25 Nov 2012

Demi Memori 21 Tahun Lalu


Tulisan ini dicoret di Sabtu pagi yang mendung, sebelum pertandingan pertama timnas melawan Laos Minggu sore. Saat semua masih mungkin terjadi di turnamen paling akbar se-Asia Tenggara ini. Saat semua kemungkinan masih terbuka: jatuh terperosok, atau terbang mengangkasa,semua bisa saja.
Indonesia memang memiliki tradisi antiklimaks di turnamen sepakbola antar negara. Dengan predikat langganan runner-up sejak AFF Suzuki cup ini masih bernama Tiger cup, juga di Sea Games 2011 lalu saat perjuangan timnas U-23 terhenti di partai final, bahkan saat turnamen Sultan Hassanal Bolkiah di Brunei pun, kita kandas di partai puncak.

Jika ditarik mundur lebih jauh, banyak fenomena mewarnai perjalanan Indonesia selama medio akhir 90'an hingga saat ini, mulai dari gol salto ajaib Widodo Cahyono Putro di Piala Asia 1996, lalu gol yang lebih 'ajaib' dari Mursyid Effendi di Tiger Cup 1998, disusul dengan memori keperkasaan BP,Kurniawan,dan Boaz (saat jaya-jayanya di tahun 2002) menghempaskan Malaysia 4-1 di Bukit Jalil. Juga gol Elie Aiboy yang menumbuhkan asa kita bisa menahan imbang Arab Saudi di kandang sendiri dalam Piala Asia 2007,walau akhirnya kalah akibat gol sundulan di menit terakhir. Satu yang belum terjadi (lagi), adalah memenangi gelar juara turnamen sepakbola antar negara. Ricky Yacobi dkk. mungkin tidak sadar piala yang dibawanya setelah menjuarai Sea Games Manila 1991 akan menjadi barang langka hingga 20 tahun kemudian. Cerita ini membuat pencinta timnas tak ubahnya Liverpudlian yang bangga akan sejarah, walau belum pernah menjadi saksi mata euforianya.

Hari ini, 21 tahun sejak itu. Seharusnya kita tidak asing lagi dengan kata 'hampir', karena status 'hampir' bukan sekali dua kali menyertai sepak terjang Garuda di kancah Asia Tenggara. Namun, dunia pasti berputar, dan kita tak tahu kapan berada di atas. Teruslah berusaha, karena jika kita tidak ikut memutar roda ini saat di bawah, maka tidak etis rasanya jika kita menikmati euforia saat berada di atas. Jika kita tak bisa mendukung saat tim nasional Indonesia terpuruk, maka jangan pernah bersorak ketika Merah Putih berjaya.




Endra,Wahyu,Hamdi,Novan,Nopendi,Fachrudin,Wahyu,Valentino,Arthur,Geddi,Elie,Andik,Tonnie,Taufiq,Vendry,Rasyid,Okto,BP,Samsul,Rachmat,van Beukering,Irfan.


Semoga kalian juara,
Demi mengulang memori 21 tahun yang lalu.
Demi membungkam semua cibiran dan pesimisme.