersebut. Selalu ada kemungkinan.

Istilah-istilah untuk fans pun muncul. Fans karbitan, sebutan untuk fans yang disebut hanya sekedar ikut-ikutan mendukung saja. Fans City paling sering dianggap demikian karena umurnya yang baru seumur jagung sebagai pesaing juara EPL. Ada juga yang bilang bahwa fans karbitan adalah fans yang tak pernah benar-benar tahu tim kesayangan mereka sampai pemain yang ditransfer keluar oleh tim mereka pun mereka tak tahu. Tapi, sekali lagi, siapa yang tahu?

Tak ada pembakuan arti fans sejati atau fans karbitan. Mengutip perkataan Pangeran Siahaan, kita hanya akan dilihat sebagai "Asian's Market" oleh klub kesayangan kita tentunya. Yang jelas, tak perlu ada klasifikasi fans karena semua fans hanya perlu tidak terlalu sensitif dan provokatif tentunya terhadap fans lain.

16 Sept 2012

The Reality of Footballing Life


The reality of footballing life is this:
The chairman is the boss,
then comes the directors...
then the secretary, then the fans,
then the players...
and then finally, last of all...
bottom of the heap,
the lowest of the low...
comes the one, who in the end,
we can all do without...
the fucking manager.

Quoted from:
Sam Longson -Derby County Chairman
The Damned United, 2009

15 Sept 2012

Soccer Maniac Syndrome (SMS)

SMS. Tentunya bukan sesuatu yang sering kita kirim kepada kekasih kita dan juga bukan promosi dari sebuah produk sosis instan. Soccer Maniac Syndrome, kepanjangannya. Tapi, mari kita lupakan tentang masalah akronim ini dan mulai bercerita tentang SMS itu sendiri.

Banyak orang rela menonton bola pada tengah malam sambil meneguk soda atau bir bersama kacang kulit atau teman sebaya. Di pagi harinya, mereka tampak kikuk dengan diri mereka sendiri dan mulai menjalani hidup secara lambat akibat menjadi manusia nokturnal beberapa saat. Hal ini akan terjadi terutama ketika mulai menjelang laga besar atau menurut salah satu program ANTV sering disebut SUPER BIG MATCH.

Namun, masalah itu tentunya terlalu personal. Every man for himself. Mereka harusnya bisa bertanggung jawab terutama untuk mereka sendiri. Yang ingin saya soroti adalah mengenai penderita SMS ini berinteraksi dan berperilaku.

Penderita SMS ini biasanya mendukung dengan luar biasa hebatnya. Isi twitter mereka kebanyakan me-retweet akun tim bola kesayangan, jersey bola yang dimiliki pun minimal jersey KW Thai dengan Player Issue, dan tentunya seakan rela memberi apapun untuk tim kesayangan. Saya tak tahu bagaimana sebuah tim bisa mem-brain wash para pendukungnya secara total, tapi yang harus ditinjau adalah bagaimana mereka begitu reaktif terhadap hal-hal mengenai tim yang mereka dukung.

Indikasi dari penderita SMS ini adalah mereka akan luar biasa senang apabila tim mereka menang dan mereka akan super duper senang apabila, secara bersamaan, tim rival mereka menang. Dari sana, ungkapan-ungkapan mulai timbul. Umpatan, hinaan, ejekan, atau sindiran tak pelak hadir di akun sosial media mereka bagi tim rival yang kalah. Tak jarang, twitwar pun muncul dan bisa memecah pertemanan. Di sisi lain, ketika tim mereka menelan kekalahan, they just make a justification of it. Kalau tidak, ya cukup menghilang saja dari linimasa.

Dari beberapa indikasi ini, penderita SMS ini tentunya bisa berkembang menjadi akut. Mereka nampak mati tanpa ada tim kesayangan mereka. Mereka rela kehilangan sesuatu yang berharga demi tim kecintaan. Sulit melihat sisi terang dari penderita SMS akut ini tentunya. Mereka terlalu reaktif dan sensitif.

