Besok, tepatnya tanggal 31 Desember 2012, Sir Alexander Chapman "Alex" Ferguson akan ganjil berumur 71 tahun. Umur yang tentunya sudah pantas untuk menikmati udara pagi di suasana pegunungan dengan ditemani isteri muda atau mungkin hanya secangkir earl grey tea. Umur yang tentunya sudah tidak pantas untuk berdiri di pinggir lapangan sepakbola dan berkomentar bahwa Newcastle hanyalah "wee club from North East".
Banyak orang pun menebak Fergie akan pergi beberapa waktu ke depan, meninggalkan sejuta prestasi bagi Old Trafford. Masih berdiri sebagai pelatih terlama sebuah klub, Fergie bisa dibilang adalah satu dari sedikit orang yang memiliki rezim yang panjang, seperti Hosni Mubarak atau Hugo Chavez. Namun, tentunya Fergie tidak bisa terus-menerus seperti itu hingga dia harus duduk di kursi roda untuk memarahi Nani yang salah passing.
Beberapa kandidat pengganti Fergie pun bermunculan. Dari sekian banyak kemungkinan penggantinya, beberapa nampaknya cukup memiliki peluang yang baik untuk hadir sebagai pelatih di Old Trafford. Berikut 5 kandidat pelatih pengganti Sir Alex Ferguson versi saya.
1. David Moyes
Anda pasti selalu terkesima jika melihat orang yang berada dari asal yang sama dengan Anda ternyata cukup hebat untuk bersaing dengan Anda. Begitu pula, Alex Ferguson terhadap David Moyes. Sama-sama dari dataran Skotlandia, hubungan mereka pun tampak baik. Soal loyalitas, Moyes bisa diandalkan tentunya karena telah menjadi pelatih terlama ketiga di Premier League di belakang Ferguson dan Wenger ketika menjadi pelatih Everton sejak 2002. Warga kampung sendiri tentunya lebih bisa diandalkan, bukan?
2. Pep Guardiola
Pep adalah tipikal orang yang begitu dinamis dalam sepakbola. Setelah hengkang dari Camp Nou, Pep memilih beristirahat sejenak dari sepakbola untuk menikmati hidup. Kabarnya, Pep bahkan menolak tawaran menukangi Chelsea demi beristirahat dan kemudian digantikan oleh Benitez si Koki Gembul. Namun, Pep akan berpikir keras untuk menerima tawaran United menjadi pelatih klub. Torehan 19 kampiun EPL mungkin jadi pertimbangannya untuk comeback karena mungkin dia rindu menjadi juara.
3. Jose Mourinho
Saling melempar kode, itulah yang terjadi pada Alex Ferguson dan Mourinho. Mereka terkadang sering melempar pujian satu sama lain yang lebih mengarah pada PDKT anak gaul zaman sekarang ketimbang hubungan baik semata. Hal ini bisa menjadi indikasi bahwa Mou akan tiba di United segera. Mou nampak gerah juga dengan kondisi di Bernabeu yang tidak kondusif. Mou bahkan bisa saja membawa si anak hilang, Ronaldo, yang mungkin rindu juga pada Old Trafford.
4. Ole Gunnar Solskjaer
Molde, klub Norwegia, adalah klub resmi pertama yang ditukangi oleh Solskjaer setelah hengkang dari United sebagai pelatih reserves. Di tahun pertamanya, Solskjaer berhasil membawa Molde menjadi juara untuk pertama kalinya sepanjang sejarah klub yang kemudian disusul dengan prestasi yang sama di tahun keduanya. Kembali ke United tentunya bisa menjadi kenangan tersendiri bagi Baby Face Assassin apalagi menjadi pelatih. Supersub bisa saja menjadi Supercoach kelak.
5. Eric Cantona
Eric Cantona hanya merumput selama lima tahun di Old Trafford, namun namanya akan selalu ada di benak tiap fans United. Kungfu Kick dan kemampuan dribel bola yang hebat sudah barang tentu menjadi memori tersendiri baginya. Keluar dari United, Cantona pun serta merta gantung sepatu karena mungkin United adalah happy ever after ending baginya. Pernah menolak menjadi pelatih United, saya rasa kans Cantona tetap besar karena kecintaannya terhadap United memang tak pernah pudar.
