24 Nov 2012

Timnas Indones(a)ia



Saya membawa kencang sepeda motor saya kala itu. Mungkin sampai kecepatan paling cepat yang pernah saya kemudikan saat itu. Hujan pun ikut mewarnai perjalanan saya pulang itu. Untuk apa saya rela menggantungkan nyawa pada lalu lintas pada saat itu? Menonton pertandingan timnas.

Menonton pertandingan timnas memang sebetulnya tidak bisa dijadikan hiburan semata. Dibanding menyaksikan aksi United di Liga Inggris, pertandingan timnas tentunya jauh lebih menjemukan atau kurang atraktif. Operan yang banyak salah, terlalu percaya diri bermain long pass, tendangan penyelesaian yang nyaris menembak bulan, atau blunder pertahanan sudah menjadi barang lumrah saat menyaksikan timnas. Namun, yang dikatakan diri saya lain, memilih untuk bertahan dengan kebosanan itu.

Saya pun tipikal orang yang sering mengoreksi permainan tim yang saya tonton. "Oper ke atas!" "Shoot!" "Ah ngapain dioper ke sana?" sudah menjadi umpatan terlaris saya setiap pertandingan yang saya tonton. Menonton timnas? Lebih sering lagi frekuensi umpatan saya sampai-sampai saya pernah dimarahi Ibu saya karena terlalu berisik. "Kamu teriak-teriak gitu gak bikin timnas jadi menang juga, kan?", ujar Ibu saya kala itu. Ya, saya diam sesaat dan kemudian tak kuasa membendung umpatan lain. Maafkan saya, Bu, namun memang ada aroma lain di saat saya menonton timnas.

Tak bisa dipungkiri bahwa kita memang lahir di negara yang minim prestasi persepakbolaan dan tidak bisa berharap banyak. Mengharapkan Indonesia bisa mengembangkan permainan seperti di Eropa bahkan seperti kebanyakan tim besar di Asia itu seperti berharap Nikita Willy bermain sinetron tanpa make up, nyaris mustahil, dan saya pun tak akan bicara tentang pengharapan yang terlalu jauh untuk saat ini.

Rasa memiliki. Mungkin itu alasan paling tepat mengapa saya begitu terobsesi dengan timnas. Saya tidak pernah merasa memiliki sebuah tim sepakbola selain kepada timnas secinta-cintanya saya dengan Manchester United. Saya merasa punya hak memiliki karena saya terlahir di sini dan saya merasa tim ini adalah tim paling realistis yang bisa saya miliki. Murahan mungkin memiliki tim sekelas timnas ini, namun saya tak pernah menyangsikannya.

Memiliki timnas seperti memilki sebuah mobil usang. Rodanya sudah berdecit, kaki-kaki pada asnya sudah tak kuat, gasnya sudah tidak menghentak, bunyinya sudah tak karuan, atapnya sudah bocor, wiper hujannya sudah tidak lancar, spionnya sudah berembun, kacanya sudah tidak jernih, radionya sudah tidak jelas, setirnya sudah berat, namun itu milik kita sendiri, kan?