Untuk mengobati SMS ini, meminum paracetamol bukan merupakan langkah yang tepat. Belajar menghargai tim lawan dan berpikir secara objektif tentunya bisa dilatih secara perlahan namun pasti. Janganlah kita mengorbankan diri kita terlalu banyak bagi tim kesayangan kita yang notabene malah mengambil banyak untung dari kita. Bila SMS berlanjut, hubungi dokter.

8 Sept 2012

Secimit, tentang Financial Fair Play

Sejak musim 2011/2012 kemarin, Sepakbola Eropa sedang mengalami sebuah transisi besar-besaran. Mungkin sebagian dari kita sadar bahwa Expenditure ( pengeluaran ) dari klub-klub Sepakbola Eropa semacam Manchester City dan PSG sangatlah Keterlaluan berlebihan. Sebenernya masih banyak klub yang masuk kategori “ Royal “ tidak hanya dalam berbelanja, tapi juga dalam penggajian pemain. Sebut aja, Barcelona, Real Madrid, Chelsea, Manchester United, dan baru-baru ini ZENIT St. Petersburg!!!

Klub diatas masuk kategori klub-klub kaya yang biasanya royal dalam berbelanja pemain. Selain Barcelona, Madrid, dan MU yang kekayaannya bukan hanya berasal dari sang pemilik, melainkan berasal dari kesepakatan sponsor, penjualan merchandise, dan hak siar televisi, sisa dari klub diatas murni “kaya” karena pemiliknya. Manchester City terus menerus memecahkan rekor transfer 10 besar eropa.,PSG belanjanya kaya orang KALAP, Chelsea terkenal getol mendatangkan pemain dari berbagai klub dengan harga mahal sejak musin 2003/2004, Zenit yang dimiliki Gazprom ( Oil n Gas Company dari Rusia) baru saja membeli Hulk dan Witsel dengan estimasi total harga keduanya mencapai €90 M.

Siapa yang ngga panik kalo liat mereka? Dengan sutikan dana yang bisa mencapai €200m - €250m semusim ( termasuk biaya pengelolaan klub ) dari pemiliknya, mereka dalam setahun bisa datengin minimal 2 pemain berkualitas yang seringnya adalah asli pemain klub papan tengah. Bisa ditebak, klub papan tengah itu pun akhirnya terjun bebas di musim selanjutnya. Untuk itu, Michel Platini melalui UEFA membuat suatu peraturan yang untuk selanjutnya kan sering disebut dengan FINANCIAL FAIR PLAY

Financial Fair Play, atau biasa disebut FFP merupakan suatu terobosan baru dari Michel Platini selaku Presiden UEFA untuk meminimalisir hutang yang dimiliki setiap klub anggota UEFA. FFP ini diklaim platini, yang merupakan legenda sepakbola perancis, mendapatkan dukungan dari semua asosiasi sepakbola yang terdaftar pada UEFA. FFP sudah dilaksanakan semenjak musim 2011/2012 lalu, dan sedang dalam tahun kedua tahap “Pemanasan” sebelum peraturan yang ada akan benar-benar ditegakkan. Setiap klub diwajibkan untuk mencapai Break Even (bahasa nyelenehnya adalah “Balik Modal” ) dalam waktu 3 tahun semenjak FFP resmi diberlakukan ( 1 juli 2011 ). Masa “pemanasan” ini akan berakhir pada 1 juli 2014, dan selanjutnya aka nada “hukuman” berupa larangan tampil di kompetisi eropa bila pada akhirnya.

Sistem dari 2011-2014 dan 2014-2017, seperti yang dikutip dari Goal.Com indonesia adalah seperti ini

“Sebagai kompromi awal, klub-klub yang mengalami total kerugian kerugian £39,5 juta dalam tiga tahun berikut masih akan diperbolehkan berlaga.

Kompromi lainnya, klub diperbolehkan mendapatkan subsidi dari pemilik dalam bentuk investasi permanen dengan imbalan saham, bukan dipinjamkan seperti yang dilakukan Roman Abramovich saat kali pertama mengambil alih Chelsea. Jika pemilik tidak mampu menutupi utang, kerugian maksimal yang dapat ditolerir adalah £4,4 juta.

