25 May 2013

Yang Tertinggal Dari Wembley Malam Ini



Kursi-kursi penonton akan menjadi hangat selama beberapa jam selagi menunggu dinginnya angin kota London meredakan temperatur dari kursi tersebut. Beberapa botol bir dan bungkus makanan mungkin sedikit tergeletak di sudut stadion yang agak tercecer. Pita-pita bekas semacam untuk perayaan nampaknya akan sedikit bersisa di lantai-lantai tribun.

Itu lah mungkin sedikit gambaran yang akan terjadi selepas final Liga Champions malam ini. Stadion Wembley memang telah dipilih untuk menjadi stadion penutup perhelatan akbar antar klub-klub top flight Eropa. Bukan tidak berdasar, pemilihan Wembley bisa jadi krusial karena Stadion Wembley yang mungkin masih menyandang stadion termegah di Eropa saat ini.

90.000 kursi pasti telah terpesan penuh untuk laga malam ini dan Anda yang baru datang ke London dan belum mendapatkan tiket tentu harus merogoh kocek dalam-dalam untuk mendapatkannya. Memang, tak banyak calo-calo tiket yang berkeliaran seperti di stadion kita dalam negeri yang bergerak seperti ayam-ayam yang keluar dari kandang untuk mencari cacing di pagi hari.

Siapapun yang menang nanti malam baik Bayern Munchen atau Borussia Dortmund akan berpesta di tanah orang. Kini, orang-orang Jerman akan bersatu seakan tak pernah ada batas di antara mereka seperti saat mereka dipisahkan oleh Tembok Berlin. Mereka akan merayakan satu hal yang sama: klub Jerman menjadi raja Eropa tahun ini.

Siapa yang patut disalahkan dari momen ini? Kehebatan klub Jerman. Tak dipungkiri bahwa dua klub yang bertemu di final ini adalah jebolan sebuah daratan di tengah Eropa yang sedang menggeliat kembali setelah kedigdayaan Spanyol beberapa waktu kemarin. Lihatlah mereka bermain seperti layaknya bocah-bocah yang menendang bola di sore hari. Penuh semangat.

Saya tak merasa harus menghakimi klub Inggris, Spanyol, Italia, atau negara lain yang terlihat tak kuasa menahan gempuran klub Jerman yang kini menjadi-jadi, namun mereka jelas harus berbenah diri. Mengingat kekuatan ini nampak terlalu kuat untuk dihancurkan dalam waktu dekat, mereka harus mawas diri dan berpikir lebih baik lagi.

Yang tersisa dari laga Wembley ini adalah sebuah kejayaan. Kejayaan dari Jerman yang mungkin pernah hadir saat mereka hebat di Piala Dunia saat masih berbentuk Jerman Barat. Sisanya, hanyalah sebuah peringatan. Peringatan kepada klub-klub non-Jerman yang harus siap menghadapi tahun depan yang lebih menantang.

9 May 2013

(Sir) Alexander (Chapman Ferguson) The Great



Blog ini hidup kembali dengan sebuah entri yang terlalu egois bagi saya pribadi. Mengapa? Karena saya sebagai orang yang menyisipkan Manchester United dalam hidup saya terlalu terpukul dengan berita yang gencar hadir di berbagai media yang kepo luar biasa.

Ya, ini memang artikel tentang pensiunnya Sir Alex Ferguson. Isi kepala saya meloncat jauh ke depan dan berpikir ulang bahwa ini bahkan bukan tentang obituari pelatih asal Skolandia itu. Obituari Sir Alex Ferguson akan lebih mendalam maknanya tentunya. Namun, ini memang tentang kepergian Sir Alex Ferguson ke dunia lain.

Dunia yang ditempatinya selama hampir 27 tahun ke belakang adalah dunia impian bagi anak-anak kecil yang menghabiskan sore hari mereka untuk menendang kulit bundar. Terlebih lagi, tertulis secara tak kasat mata bahwa arsiteknya adalah Fergie sendiri. Tentu, menyangkal pernyataan terakhir saya sedikit mendekati dengan menyangkal rumus kuantum fisika milik Albert Einstein.

Banyak artikel yang telah menyebutkan betapa banyak trofi yang diraih oleh pria tua renta berwajah merah ini. Namun, saya tahu bahwa trofi itu tidak lebih dari logam-logam yang akan berkarat kemudian bisa hancur di tempat insenerator sampah. Ini adalah masalah pencapaian yang panjang tentang konsistensi dan kepiawaian dalam bertindak menjadi seorang manajer.

Tahun 1986 mungkin tak berarti apa-apa bagi Manchester United selain perpindahan tahta pada masa itu. Kenangan bersama Sir Matt Busby terlalu manis untuk dilanjutkan. Kemudian, Fergie datang membawa harapan sebagai pelatih asal Skotlandia yang sukses bersama Aberdeen. Namun, semua akan berusaha mencari hujatan yang tepat ketika Fergie memulai debutnya dengan kekalahan 2-0 atas Oxford United.

Ada hal yang tidak berubah pada masa kini. 26 tahun kemudian, Fergie pun memulai musim ini dengan kekalahan melawan Everton yang dipimpin David Moyes yang digadang-gadang akan menggantikannya. Namun, satu hal yang pernah disesali oleh pecinta United ketika laga perdana Fergie adalah menengoknya sebagai pelatih yang akan mengantarkan Manchester United sebagai salah satu tim terbaik saat ini.

Seiring dengan kepergiannya, Old Trafford hanya akan terisi oleh suara-suara selain suara geraman atau kunyahan permen karet Fergie. Hanya lah sebuah patung dan nama tribun yang akan mengukir betapa kuatnya Manchester United di bawah lindungan Fergie. Sir Matt Busby pun berdecak kagum di atas sana atas prestasi Fergie.

Rezim ini kemudian akan berakhir dalam dua pekan yang akan sangat berharga bagi setiap fans United semenjak kedatangan Fergie. Ibu saya bahkan belum berpikir untuk memiliki anak seperti saya ketika Fergie hadir di Old Trafford. Namun, saya akan membalas hal itu dengan memberikan sebuah apresiasi yang mungkin terdengar seperti justifikasi ini.

Tak ada yang tahu Anda akan dilahirkan untuk mencintai klub sepakbola apa. Namun, Anda pasti tahu klub mana yang akan mengisi hari-hari Anda sebelum Anda dikebumikan. Sir Alex Ferguson menanamkan arti Manchester United begitu dalam pada diri saya. Sampai suatu hari seperti kepergian Fergie ini, dia hanya membiarkan benih itu tumbuh tanpa siraman darinya lagi.

Terima kasih, Sir Alexander Chapman Ferguson.