30 Jun 2013

Erick Thohir Harus Membeli Inter Milan


Sudah hampir 3 bulan semenjak isu Erick Thohir, pengusaha besar Indonesia, akan membeli saham Inter Milan. Tarik ulur terjadi dan hasilnya masih belum bisa dipastikan. Massimo Moratti sebagai presiden Inter Milan nampaknya kini harus berbagi saham dengan Erick setelah negosiasi yang cukup panjang. Kabarnya, Erick hanya mendapatkan 40% dari total saham Inter Milan.

Saya bukan seorang pakar ekonomi, namun saya cukup paham apa arti dari kepemilikan saham sebesar 40% yang akan dimiliki Erick. Besar kemungkinan Erick tentu bukan pemegang tertinggi karena sisa saham Inter Milan masih milik Moratti. Namun, ini adalah peluang yang besar bagi Erick yang telah lama menekuni bisnis olahraga hingga ke mancanegara ini. Beberapa kebijakan Inter Milan mungkin akan mendengarkan pendapat Erick jika benar Erick mendapatkan tempat di Inter Milan.

Erick mungkin salah satu pelopor pebisnis dalam negeri yang berhasil melambungkan nama Indonesia di dunia bisnis internasional. Sepak terjangnya di dunia bisnis olahraga juga tidak bisa dibilang kacangan sebagai orang Indonesia. Erick yang kini telah memiliki sebagian besar kepemilikan klub Major League Soccer (MLS), DC United, nampaknya benar-benar serius menekuni bidang bisnis olahraga yang tengah marak ini.

Apa yang dilakukan oleh Erick memang tidak mungkin terlepas dari soal bisnis. Bisnis amat erat kaitannya dengan masalah keuntungan dan semua orang tahu tentang ini. Erick tak mungkin begitu ambisius ingin membeli saham Inter Milan tanpa memikirkan peluang bisnis yang besar di sana. Inter Milan yang notabene adalah klub besar bisa menjadi lumbung keuntungan bagi Erick dan Inter Milan kini tengah membutuhkan asupan dana besar setelah prestasi mereka menurun dalam beberapa tahun terakhir.

Lalu, mengapa saya begitu ingin Erick membeli Inter Milan? Saya tidak melihat dari segi bisnis, namun segi sepakbolanya. Indonesia punya peluang yang cukup besar untuk memiliki koneksi yang kuat dengan tim sebesar Inter Milan jika Erick berhasil mengambil saham tersebut. Memang tidak akan seketika dan signifikan dalam waktu dekat, namun kans sepakbola Indonesia untuk lebih baik bisa jadi berawal dari sana. Indonesia secara umum akan diuntungkan.

Syamsir Alam adalah orang yang sempat mencicipi keuntungan semacam itu di DC United. Setelah bermain untuk CS Vise, Syamsir dipinjamkan ke DC United untuk berlaga di MLS selama semusim. Walau Syamsir urung bertanding secara reguler, Syamsir tentu mendapat pelajaran berharga dari berlatih di kasta sepakbola yang lebih tinggi dibanding liga kedua di Belgia. Tak bisa dipungkiri ini juga berkat kehadiran Erick di dalam tubuh DC United.

CS Vise juga bisa menjadi percontohan klub yang bisa menjadi tempat menimba ilmu bagi pemain muda Indonesia. Setelah diakuisisi oleh Bakrie Group, CS Vise kini lebih diwarnai oleh wajah-wajah Indonesia. Yang paling populer tentunya Alfin Tualasamony yang kabarnya tengah diincar Benfica dan Bologna. Ini lah mengapa memiliki klub Eropa terlebih klub papan atas bisa mendongkrak prestasi pemain muda kita.

Dengan kedatangan Erick, pemain Indonesia punya sedikit harapan untuk melihat jauh ke depan karir mereka di Eropa. Dengan koneksi semacam ini, kesempatan untuk pemain semacam Syamsir di DC United semakin terbuka. Beberapa kontrak yang akan menguntungkan pemain muda Indonesia juga mungkin bisa membantu pengembangan talenta pemain kita, seperti pendirian sekolah sepakbola, magang pemain Indonesia, atau coaching clinic.