Kelima kandidat di atas hanyalah prediksi belaka. Siapa tahu, Fergie akan dimakamkan di atas tanah Stretford End ketika berusia 90an. Mungkin kita bisa menunggu 20 tahun lagi untuk melihat wajah baru di coach bench United atau mungkin bisa musim depan. Siapa yang tahu.
30 Dec 2012
18 Dec 2012
Di Ujung Lapangan Hijau Itu
Sudut stadion itu sunyi dan penuh debu. Rumput di dalamnya tumbuh tinggi dan liar tanpa alur yang jelas. Garis tanda di lapangan sudah tak terlihat, tenggelam dalam rumput yang tak kuasa menahan pertumbuhannya sendiri. Kursi penonton terlihat rapuh dan terisi oleh jaring-jaring laba-laba. Tribun-tribun sudah mulai ditumbuhi lumut yang tak terkira, jamur pun ikut menghiasi. Lampu stadion nampak usang dan sulit untuk dinyalakan. Di luar stadion, banyak dedaunan yang jatuh di pelataran parkir, tak terurus. Terpampang jelas dari jalan utama menuju stadion, sebuah papan berdiri dengan bertuliskan "Telah Terjual" dan papan tanda kontruksi dengan tulisan "Proyek: Apartemen dengan Twin Tower".
Sebuah lapangan hijau kecil di pinggir kota pun tak terawat lagi. Rumput bagian gawang telah kembali ditumbuhi rumput liar dengan tinggi yang bervariasi. Tiang gawang pun nampaknya dapat roboh dengan terpaan angin kencang karena bambunya mulai tergerus oleh alam. Tak ada aktivitas yang berarti di dalam lapangan tersebut, kecuali seekor kerbau yang tengah menikmati rumput liar tersebut dan seorang anak gembalanya yang terlihat mengantuk.
Seorang bapak tua juga terdiam dalam kursinya. Istrinya tengah sibuk membungkus piala-piala usang milik suaminya tersebut. Tertulis di bagian bawah piala tersebut, "Pemain terbaik LIGINA Liga Dunhill 1995-1996". Jersey usang pun dibungkus rapi menggunakan koran, seperti siap dikirimkan ke tempat lain. Foto-foto Bapak tua itu bersama sebuah tim terlihat mulai dikeluarkan dari piguranya dan dimasukkan ke laci lemari di gudang rumahnya. Sepatu-sepatu untuk berlari di atas rumputnya juga sudah rusak dan akan dibuang di tempat sampah.
Gambaran di atas mungkin akan terjadi di Indonesia beberapa waktu ke depan. Dari ilustrasi di atas, ada sebuah kata kunci yang tidak disebutkan satu pun. Ya, SEPAKBOLA. Mungkin beberapa waktu mendatang, sepakbola sudah menghilang dari sela-sela kehidupan kita. Tidak ada teriakan, tidak ada kesedihan, tidak ada malam tanpa tidur, hanya karena satu alasan: menikmati bergulirnya sebuah bola sepak di lapangan hijau. Sepakbola mungkin lenyap dari Indonesia karena terlalu banyak polemik di negeri ini dan ,mungkin pada suatu titik nanti, titik nadir terendah (bahkan lebih rendah dari saat ini) terjadi seperti gambaran di atas.
Agak terlalu ekstrem mungkin gambaran ini, namun siapa yang mampu menjamin hal itu tidak terjadi? Konflik dua kubu sepakbola Indonesia, hilangnya kesadaran untuk menghargai hak pemain, lepasnya nyawa pemain karena keteledoran, turunnya peringkat FIFA secara drastis, dan kekalahan dari turnamen andalan adalah beberapa indikasi hal di atas mungkin saja terjadi. Orang jadi terlalu malas untuk sepakbola, karena tak kunjung mereda badai permasalahan yang terjadi. Ujung dari segala frustasi yang ada adalah: meninggalkan sepakbola. Terlalu sakit tentunya untuk membayangkan lebih jauh lagi.
Mari kita berdoa yang terbaik untuk sepakbola di negeri ini.
Sebuah lapangan hijau kecil di pinggir kota pun tak terawat lagi. Rumput bagian gawang telah kembali ditumbuhi rumput liar dengan tinggi yang bervariasi. Tiang gawang pun nampaknya dapat roboh dengan terpaan angin kencang karena bambunya mulai tergerus oleh alam. Tak ada aktivitas yang berarti di dalam lapangan tersebut, kecuali seekor kerbau yang tengah menikmati rumput liar tersebut dan seorang anak gembalanya yang terlihat mengantuk.
