
Saya bukan seorang pakar ekonomi, namun saya cukup paham apa arti dari kepemilikan saham sebesar 40% yang akan dimiliki Erick. Besar kemungkinan Erick tentu bukan pemegang tertinggi karena sisa saham Inter Milan masih milik Moratti. Namun, ini adalah peluang yang besar bagi Erick yang telah lama menekuni bisnis olahraga hingga ke mancanegara ini. Beberapa kebijakan Inter Milan mungkin akan mendengarkan pendapat Erick jika benar Erick mendapatkan tempat di Inter Milan.
Erick mungkin salah satu pelopor pebisnis dalam negeri yang berhasil melambungkan nama Indonesia di dunia bisnis internasional. Sepak terjangnya di dunia bisnis olahraga juga tidak bisa dibilang kacangan sebagai orang Indonesia. Erick yang kini telah memiliki sebagian besar kepemilikan klub Major League Soccer (MLS), DC United, nampaknya benar-benar serius menekuni bidang bisnis olahraga yang tengah marak ini.
Apa yang dilakukan oleh Erick memang tidak mungkin terlepas dari soal bisnis. Bisnis amat erat kaitannya dengan masalah keuntungan dan semua orang tahu tentang ini. Erick tak mungkin begitu ambisius ingin membeli saham Inter Milan tanpa memikirkan peluang bisnis yang besar di sana. Inter Milan yang notabene adalah klub besar bisa menjadi lumbung keuntungan bagi Erick dan Inter Milan kini tengah membutuhkan asupan dana besar setelah prestasi mereka menurun dalam beberapa tahun terakhir.
Lalu, mengapa saya begitu ingin Erick membeli Inter Milan? Saya tidak melihat dari segi bisnis, namun segi sepakbolanya. Indonesia punya peluang yang cukup besar untuk memiliki koneksi yang kuat dengan tim sebesar Inter Milan jika Erick berhasil mengambil saham tersebut. Memang tidak akan seketika dan signifikan dalam waktu dekat, namun kans sepakbola Indonesia untuk lebih baik bisa jadi berawal dari sana. Indonesia secara umum akan diuntungkan.
Syamsir Alam adalah orang yang sempat mencicipi keuntungan semacam itu di DC United. Setelah bermain untuk CS Vise, Syamsir dipinjamkan ke DC United untuk berlaga di MLS selama semusim. Walau Syamsir urung bertanding secara reguler, Syamsir tentu mendapat pelajaran berharga dari berlatih di kasta sepakbola yang lebih tinggi dibanding liga kedua di Belgia. Tak bisa dipungkiri ini juga berkat kehadiran Erick di dalam tubuh DC United.
CS Vise juga bisa menjadi percontohan klub yang bisa menjadi tempat menimba ilmu bagi pemain muda Indonesia. Setelah diakuisisi oleh Bakrie Group, CS Vise kini lebih diwarnai oleh wajah-wajah Indonesia. Yang paling populer tentunya Alfin Tualasamony yang kabarnya tengah diincar Benfica dan Bologna. Ini lah mengapa memiliki klub Eropa terlebih klub papan atas bisa mendongkrak prestasi pemain muda kita.
Dengan kedatangan Erick, pemain Indonesia punya sedikit harapan untuk melihat jauh ke depan karir mereka di Eropa. Dengan koneksi semacam ini, kesempatan untuk pemain semacam Syamsir di DC United semakin terbuka. Beberapa kontrak yang akan menguntungkan pemain muda Indonesia juga mungkin bisa membantu pengembangan talenta pemain kita, seperti pendirian sekolah sepakbola, magang pemain Indonesia, atau coaching clinic.
Memang, semuanya tidak akan instan dan butuh proses panjang. Inter Milan juga tidak akan begitu saja merekrut pemain kita tanpa melihat potensi besar tiap kemampuan pemain kita. Namun, ini bisa menjadi motivasi besar bahwa kini ada lebih besar peluang untuk bermain di kompetisi yang lebih kompetitif karena peran pebisnis Indonesia termasuk Erick. Caranya? Tetap berikan yang terbaik dan bermimpi besar.