25 Sept 2012

Djohar-La Nyalla vs Syamsir, Arthur, Andik dll.

Siapa orang Indonesia yang tidak mengenal La Nyalla Mattalitti?  Siapa pula di kolong bumi nusantara ini yang tidak mengenal Djohar Arifin? Siapa yang tidak gemas dengan tingkah laku keduanya dan semua kekacauan yang mereka buat? Dunia persepakbolaan negeri ini sudah cukup menderita dengan kondisi sekarang. Mereka yang berada di pucuk pimpinan seperti tidak peduli sama sekali dengan realita yang terjadi. Seolah ketua umum PSSI adalah sebuah posisi strategis untuk menjadi batu loncatan semata, atau untuk menguasai pos yang lebih besar bersama golongannya masing-masing. Dalam kurun waktu kurang dari dua tahun, dunia sepakbola  Indonesia berubah 180 derajat.


Saat dikira akan lepas landas, ternyata malah karam lebih dalam dari sebelumnya...


Di akhir tahun 2010, kita masih ingat betapa hingar bingar dukungan masyarakat menyertai perjuangan Firman Utina dkk selama AFF Cup di Jakarta. Stadion Utama Gelora Bung Karno selalu penuh selama gelaran tersebut, tak henti-hentinya media memberitakan tentang optimisme menjadi juara AFF untuk pertama kalinya saat itu.


Antiklimaks. Ya, kita sama-sama tahu akhir dari semua euforia saat itu...


Pasca AFF 2010, semua dukungan tersebut berubah menjadi angkara murka mencari kambing hitam atas kondisi sepakbola Indonesia yang nihil prestasi. Banyak mata tertuju kepada Nurdn Halid selaku ketum PSSI saat itu sebagai biang keladi penyebab kegagalan timnas berprestasi dalam kurun satu dekade terakhir. Bermacam konklusi dan solusi ditawarkan oleh berbagai kalangan. Pengamat sepkabola, mantan pemain, hingga rakyat jelata bersuara demi perbaikan sepakbola Indonesia. Namun, tak disangka-sangka, justru itulah awal dari badai kehancuran yang lebih besar lagi. Alih-alih menjadi turning point untuk kembali lepas landas sebagai macan asia, kisruh PSSI saat itu malah menggiring dunia sepakbola Indonesia karam lebih dalam seperti kondisi seperti saat ini.

Dualisme liga, ketidak jelasan aturan kompetisi, sanksi untuk membela timnas “tandingan”, bahkan hingga dikotomi timnas (yang menurut pendapat saya sangat menurunkan “nilai” sebagai seorang pemain timnas) adalah konsekuensi nyata yang harus diterima sepakbola negeri ini. Dua nama yang saya sebut pertama tadi menjadi aktor kunci permainan ini. Menjadi musuh bersama jutaan orang yang bahagia atas kemenangan tim Garuda. Gocekan dan lesakkan gol ke gawang lawan tidaklah menjadi hal yang dinanti rakyat lagi saat ini.

Media, baik cetak maupun elektronik, seakan kompak dan bersatu untuk terus memberitakan carut marut ini kepada khalayak ramai. Seolah bersekongkol untuk membunuh harapan rakyat Indonesia yang masih optimis sepakbola Indonesia masih bisa bangkit lagi. Menutup mata orang-orang agar selalu terfokus pada masalah. Sialnya, dampak masalah ini pun semakin menjalar dan tidak lagi tepat sasaran. Hal ini terlihat ketika timnas bertanding di GBK dan sepi penonton. Hey, pemain-pemain timnas bukan subjek permasalahannya, mereka tetap butuh dukungan dan support dari kita semua.


Namun, Ini hanya perkara dimana sudut tempat kita memandang saja.


Opini publik bagaikan pisau bermata dua yang bisa berdampak positif, namun juga bisa digunakan untuk mengarahkan pandangan publik ke arah negatif, walaupun keduanya belum tentu benar. Kondisi yang kedua ini yang terjadi di Indonesia. Dan opini publik ini sebagian besar “dibentuk” lewat media massa, karena memang sebegitu besarnya peran media massa di sini. Apa yang kita lihat setiap hari, itulah yang akan kita ingat, dan itulah yang akan kita percaya terhadap  suatu hal. Jika sudut pandang kita untuk sepakbola Indonesia terbatas dari apa yang selalu diberitakan saja, maka kegelapan inilah yang kita percaya. Padahal, mungkin ada sisi lain disana yang lebih terang tapi kita tidak melihatnya.