Seorang bapak tua juga terdiam dalam kursinya. Istrinya tengah sibuk membungkus piala-piala usang milik suaminya tersebut. Tertulis di bagian bawah piala tersebut, "Pemain terbaik LIGINA Liga Dunhill 1995-1996". Jersey usang pun dibungkus rapi menggunakan koran, seperti siap dikirimkan ke tempat lain. Foto-foto Bapak tua itu bersama sebuah tim terlihat mulai dikeluarkan dari piguranya dan dimasukkan ke laci lemari di gudang rumahnya. Sepatu-sepatu untuk berlari di atas rumputnya juga sudah rusak dan akan dibuang di tempat sampah.
Gambaran di atas mungkin akan terjadi di Indonesia beberapa waktu ke depan. Dari ilustrasi di atas, ada sebuah kata kunci yang tidak disebutkan satu pun. Ya, SEPAKBOLA. Mungkin beberapa waktu mendatang, sepakbola sudah menghilang dari sela-sela kehidupan kita. Tidak ada teriakan, tidak ada kesedihan, tidak ada malam tanpa tidur, hanya karena satu alasan: menikmati bergulirnya sebuah bola sepak di lapangan hijau. Sepakbola mungkin lenyap dari Indonesia karena terlalu banyak polemik di negeri ini dan ,mungkin pada suatu titik nanti, titik nadir terendah (bahkan lebih rendah dari saat ini) terjadi seperti gambaran di atas.
Agak terlalu ekstrem mungkin gambaran ini, namun siapa yang mampu menjamin hal itu tidak terjadi? Konflik dua kubu sepakbola Indonesia, hilangnya kesadaran untuk menghargai hak pemain, lepasnya nyawa pemain karena keteledoran, turunnya peringkat FIFA secara drastis, dan kekalahan dari turnamen andalan adalah beberapa indikasi hal di atas mungkin saja terjadi. Orang jadi terlalu malas untuk sepakbola, karena tak kunjung mereda badai permasalahan yang terjadi. Ujung dari segala frustasi yang ada adalah: meninggalkan sepakbola. Terlalu sakit tentunya untuk membayangkan lebih jauh lagi.
Mari kita berdoa yang terbaik untuk sepakbola di negeri ini.
8 Dec 2012
Wawancara Kampret: City-United
Laga panas antara dua tim dari Manchester akan mewarnai EPL pekan ini. Kali ini, Manchester United menjadi tamu Manchester City di Stadion City of Manchester. Pertandingan ini tentunya menjadi pertandingan yang paling diantisipasi di EPL karena mereka adalah pemuncak tahta EPL sementara dengan United selangkah lebih maju. Siapakah yang akan menggerutu ketika pertandingan ini berakhir? Berikut wawancara kampret saya dengan beberapa punggawa kedua tim berikut dengan pelatihnya.
Manchester City
Joe Hart: "Ane udah siap banget nih. Liat ga iklan Ane di produk soda yang ga perlu Ane sebutin "Big Cola"? Kesigapan Ane udah lebih dari itu. Persie bahkan bakal nyari di mana gawang City berada. Rooney bakal botak lagi karena mikir gimana cara ngegolin ke gawang City"
Kompany: "Kepala Ane udah siap menanduk segala masalah di pertandingan besok. Ane masih inget dulu kepala Ane yang bikin United nangis di tempat yang sama. Jangan harap Rooney bakal bisa gocek bola besok. Scholes juga bakal gantung sepatu seketika dengan kekalahan esok hari."
Toure: "Insya Allah, besok City bakal menang. Skor 6-1 bakal keulang. Ane udah tahajud semalem dan udah diaminin sama jemaah se-Manchester. Liat aje besok Ane bakal ngobrak-ngabrik Ferdinand secara halal. Asal ga lupa shalat shubuh besok."
Tevez: "Hihihi. Ane udah siap bentangin spanduk sablon Ane bertuliskan "R.I.P. Fergie" lagi. 7 gol di EPL akan nambah lagi besok. Ketajaman tendangan Ane akan setajam gigi Ane yang diasah pake silet. Ane emang anak durhaka, biarin aja."
Mancini: "Ane masih sedih sebenernya gagal ke fase knock-out Liga Champions, kangen lolos euy. Tapi ini saatnya berubah dan meraih kemenangan. Abis pertandingan ini, Fergie akan langsung pake kursi roda saking kagetnya sama performa City."