Mulai 2014 sampai 2017, total kerugian yang ditolerir akan turun sampai £26,3 juta. UEFA akan mengatasi ketat setiap klub dalam tiga tahun ini, karena setelah itu diharapkan setiap klub belajar menyeimbangkan neracanya dan mencapai break even”

Tujuan Utama Michel Platini dari diterapkannya FFP ini adalah membuat kompetisi eropa yang “sehat” bagi 660 klub papan atas eropa dari 53 negara yang akan bermain di Kompetisi Eropa seperti Liga Champions dan Europa League.


Peraturan ini secara ngga langsung bakal membuat klub-klub eropa sedikit lebih berfikir untuk berbelanja. Kedepannya, peribahasa “Besar Pasak daripada Tiang” bisa saja benar-benar tidak akan terdengar lagi di kancah eropa. Kalo saja kebijakan ini benar-benar diterapkan pada 2014-2017 nanti, apa efek yang terlihat? Saya berani jamin kalo Ronaldo akan selamanya menjadi pemain termahal dunia hingga nanti mungkin saja ada sebuah klub yang memenangi treble (atau Quadrupel) secara 3 tahun beruntun sehingga harga saham klub tersebut naik, popularitas naik, dan Revenue nya menjadi sangat besar.

6 poin yang perlu dicermati dari FFP ini adalah:


1. Tiga Tahun untuk “ Break Even” ( semenjak 2011)


2. Kerugian maksimum klub adalah £39,5m sampai tahun 2014


3. Dari 2014-2017 , kerugian maksimum klub adalah £26.3m


4. Pemilik klub tidak dapat melakukan Bail Out dengan kekayaan pribadinya


5. Klub yang melanggar tidak akan diizinkan berlaga di kompetisi eropa terhitung sejak musim 2014/2015


6. Ada komite Pengotrol Keadaan Finansial Klub yang akan terus memantau Neraca Keuangan Klub


Pada artikel selanjutnya, saya akan secara awam ngebahas dampak dari FFP ini, mulai dari pengembangan youth Sector sampai Belanja segila-gilanya ala PSG.


Wait for it!!

Pekerjaan Rumah Timnas Kita

Duh. Begitu ngilunya hati saya ketika melihat peringkat FIFA timnas kita yang kian terpuruk dari hari ke hari. Baru beberapa bulan yang lalu kita turun jauh, sekarang kita sudah terkapar di posisi ke-168 dari ranking FIFA. Yang miris adalah beberapa negara yang nampaknya jauh dari pandangan mata kita ternyata memiliki ranking FIFA yang lebih baik dari Garuda, contohnya Fiji, Nepal, sampai Madagascar yang sering kita tonton dalam kartun sebagai negara yang nampaknya berisi lebih banyak hewan ketimbang manusianya.

Sungguh menyedihkan tentunya mendapati prestasi buruk tersebut. Tak perlu lagi kita mengagungkan bahwa timnas kita adalah negara Asia pertama yang tampil di Piala Dunia walau namanya masih Hindia-Belanda. Peringkat FIFA terbaik yang pernah kita raih adalah posisi ke-76 pada tahun 1998. Kita pernah lebih baik dari China, Iraq, bahkan Finlandia apabila dibandingkan dengan peringkat saat ini.

Era tahun 1995-1998 memang era terbaik yang pernah kita miliki. Widodo C Putro yang kini menjadi pelatih, pernah mencetak gol lewat tendangan salto ketika bertanding melawan Kuwait di AFC Cup 1996. Dia pun patut berbangga hati seperti ketika Rooney mencetak gol dengan metode yang sama ketika melawan City musim lalu. Widodo pun terhitung cukup produktif dalam mencetak gol karena mampu mengemas 15 gol dari 55 pertandingan Timnas. Tetapi, kini Widodo harus lebih sanggup menahan tangis daripada mengumbar kebanggaan karena performa Timnas kita semakin memburuk.

