Semua penonton terdiam. Terpana melihat apa yang terjadi di layar kaca. Nyaris tidak ada suara-suara lain saat itu, yang ada hanya keheningan. Beberapa yang lain terlihat tertunduk, yang lain hanya mampu menatap kosong ke hadapan televisi. Air muka mereka pun seakan layu, seperti jatuh ke dalam sungai deras. Momen itu mungkin hanya berlangsung 2 detik. Selepas itu, mulailah suara-suara lain bermunculan secara acak.
Ya, anda pun tahu. Momen itu adalah momen tepat setelah Azamuddin Akil berhasil menceploskan bola ke gawang Wahyu Tri di menit ke-27 pada pertandingan semalam. Saya pun hanya mampu terdiam kala itu, tak mampu berkata. Hanya kesunyian yang terjadi di kepala saya. Sontak, saya pun langsung menggerutu mengapa harus terjadi gol itu. Namun, masih ada kepingan semangat untuk Indonesia yang kemudian semakin kandas setelah gol Mahali Jasuli tercipta.
Laga semalam sungguh menyayat hati saya cukup dalam. Bukan karena Malaysia bisa memenangkan pertandingan, melainkan tak ada hasrat bermain di tubuh pemain Indonesia. Hal yang repetitif dari tahun ke tahun pun terjadi: umpan pendek banyak salah, pemain belakang kedodoran, bermain umpan lambung tidak tepat, terlalu banyak membawa bola, pemain tengah tidak berhasil merebut bola, tendangan terlalu spekulatif, dan banyak permasalahan klasik lainnya. Saat itu pun saya sadar bahwa Indonesia belum ke mana-mana untuk mengubah dirinya sendiri menjadi lebih baik.
Kekuatan Malaysia semalam bisa dikatakan hanya satu: fokus mencuri kesempatan. Mereka bertahan secara disiplin kemudian berbalik menyerang secara cepat tanpa basa-basi. Dua gol semalam adalah contoh kegigihan permainan mereka itu. Selebihnya, mereka pun masih tidak terlalu jauh dari kita, kecuali masalah determinasi. Rajagopal berhasil mentransformasi kekalahan besar atas Singapura lalu menjadi cambuk semangat tim.
Sejak pertandingan Laos, Indonesia memang kurang terlihat trengginas. Laos yang semakin kuat malah menyulitkan Indonesia sehingga gagal memenuhi poin penuh dan kehilangan Endra Prasetya. Laga kontra Singapura sedikit lebih baik dan bernyawa, terbantu Singapura yang terlihat kurang bergairah. Terlalu besar memang harapan serta ekspektasi dari masyarakat yang terdorong oleh media yang terlalu jor-joran mengekspos Indonesia.
Mengulang sejarah di AFF Cup 2007 silam, Indonesia kembali gagal masuk ke semi-final. Siapa yang perlu disalahkan? Nil Maizar, ujar beliau sendiri. "Tak perlu kambing hitam, saya yang salah.", kata Nil Maizar setelah pertandingan melawan Malaysia. Saya tidak akan menyalahkan Nil Maizar atau Timnas Indonesia karena kita sama-sama tahu siapa yang lebih pantas disalahkan, bukan?