Manchester United
De Gea: "Joe Hart? Pemain bola kok minumnya soda. Ane nih model iklan "Firdaus Oil", makanya brewok Ane mantep. Liat aja besok, Aguero bakal terkencing-kencing frustasi susah cetak gol. Tevez? Silakan kembali meyusu ke ibunya."
Evans: "Semua orang kesel sama pertahanan United. Jadi salah Ane? Salah temen-temen Ane? Ane ga peduli! Tiap bola lewat akan Ane tendang sampe kempes. Vidic mungkin bisa turun besok, he'll fucking murder ya! "
Scholes: "City itu klub alay. Warna klubnya biru langit, tukang galau siang-siang. Ane gak pantes dikalahin ama tim alay lagi. Besok waktu bikin passing ciamik lagi seperti waktu dulu. Ane mengaku bujangan kepada setiap wanita, ternyata gol-golnya segudang."
Van Persie: "Anak kecil di hati ane berkata untuk jangan ragu nendang ke gawang di pertandingan besok. Besok pengen banget nambah 10 gol di EPL juga bagi United. Nastatic kan beknya? Pasti skill-nya mirip nastar doang. Rooney bakal ngasih sodoran assist yang asik pastinya."
Ferguson: "Patung ane udah ane mandiin kemarin dan kesaktiannya bakal muncul di saat melawan City. Siap-siap mewek buat fans City karena ane akan bikin tambah kesel karena kegagalan di Liga Champions. Noel Gallagher, siap-siap bikin lagu galau buat mereka, ya?"
Begitulah wawancara kampret saya dengan kedua tim. Semakin tidak sabar? Sabarlah, karena orang sabar itu disayang Tuhan. Mari kita menjadi saksi pertarungan kedua Manchester ini esok hari!
![]() |
| Courtesy: totalfootballmadness.com |
Manchester City
Joe Hart: "Ane udah siap banget nih. Liat ga iklan Ane di produk soda yang ga perlu Ane sebutin "Big Cola"? Kesigapan Ane udah lebih dari itu. Persie bahkan bakal nyari di mana gawang City berada. Rooney bakal botak lagi karena mikir gimana cara ngegolin ke gawang City"
Kompany: "Kepala Ane udah siap menanduk segala masalah di pertandingan besok. Ane masih inget dulu kepala Ane yang bikin United nangis di tempat yang sama. Jangan harap Rooney bakal bisa gocek bola besok. Scholes juga bakal gantung sepatu seketika dengan kekalahan esok hari."
Toure: "Insya Allah, besok City bakal menang. Skor 6-1 bakal keulang. Ane udah tahajud semalem dan udah diaminin sama jemaah se-Manchester. Liat aje besok Ane bakal ngobrak-ngabrik Ferdinand secara halal. Asal ga lupa shalat shubuh besok."
Tevez: "Hihihi. Ane udah siap bentangin spanduk sablon Ane bertuliskan "R.I.P. Fergie" lagi. 7 gol di EPL akan nambah lagi besok. Ketajaman tendangan Ane akan setajam gigi Ane yang diasah pake silet. Ane emang anak durhaka, biarin aja."
Mancini: "Ane masih sedih sebenernya gagal ke fase knock-out Liga Champions, kangen lolos euy. Tapi ini saatnya berubah dan meraih kemenangan. Abis pertandingan ini, Fergie akan langsung pake kursi roda saking kagetnya sama performa City."
Manchester United
De Gea: "Joe Hart? Pemain bola kok minumnya soda. Ane nih model iklan "Firdaus Oil", makanya brewok Ane mantep. Liat aja besok, Aguero bakal terkencing-kencing frustasi susah cetak gol. Tevez? Silakan kembali meyusu ke ibunya."
Evans: "Semua orang kesel sama pertahanan United. Jadi salah Ane? Salah temen-temen Ane? Ane ga peduli! Tiap bola lewat akan Ane tendang sampe kempes. Vidic mungkin bisa turun besok, he'll fucking murder ya! "
Scholes: "City itu klub alay. Warna klubnya biru langit, tukang galau siang-siang. Ane gak pantes dikalahin ama tim alay lagi. Besok waktu bikin passing ciamik lagi seperti waktu dulu. Ane mengaku bujangan kepada setiap wanita, ternyata gol-golnya segudang."
