Tulisan ini dicoret di Sabtu pagi
yang mendung, sebelum pertandingan pertama timnas melawan Laos Minggu sore. Saat
semua masih mungkin terjadi di turnamen paling akbar se-Asia Tenggara ini. Saat
semua kemungkinan masih terbuka: jatuh terperosok, atau terbang
mengangkasa,semua bisa saja.
Indonesia memang
memiliki tradisi antiklimaks di turnamen sepakbola antar negara. Dengan
predikat langganan runner-up sejak AFF Suzuki cup ini masih bernama Tiger cup, juga
di Sea Games 2011 lalu saat perjuangan timnas U-23 terhenti di partai final, bahkan
saat turnamen Sultan Hassanal Bolkiah di Brunei pun, kita kandas di
partai puncak.
Jika ditarik
mundur lebih jauh, banyak fenomena mewarnai perjalanan Indonesia selama medio akhir
90'an hingga saat ini, mulai dari gol salto ajaib Widodo Cahyono Putro di Piala
Asia 1996, lalu gol yang lebih 'ajaib' dari Mursyid Effendi di Tiger Cup 1998, disusul
dengan memori keperkasaan BP,Kurniawan,dan Boaz (saat jaya-jayanya di tahun
2002) menghempaskan Malaysia 4-1 di Bukit Jalil. Juga gol Elie Aiboy yang menumbuhkan
asa kita bisa menahan imbang Arab Saudi di kandang sendiri dalam Piala Asia
2007,walau akhirnya kalah akibat gol sundulan di menit terakhir. Satu yang belum terjadi
(lagi), adalah memenangi gelar juara turnamen sepakbola antar negara. Ricky
Yacobi dkk. mungkin tidak sadar piala yang dibawanya setelah menjuarai Sea Games
Manila 1991 akan menjadi barang langka hingga 20 tahun kemudian. Cerita ini
membuat pencinta timnas tak ubahnya Liverpudlian yang bangga akan sejarah,
walau belum pernah menjadi saksi mata euforianya.
Hari ini, 21
tahun sejak itu. Seharusnya kita tidak asing lagi dengan kata
'hampir', karena status 'hampir' bukan sekali dua kali menyertai sepak terjang
Garuda di kancah Asia Tenggara. Namun, dunia pasti berputar, dan kita tak tahu
kapan berada di atas. Teruslah berusaha, karena jika kita tidak ikut memutar roda
ini saat di bawah, maka tidak etis rasanya jika kita menikmati euforia saat berada
di atas. Jika kita tak bisa mendukung saat tim nasional Indonesia terpuruk,
maka jangan pernah bersorak ketika Merah Putih berjaya.
Endra,Wahyu,Hamdi,Novan,Nopendi,Fachrudin,Wahyu,Valentino,Arthur,Geddi,Elie,Andik,Tonnie,Taufiq,Vendry,Rasyid,Okto,BP,Samsul,Rachmat,van
Beukering,Irfan.
Semoga
kalian juara,
Demi mengulang
memori 21 tahun yang lalu.
Demi membungkam
semua cibiran dan pesimisme.














