18 Dec 2012

Di Ujung Lapangan Hijau Itu

Sudut stadion itu sunyi dan penuh debu. Rumput di dalamnya tumbuh tinggi dan liar tanpa alur yang jelas. Garis tanda di lapangan sudah tak terlihat, tenggelam dalam rumput yang tak kuasa menahan pertumbuhannya sendiri. Kursi penonton terlihat rapuh dan terisi oleh jaring-jaring laba-laba. Tribun-tribun sudah mulai ditumbuhi lumut yang tak terkira, jamur pun ikut menghiasi. Lampu stadion nampak usang dan sulit untuk dinyalakan. Di luar stadion, banyak dedaunan yang jatuh di pelataran parkir, tak terurus. Terpampang jelas dari jalan utama menuju stadion, sebuah papan berdiri dengan bertuliskan "Telah Terjual" dan papan tanda kontruksi dengan tulisan "Proyek: Apartemen dengan Twin Tower".



Sebuah lapangan hijau kecil di pinggir kota pun tak terawat lagi. Rumput bagian gawang telah kembali ditumbuhi rumput liar dengan tinggi yang bervariasi. Tiang gawang pun nampaknya dapat roboh dengan terpaan angin kencang karena bambunya mulai tergerus oleh alam. Tak ada aktivitas yang berarti di dalam lapangan tersebut, kecuali seekor kerbau yang tengah menikmati rumput liar tersebut dan seorang anak gembalanya yang terlihat mengantuk.

Seorang bapak tua juga terdiam dalam kursinya. Istrinya tengah sibuk membungkus piala-piala usang milik suaminya tersebut. Tertulis di bagian bawah piala tersebut, "Pemain terbaik LIGINA Liga Dunhill 1995-1996". Jersey usang pun dibungkus rapi menggunakan koran, seperti siap dikirimkan ke tempat lain. Foto-foto Bapak tua itu bersama sebuah tim terlihat mulai dikeluarkan dari piguranya dan dimasukkan ke laci lemari di gudang rumahnya. Sepatu-sepatu untuk berlari di atas rumputnya juga sudah rusak dan akan dibuang di tempat sampah.

Gambaran di atas mungkin akan terjadi di Indonesia beberapa waktu ke depan. Dari ilustrasi di atas, ada sebuah kata kunci yang tidak disebutkan satu pun. Ya, SEPAKBOLA. Mungkin beberapa waktu mendatang, sepakbola sudah menghilang dari sela-sela kehidupan kita. Tidak ada teriakan, tidak ada kesedihan, tidak ada malam tanpa tidur, hanya karena satu alasan: menikmati bergulirnya sebuah bola sepak di lapangan hijau. Sepakbola mungkin lenyap dari Indonesia karena terlalu banyak polemik di negeri ini dan ,mungkin pada suatu titik nanti, titik nadir terendah (bahkan lebih rendah dari saat ini) terjadi seperti gambaran di atas.

Agak terlalu ekstrem mungkin gambaran ini, namun siapa yang mampu menjamin hal itu tidak terjadi? Konflik dua kubu sepakbola Indonesia, hilangnya kesadaran untuk menghargai hak pemain, lepasnya nyawa pemain karena keteledoran, turunnya peringkat FIFA secara drastis, dan kekalahan dari turnamen andalan adalah beberapa indikasi hal di atas mungkin saja terjadi. Orang jadi terlalu malas untuk sepakbola, karena tak kunjung mereda badai permasalahan yang terjadi. Ujung dari segala frustasi yang ada adalah: meninggalkan sepakbola. Terlalu sakit tentunya untuk membayangkan lebih jauh lagi.

Mari kita berdoa yang terbaik untuk sepakbola di negeri ini.