Van Persie: "Anak kecil di hati ane berkata untuk jangan ragu nendang ke gawang di pertandingan besok. Besok pengen banget nambah 10 gol di EPL juga bagi United. Nastatic kan beknya? Pasti skill-nya mirip nastar doang. Rooney bakal ngasih sodoran assist yang asik pastinya."
Ferguson: "Patung ane udah ane mandiin kemarin dan kesaktiannya bakal muncul di saat melawan City. Siap-siap mewek buat fans City karena ane akan bikin tambah kesel karena kegagalan di Liga Champions. Noel Gallagher, siap-siap bikin lagu galau buat mereka, ya?"
Begitulah wawancara kampret saya dengan kedua tim. Semakin tidak sabar? Sabarlah, karena orang sabar itu disayang Tuhan. Mari kita menjadi saksi pertarungan kedua Manchester ini esok hari!
4 Dec 2012
Hati dalam Sepakbola
Diego Mendieta. Bagi sebagian orang, mungkin namanya tidak asing dan masih terbayang seorang pemain Valencia. Tapi, Diego Mendieta bukan Gaizka Mendieta. Diego Mendieta adalah pemain Persis Solo yang meninggal Senin malam karena penyakit tifus dan lever yang dideritanya. Bela sungkawa tentu terkirim kepada sanak famili dan kerabatnya yang mungkin berada di Paraguay. Sungguh berita duka ini cukup mengiris hati karena ternyata banyak isu yang berkembang meninggalnya Diego ini. Memang ini bukan kali pertama pemain yang merumput di Indonesia menginggal. Masih saya ingat juga momen di saat Jumadi Abdi, mantan gelandang tengah PKT Bontang pun harus berpulang karena memang risiko cedera dalam dunia sepakbola memang besar.
Namun, tentunya kurang etis jika kita harus membicarakan isu berbagai alasan meninggalnya Diego di saat berduka ini. Isu mengenai gaji, PSSI, dan sejawatnya sungguh tidak pantas untuk diangkat saat ini. Yang ingin saya angkat di sini adalah masalah solidaritas sepak bola. Aksi Pasoepati (pendukung fanatik Persis Solo) untuk menggalang dana bagi meninggalnya Diego patut diapresiasi karena memang itu lah sepakbola. Sepakbola memang untuk membangun hati sebagai manusia seutuhnya, bukan ambisi tanpa nurani.
Sejak dahulu kala, sepakbola selalu bisa memberi nafas terhadap solidaritas dan kemanusiaan. Momen kemanusiaan tersebut selalu disempatkan di luar lapangan atau bahkan di dalam lapangan. Sampai saat ini, kita masih sering melihat ada ban hitam di lengan baju pemain saat peringatan suatu insiden atau kecelakaan di berbagai belahan dunia. Masih terekam cukup baik di kepala saya, insiden Fabrice Muamba menjadi contoh sepakbola dunia sangat menjunjung tinggi kemanusiaan. Muamba yang kala itu berseragam Bolton Wanderers tengah bertanding melawan Tottenham Hotspurs dan kemudian tersungkur lemas tak berdaya. Setelah paramedis lapangan tidak mampu berbuat banyak, Muamba dilarikan ke rumah sakit. Owen Coyle sebagai pelatih Bolton dan Kevin Davies sebagai kapten Bolton ikut menemani Muamba di ambulans. Muamba akhirnya sembuh dan gantung sepatu. Howard Webb yang menjadi wasit di pertandingan itu mengambil langkah tepat untuk menghentikan pertandingan agar evakuasi bisa berlangsung.
Kita juga masih sering melihat momen mengheningkan cipta yang hadir sebelum pertandingan berlangsung. Belum lama ini, ada masa penggunaan pin berbentuk bunga berwarna merah pada sebagian besar ofisial tim di Premier League. Remembrance Day adalah alasan di balik semua itu, mengingat masa di mana tentara Commonwealth berjuang demi bangsanya dan gugur di medan perang. Nyaris hampir 100 tahun setelah momen itu, solidaritas dan kemanusiaan masih dijunjung untuk mengenang jasa pahlawan Inggris.
Sungguh, sepakbola seyogyanya adalah perayaan sebuah kemanusiaan. Bukan momen untuk mencari kejayaan semata, melainkan momen di mana manusia mengingatkan manusia lain sebagai manusia seutuhnya. Momen di mana nurani disatukan, bukan dipecah belah hanya untuk kemenangan pribadi. Tanpa solidaritas dan kemanusiaan, sepakbola hanya sebuah permainan kulit bundar tanpa arti.
