Diego Mendieta. Bagi sebagian orang, mungkin namanya tidak asing dan masih terbayang seorang pemain Valencia. Tapi, Diego Mendieta bukan Gaizka Mendieta. Diego Mendieta adalah pemain Persis Solo yang meninggal Senin malam karena penyakit tifus dan lever yang dideritanya. Bela sungkawa tentu terkirim kepada sanak famili dan kerabatnya yang mungkin berada di Paraguay. Sungguh berita duka ini cukup mengiris hati karena ternyata banyak isu yang berkembang meninggalnya Diego ini. Memang ini bukan kali pertama pemain yang merumput di Indonesia menginggal. Masih saya ingat juga momen di saat Jumadi Abdi, mantan gelandang tengah PKT Bontang pun harus berpulang karena memang risiko cedera dalam dunia sepakbola memang besar.
Namun, tentunya kurang etis jika kita harus membicarakan isu berbagai alasan meninggalnya Diego di saat berduka ini. Isu mengenai gaji, PSSI, dan sejawatnya sungguh tidak pantas untuk diangkat saat ini. Yang ingin saya angkat di sini adalah masalah solidaritas sepak bola. Aksi Pasoepati (pendukung fanatik Persis Solo) untuk menggalang dana bagi meninggalnya Diego patut diapresiasi karena memang itu lah sepakbola. Sepakbola memang untuk membangun hati sebagai manusia seutuhnya, bukan ambisi tanpa nurani.
Sejak dahulu kala, sepakbola selalu bisa memberi nafas terhadap solidaritas dan kemanusiaan. Momen kemanusiaan tersebut selalu disempatkan di luar lapangan atau bahkan di dalam lapangan. Sampai saat ini, kita masih sering melihat ada ban hitam di lengan baju pemain saat peringatan suatu insiden atau kecelakaan di berbagai belahan dunia. Masih terekam cukup baik di kepala saya, insiden Fabrice Muamba menjadi contoh sepakbola dunia sangat menjunjung tinggi kemanusiaan. Muamba yang kala itu berseragam Bolton Wanderers tengah bertanding melawan Tottenham Hotspurs dan kemudian tersungkur lemas tak berdaya. Setelah paramedis lapangan tidak mampu berbuat banyak, Muamba dilarikan ke rumah sakit. Owen Coyle sebagai pelatih Bolton dan Kevin Davies sebagai kapten Bolton ikut menemani Muamba di ambulans. Muamba akhirnya sembuh dan gantung sepatu. Howard Webb yang menjadi wasit di pertandingan itu mengambil langkah tepat untuk menghentikan pertandingan agar evakuasi bisa berlangsung.
Kita juga masih sering melihat momen mengheningkan cipta yang hadir sebelum pertandingan berlangsung. Belum lama ini, ada masa penggunaan pin berbentuk bunga berwarna merah pada sebagian besar ofisial tim di Premier League. Remembrance Day adalah alasan di balik semua itu, mengingat masa di mana tentara Commonwealth berjuang demi bangsanya dan gugur di medan perang. Nyaris hampir 100 tahun setelah momen itu, solidaritas dan kemanusiaan masih dijunjung untuk mengenang jasa pahlawan Inggris.
Sungguh, sepakbola seyogyanya adalah perayaan sebuah kemanusiaan. Bukan momen untuk mencari kejayaan semata, melainkan momen di mana manusia mengingatkan manusia lain sebagai manusia seutuhnya. Momen di mana nurani disatukan, bukan dipecah belah hanya untuk kemenangan pribadi. Tanpa solidaritas dan kemanusiaan, sepakbola hanya sebuah permainan kulit bundar tanpa arti.