Seperti Itulah yang terjadi di sepakbola Indonesia, masalah dan masalah tentang kisruh Djohar vs La Nyalla adalah konsumsi sehari-hari kita, menu tetap berita olahraga dalam negeri. Itu semualah yang kita “makan”. Kita lupa bahwa ada “makanan lokal bergizi” lainnya dalam bentuk Hendra Bayauw, Ramdani Lestaluhu, Yosua Pahabol, Alan Martha, Andik Vermansyah yang tidak kita “konsumsi”. Atau “makanan lokal yang diekspor” seperti Arthur Irawan, Syamsir Alam, Alfin Tuasalamony, Yericho Christiantoko, Yandi Munawar, juga “makanan impor rasa lokal” layaknya Diego Michiels dan Kim Jeffrey. Mereka semua kelahiran 1990an. Karier sepakbola mereka masih panjang, skill cukup mumpuni, dan sedang mencari pengalaman bertanding. 


Intinya, mereka semua memenuhi kriteria : Muda, beda dan berbahaya.


Salah satu “produsen makanan” ini, S.A.D Indonesia, masih rajin membina pemain muda Indonesia di ujung dunia yang lain. Di bawah bimbingan pelatih Cesar payovich, mereka telah ikut berkompetisi sejak 2007, mengirim tim U-17 dan U-19 untuk bertanding disana. Saat ini sudah tiga angkatan yang berhasil dikirim kesana. Syamsir, Yericho, dan Alfin adalah alumni S.A.D yang sekarang sedang mencoba aroma persaingan liga Eropa bersama C.S. Vise. Atau Arthur Irawan, bek kanan kelahiran 1993 yang masih akan terus bersinar bersama Espanyol B. Andik Vermansyah sedang berusaha melewati kerasnya trial di D.C United, dan ia pasti mendapatkan sesuatu sepulangnya dari sana. Juga nama-nama yang sudah akrab di telinga kita seperti Irfan Bachdim, Kim Jeffrey, dan Diego Michiels. Dari kaki-kaki merekalah kita berharap gelimang prestasi akan hadir suatu saat nanti.

Liverpool, AC Milan, Arsenal, yang juga akan disusul Real Madrid dan Barcelona mendirikan akademinya di negeri ini. Fenomena ini perlu dimanfaatkan sebaik mungkin dan mendapat perhatian lebih demi kemajuan sepakbola Indonesia. Walaupun berbau bisnis, tapi apa salahnya berharap suatu nanti saat ada anak bangsa berkaus AC Milan dan bermain di Derby Della Madonnina? Atau  akan ada darah Papua sebagai sayap cepat di Arsenal menggantikan Theo Walcott yang sudah menua?. Memang ini tidak akan terwujud dalam dua tiga tahun, namun kita pasti bisa bersabar demi melihat hal itu terjadi. Jika cara menunggu klub Eropa mendirikan akademinya di Indonesia dirasa terlalu pasif, langkah yang ditempuh beberapa pemain muda kita dengan merantau ke negeri orang menunjukan ke-Bhinneka an pemain muda kita, berbeda-beda tapi tetap satu tujuan: membawa  tim Garuda kembali berjaya.

Saya tidak bermaksud untuk melupakan dosa Nurdin, Djohar, La Nyalla dan semua antek-anteknya dengan tulisan ini. Hanya berusaha memberikan sudut pandang lain yang sedikit lebih bercahaya. Bahwa sepakbola negeri ini baru akan beranjak dewasa, baru akan lepas landas, dan media memegang peranan penting dalam proyek ini. Nama-nama muda yang menjanjikan di atas akan menjadi rangsangan positif agar jutaan orang Indonesia kembali optimis pada timnasnya, kembali mendukung demi prestasi timnasnya. Juga menjadi stimulus positif bagi pemain-pemain yang lebih muda lagi seperti Hanif Sjahbandi (ia mendapat undangan untuk berpartisipasi di World Skills Finals 2009 yang dilangsungkan di Old Trafford), Tristan Alif Naufal (ia berlatih di Liverpool FC International Football Academy) dan yang lainnya untuk terus berusaha dan mengikuti jejak mereka, dan kita tidak akan pernah kehabisan bakat muda karena itu.


Semoga semua rencana Tuhan ini indah pada waktunya. Saat semua tunas muda itu matang, PSSI telah “sembuh” dan menjadi organisasi sepakbola yang seharusnya.