Namun, tentunya kurang etis jika kita harus membicarakan isu berbagai alasan meninggalnya Diego di saat berduka ini. Isu mengenai gaji, PSSI, dan sejawatnya sungguh tidak pantas untuk diangkat saat ini. Yang ingin saya angkat di sini adalah masalah solidaritas sepak bola. Aksi Pasoepati (pendukung fanatik Persis Solo) untuk menggalang dana bagi meninggalnya Diego patut diapresiasi karena memang itu lah sepakbola. Sepakbola memang untuk membangun hati sebagai manusia seutuhnya, bukan ambisi tanpa nurani.
Sejak dahulu kala, sepakbola selalu bisa memberi nafas terhadap solidaritas dan kemanusiaan. Momen kemanusiaan tersebut selalu disempatkan di luar lapangan atau bahkan di dalam lapangan. Sampai saat ini, kita masih sering melihat ada ban hitam di lengan baju pemain saat peringatan suatu insiden atau kecelakaan di berbagai belahan dunia. Masih terekam cukup baik di kepala saya, insiden Fabrice Muamba menjadi contoh sepakbola dunia sangat menjunjung tinggi kemanusiaan. Muamba yang kala itu berseragam Bolton Wanderers tengah bertanding melawan Tottenham Hotspurs dan kemudian tersungkur lemas tak berdaya. Setelah paramedis lapangan tidak mampu berbuat banyak, Muamba dilarikan ke rumah sakit. Owen Coyle sebagai pelatih Bolton dan Kevin Davies sebagai kapten Bolton ikut menemani Muamba di ambulans. Muamba akhirnya sembuh dan gantung sepatu. Howard Webb yang menjadi wasit di pertandingan itu mengambil langkah tepat untuk menghentikan pertandingan agar evakuasi bisa berlangsung.
Kita juga masih sering melihat momen mengheningkan cipta yang hadir sebelum pertandingan berlangsung. Belum lama ini, ada masa penggunaan pin berbentuk bunga berwarna merah pada sebagian besar ofisial tim di Premier League. Remembrance Day adalah alasan di balik semua itu, mengingat masa di mana tentara Commonwealth berjuang demi bangsanya dan gugur di medan perang. Nyaris hampir 100 tahun setelah momen itu, solidaritas dan kemanusiaan masih dijunjung untuk mengenang jasa pahlawan Inggris.
Sungguh, sepakbola seyogyanya adalah perayaan sebuah kemanusiaan. Bukan momen untuk mencari kejayaan semata, melainkan momen di mana manusia mengingatkan manusia lain sebagai manusia seutuhnya. Momen di mana nurani disatukan, bukan dipecah belah hanya untuk kemenangan pribadi. Tanpa solidaritas dan kemanusiaan, sepakbola hanya sebuah permainan kulit bundar tanpa arti.
2 Dec 2012
Kambing Hitam Merah Putih?
Semua penonton terdiam. Terpana melihat apa yang terjadi di layar kaca. Nyaris tidak ada suara-suara lain saat itu, yang ada hanya keheningan. Beberapa yang lain terlihat tertunduk, yang lain hanya mampu menatap kosong ke hadapan televisi. Air muka mereka pun seakan layu, seperti jatuh ke dalam sungai deras. Momen itu mungkin hanya berlangsung 2 detik. Selepas itu, mulailah suara-suara lain bermunculan secara acak.
Ya, anda pun tahu. Momen itu adalah momen tepat setelah Azamuddin Akil berhasil menceploskan bola ke gawang Wahyu Tri di menit ke-27 pada pertandingan semalam. Saya pun hanya mampu terdiam kala itu, tak mampu berkata. Hanya kesunyian yang terjadi di kepala saya. Sontak, saya pun langsung menggerutu mengapa harus terjadi gol itu. Namun, masih ada kepingan semangat untuk Indonesia yang kemudian semakin kandas setelah gol Mahali Jasuli tercipta.
Laga semalam sungguh menyayat hati saya cukup dalam. Bukan karena Malaysia bisa memenangkan pertandingan, melainkan tak ada hasrat bermain di tubuh pemain Indonesia. Hal yang repetitif dari tahun ke tahun pun terjadi: umpan pendek banyak salah, pemain belakang kedodoran, bermain umpan lambung tidak tepat, terlalu banyak membawa bola, pemain tengah tidak berhasil merebut bola, tendangan terlalu spekulatif, dan banyak permasalahan klasik lainnya. Saat itu pun saya sadar bahwa Indonesia belum ke mana-mana untuk mengubah dirinya sendiri menjadi lebih baik.