Dualisme PSSI yang hadir kian membuat carut marut persepakbolaan Indonesia. Campur aduk antara Timnas kepentingan PSSI dan Timnas kepentingan KPSI (tandingan dari PSSI) membuat bingung banyak pihak mengenai arah Timnas akan dibawa. Saya rasa hal ini akan sangat panjang saya bahas apabila saya angkat di sini. Namun, saya lebih memilih untuk menahannya di artikel selanjutnya lain kali.

Intinya, Indonesia kini sedang terjatuh dan terjatuh lagi. Uluran-uluran tangan palsu hanya akan membuat kita terperosok lebih dalam. Mana kehadiran tangan-tangan yang mampu membawa kita ke arah yang  lebih baik?

2 Sept 2012

Buka-Tutup Jendela Transfer

Pagi hari akan terasa lebih nyaman ketika kita membuka jendela kamar kita. Sinar matahari pun bisa masuk ke kamar kita dengan leluasa karenanya. Begitu pula dengan jendela transfer pemain yang selalu dinantikan oleh semua penggila sepakbola. Begitu jendela itu dibuka harapan-harapan pun datang tanpa memikirkan adanya PHP (Pemberi Harapan Palsu).

Jendela transfer pemain biasanya berawal pada sekitar bulan Juli atau Agustus. Sejak saat itu, berbagai klub melakukan PDKT terhadap pemain yang diincarnya. Seperti halnya pada pacaran, beberapa klub memberikan perhatian lebih terhadap pemain incaran, memberi janji-janji indah, dan tentunya memberi penawaran, "Maukah kau menjadi milikku?". Beberapa pendekatan itu berujung manis, namun tak sedikit yang berakhir tragis dengan penolakkan atau pembelotan terhadap klub lain. Para pemain pun bisa "putus" secara sepihak dengan klub yang didiaminya sekarang karena berbagai macam hal.

Clint Dempsey, misalnya, digosipkan melakukan #kode yang begitu luar biasa kepada Liverpool di awal-awal jendela transfer musim lalu. Ujarnya, dia ingin berprestasi lebih di Liverpool walau saya pribadi agak aneh. Namun, Fulham nampaknya masih berhasrat memilikinya dan mencoba menjauhkan dari rayuan gombal klub lain. Akhirnya, Clint "ngambek" dan enggan berlatih selama beberapa pekan. Ya, itu pun #kode kepada Fulham yang keras kepala agar segera melepasnya. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Clint dilepas ke Tottenham yang tidak terlihat di radai pengintaian sebelumnya.

Memang menyaksikan drama jendela transfer seperti melihat FTV yang endingnya sedikit twisting. "Akting" dari beberapa pemain dan punggawa EPL tentunya masih yang terlihat mumpuni dibanding liga lain. Kemarin, jendela transfer beberapa bagian Eropa pun ditutup. Harapan-harapan baru pun ditutup, selayaknya jendela di malam hari. Tentunya, beberapa klub pun tidak mau "masuk angin" karena terlalu banyak menerima "angin" dari luar sehingga keuangan jebol. Beberapa newcomers telihat masih kikuk dengan klub yang baru dibelanya, beberapa lainnya muncul bak Superman menjemput Lois Lane dari bahaya. Kita tunggu saja bagaimana drama jendela transfer ini berpengaruh besar terhadap klub-klub.

1 Sept 2012

Where it Begins

Sebuah blog berisikan pendapat dari setiap insan fans sepakbola..

"we may not be the first, but we'll be the one to remember"

setiap orang berhak berpendapat tentang sepakbola, dan pendapatnya juga bisa berbagai macam.
ngga perlu bijak, asalkan fakta
ngga perlu formal, asalkan tanpa rekayasa
semua pendapat disini murni dari hati, ngga pake dibuat-buat.
mulai dari La Liga yang itu-itu aja, BPL yang lumayan rame, Serie A yang berantakan, ato Bundesliga yang lagi naik daun.

"Bola" aka "SepakBola" itu bahasa universal, bisa jadi bahasa persahabatan, atau bahasa rivalitas.
dari "Amateur" sampe "Expert" boleh berbicara (cuma mbokya jangan amateur-amateur amat )

Apapun itu, kami tetap menjungjung tinggi sportivitas, cela apa yang perlu dicela, sanjung apa yang perlu disanjung