Pada tanggal 4 November yang lalu, Juventus Stadium kedatangan rival abadi yang hubungannya semakin memanas sejak calciopoli, Intermilan. Sebelum pertandingan tersebut Juventus memiliki rekor 49 pertandingan tak terkalahkan di Serie-A, bila tidak kalah melawan inter, maka mereka akan mencapai angka 50. Apa mau dikata, hasil yang didapat adalah kekalahan 1-3 dari sang rival. Sebagai fans juve, penulis tidak terkejut dengan hasil tersebut, mengapa? Karena malam itu permainan Juventus tidak seperti biasanya, bahkan beberapa pekan terakhir juve memang tidak seperti biasanya. Kita tidak melihat lagi juve yang bermain dengan determinasi tinggi, mereka seperti kehilangan motivasi untuk menang.
Karena itulah, kekalahan dari inter seharusnya dapat memberikan mereka pelajaran dan semangat baru untuk kembali meraih kemenangan. Setelah bertemu intermilan, juventus akan menghadapi nordsjaelland, tim asal Denmark, di liga champion. Dan sepertinya kekalahan dari sang rival memang membangunkan si nyonya tua, nordsjaelland dihajar empat gol tanpa balas lewat gol-gol yang dicetak oleh Marchisio, Vidal, Giovinco, dan Quagliarella. Setalah laga tersebut, juventus akan dijamu oleh Pescara di Serie-A.
Tentu saja juventus diunggulkan menang di laga tersebut, dan hasilnya pun memang sesuai dugaan, mereka berhasil mengatasi Pescara. Tetapi yang diluar dugaan adalah skornya, yaitu 1-6. Gol-gol tersebut dicetak oleh Vidal, Giovinco, Asamoah, dan hattrick Quagliarella. Bahkan penulis tidak ingat kapan terakhir kali Juve mampu membuat 6 gol di dalam satu pertandingan. Selain itu hattrick yang dibuat oleh Quagliarella juga seperti menjawab kritikan terhadap performa striker-striker juve. Seperti yang kita semua tau, sektor penyerang adalah masalah juve dalam beberapa musim kebelakang. Bahkan hattrick terakhir pemain juve dibuat oleh gelandang yaitu milos krasic pada tahun 2010. Musim lalu pun juventus juara dikarenakan memiliki lini tengah terkuat di Italia.
Dilihat dari 2 pertandingan tersebut, Juventus menunjukkan mental sebagai tim besar, langsung menang dengan penampilan yang impresif. Tetapi kualitas lawan yang dihadapi juve pada 2 pertandingan tersebut tidaklah sebanding dengan kualitas mereka. Justru setelah ini, jadwal yang dihadapi juve akan membuktikan apakah mereka benar-benar bangkit atau tidak. Dalam waktu 1 minggu, juve berurutan akan menghadapi tim kuda hitam Lazio, pertandingan hidup-mati menghadapi Chelsea yang menentukan kelolosan ke fase knockout Liga Champion, dan ditutup dengan bertandang ke san siro untuk menghadapi Milan.
Jadwal maut di depan mata tersebut akan membuktikan kapasitas juve sebagai tim juara, penulis bahkan melihat ketiga pertandingan tersebut dapat memberikan juve tiga pertandingan tanpa kemenangan. Well, disinilah mental juara juve akan diuji, apakah mereka sudah benar-benar bangkit dari kekalahan yang memutus rekor mereka? Kita lihat saja 1 minggu ke depan.