Kekuatan Malaysia semalam bisa dikatakan hanya satu: fokus mencuri kesempatan. Mereka bertahan secara disiplin kemudian berbalik menyerang secara cepat tanpa basa-basi. Dua gol semalam adalah contoh kegigihan permainan mereka itu. Selebihnya, mereka pun masih tidak terlalu jauh dari kita, kecuali masalah determinasi. Rajagopal berhasil mentransformasi kekalahan besar atas Singapura lalu menjadi cambuk semangat tim.
Sejak pertandingan Laos, Indonesia memang kurang terlihat trengginas. Laos yang semakin kuat malah menyulitkan Indonesia sehingga gagal memenuhi poin penuh dan kehilangan Endra Prasetya. Laga kontra Singapura sedikit lebih baik dan bernyawa, terbantu Singapura yang terlihat kurang bergairah. Terlalu besar memang harapan serta ekspektasi dari masyarakat yang terdorong oleh media yang terlalu jor-joran mengekspos Indonesia.
Mengulang sejarah di AFF Cup 2007 silam, Indonesia kembali gagal masuk ke semi-final. Siapa yang perlu disalahkan? Nil Maizar, ujar beliau sendiri. "Tak perlu kambing hitam, saya yang salah.", kata Nil Maizar setelah pertandingan melawan Malaysia. Saya tidak akan menyalahkan Nil Maizar atau Timnas Indonesia karena kita sama-sama tahu siapa yang lebih pantas disalahkan, bukan?
Ya, anda pun tahu. Momen itu adalah momen tepat setelah Azamuddin Akil berhasil menceploskan bola ke gawang Wahyu Tri di menit ke-27 pada pertandingan semalam. Saya pun hanya mampu terdiam kala itu, tak mampu berkata. Hanya kesunyian yang terjadi di kepala saya. Sontak, saya pun langsung menggerutu mengapa harus terjadi gol itu. Namun, masih ada kepingan semangat untuk Indonesia yang kemudian semakin kandas setelah gol Mahali Jasuli tercipta.
Laga semalam sungguh menyayat hati saya cukup dalam. Bukan karena Malaysia bisa memenangkan pertandingan, melainkan tak ada hasrat bermain di tubuh pemain Indonesia. Hal yang repetitif dari tahun ke tahun pun terjadi: umpan pendek banyak salah, pemain belakang kedodoran, bermain umpan lambung tidak tepat, terlalu banyak membawa bola, pemain tengah tidak berhasil merebut bola, tendangan terlalu spekulatif, dan banyak permasalahan klasik lainnya. Saat itu pun saya sadar bahwa Indonesia belum ke mana-mana untuk mengubah dirinya sendiri menjadi lebih baik.
Kekuatan Malaysia semalam bisa dikatakan hanya satu: fokus mencuri kesempatan. Mereka bertahan secara disiplin kemudian berbalik menyerang secara cepat tanpa basa-basi. Dua gol semalam adalah contoh kegigihan permainan mereka itu. Selebihnya, mereka pun masih tidak terlalu jauh dari kita, kecuali masalah determinasi. Rajagopal berhasil mentransformasi kekalahan besar atas Singapura lalu menjadi cambuk semangat tim.
Sejak pertandingan Laos, Indonesia memang kurang terlihat trengginas. Laos yang semakin kuat malah menyulitkan Indonesia sehingga gagal memenuhi poin penuh dan kehilangan Endra Prasetya. Laga kontra Singapura sedikit lebih baik dan bernyawa, terbantu Singapura yang terlihat kurang bergairah. Terlalu besar memang harapan serta ekspektasi dari masyarakat yang terdorong oleh media yang terlalu jor-joran mengekspos Indonesia.
Mengulang sejarah di AFF Cup 2007 silam, Indonesia kembali gagal masuk ke semi-final. Siapa yang perlu disalahkan? Nil Maizar, ujar beliau sendiri. "Tak perlu kambing hitam, saya yang salah.", kata Nil Maizar setelah pertandingan melawan Malaysia. Saya tidak akan menyalahkan Nil Maizar atau Timnas Indonesia karena kita sama-sama tahu siapa yang lebih pantas disalahkan, bukan?
Subscribe to:
Posts (Atom)







