
Blog ini hidup kembali dengan sebuah entri yang terlalu egois bagi saya pribadi. Mengapa? Karena saya sebagai orang yang menyisipkan Manchester United dalam hidup saya terlalu terpukul dengan berita yang gencar hadir di berbagai media yang kepo luar biasa.
Ya, ini memang artikel tentang pensiunnya Sir Alex Ferguson. Isi kepala saya meloncat jauh ke depan dan berpikir ulang bahwa ini bahkan bukan tentang obituari pelatih asal Skolandia itu. Obituari Sir Alex Ferguson akan lebih mendalam maknanya tentunya. Namun, ini memang tentang kepergian Sir Alex Ferguson ke dunia lain.
Dunia yang ditempatinya selama hampir 27 tahun ke belakang adalah dunia impian bagi anak-anak kecil yang menghabiskan sore hari mereka untuk menendang kulit bundar. Terlebih lagi, tertulis secara tak kasat mata bahwa arsiteknya adalah Fergie sendiri. Tentu, menyangkal pernyataan terakhir saya sedikit mendekati dengan menyangkal rumus kuantum fisika milik Albert Einstein.
Banyak artikel yang telah menyebutkan betapa banyak trofi yang diraih oleh pria tua renta berwajah merah ini. Namun, saya tahu bahwa trofi itu tidak lebih dari logam-logam yang akan berkarat kemudian bisa hancur di tempat insenerator sampah. Ini adalah masalah pencapaian yang panjang tentang konsistensi dan kepiawaian dalam bertindak menjadi seorang manajer.
Tahun 1986 mungkin tak berarti apa-apa bagi Manchester United selain perpindahan tahta pada masa itu. Kenangan bersama Sir Matt Busby terlalu manis untuk dilanjutkan. Kemudian, Fergie datang membawa harapan sebagai pelatih asal Skotlandia yang sukses bersama Aberdeen. Namun, semua akan berusaha mencari hujatan yang tepat ketika Fergie memulai debutnya dengan kekalahan 2-0 atas Oxford United.
Ada hal yang tidak berubah pada masa kini. 26 tahun kemudian, Fergie pun memulai musim ini dengan kekalahan melawan Everton yang dipimpin David Moyes yang digadang-gadang akan menggantikannya. Namun, satu hal yang pernah disesali oleh pecinta United ketika laga perdana Fergie adalah menengoknya sebagai pelatih yang akan mengantarkan Manchester United sebagai salah satu tim terbaik saat ini.
Seiring dengan kepergiannya, Old Trafford hanya akan terisi oleh suara-suara selain suara geraman atau kunyahan permen karet Fergie. Hanya lah sebuah patung dan nama tribun yang akan mengukir betapa kuatnya Manchester United di bawah lindungan Fergie. Sir Matt Busby pun berdecak kagum di atas sana atas prestasi Fergie.
Rezim ini kemudian akan berakhir dalam dua pekan yang akan sangat berharga bagi setiap fans United semenjak kedatangan Fergie. Ibu saya bahkan belum berpikir untuk memiliki anak seperti saya ketika Fergie hadir di Old Trafford. Namun, saya akan membalas hal itu dengan memberikan sebuah apresiasi yang mungkin terdengar seperti justifikasi ini.
Tak ada yang tahu Anda akan dilahirkan untuk mencintai klub sepakbola apa. Namun, Anda pasti tahu klub mana yang akan mengisi hari-hari Anda sebelum Anda dikebumikan. Sir Alex Ferguson menanamkan arti Manchester United begitu dalam pada diri saya. Sampai suatu hari seperti kepergian Fergie ini, dia hanya membiarkan benih itu tumbuh tanpa siraman darinya lagi.
Terima kasih, Sir Alexander Chapman Ferguson.