Memang, semuanya tidak akan instan dan butuh proses panjang. Inter Milan juga tidak akan begitu saja merekrut pemain kita tanpa melihat potensi besar tiap kemampuan pemain kita. Namun, ini bisa menjadi motivasi besar bahwa kini ada lebih besar peluang untuk bermain di kompetisi yang lebih kompetitif karena peran pebisnis Indonesia termasuk Erick. Caranya? Tetap berikan yang terbaik dan bermimpi besar.

23 Jun 2013

Indonesia Pindah ke Oseania?


Pindah lapak bagi seorang pedagang adalah sebuah langkah yang besar dalam situasi tertentu. Lapak lama bisa jadi tidak menguntungkan saat ini, tapi lapak baru pun tak seketika begitu menjanjikan sebuah keuntungan yang besar. Perlu adanya sebuah keberanian untuk berpindah dari suatu tempat, hanya karena untuk mendapatkan rezeki yang lebih banyak. Sebuah harapan.

Kita tak bisa menyalahi takdir Tuhan yang telah mengirim Indonesia jatuh di zona ekuator bumi ini. Kita juga tidak bisa menampik bahwa kita hadir di tengah-tengah samudra yang membelah dua benua besar, Asia dan Australia. Namun, soal sepakbola, ada sebuah kesempatan di mana kita bisa jadi lebih realistis untuk bermimpi bermain di ajang terbesar sepakbola sedunia yang selalu kita impikan, Piala Dunia.

Baru-baru ini, beberapa media memberitakan tentang seorang pelatih sepakbola Indonesia yang mempunyai sebuah gagasan untuk Indonesia agar berpindah konfederasi sepakbola dari AFC (Asia) ke OFC (Oseania). Beliau adalah Timo Scheunemann, pelatih keturunan Jerman yang telah lama menjajaki kursi kepelatihan di Indonesia terutama Tim Nasional Indonesia usia muda. Beliau pun punya alasan: Indonesia perlu kesempatan lebih untuk berlaga di Piala Dunia.

Kita sama-sama tahu bahwa bermimpi Indonesia untuk bertanding di kompetisi sebesar itu masih terdengar seperti mengisap jempol sambil bermimpi di siang bolong. Prestasi tim nasional kita yang tak kunjung membaik selalu membuat gelisah para pecinta sepakbola yang peduli akan perubahan. Negara-negara Asia cenderung semakin kuat dan kita cenderung terbelah dengan isu yang seringkali di luar konteks sepakbola. Di manakah kita sekarang?

Lalu, mengapa dengan pindah ke OFC kita bisa lebih punya kesempatan untuk berlaga di Piala Dunia? OFC saat ini memiliki 14 negara dengan 11 anggota tetap. Anggotanya, seperti kita tahu, mungkin hanya terkenal seperti negara pariwisata dan pelesiran, contohnya Kepulauan Fiji atau Tahiti yang baru bertanding di Piala Konfederasi 2013. Negara-negara zona OFC di atas kertas memang cenderung lebih lemah dibanding negara di zona ASEAN sekalipun.

Berdasarkan hal itu, coach Timo percaya kans Indonesia akan lebih besar untuk bisa meraih tiket ke putaran final Piala Dunia. OFC memilki jatah 0 atau 1 negara yang akan lolos. New Zealand tahun ini berhasil lolos playoff yang akan menghadapi juara keempat zona CONCACAF (Amerika Utara dan Tengah) untuk berebut tiket ke Piala Dunia. Dibanding melawan macan Asia seperti Jepang, Korea Selatan, atau Australia, coach Timo melihat kesempatan pindah konfederasi baik untuk Indonesia ke depannya.

Sebelum pindah ke zona AFC (Asia), Australia memang selalu menjadi jawara di zona OFC. Sempat terdengar bahwa alasan Australia pindah ke zona Asia karena kompetisinya yang kurang kompetitif dan selalu kalah di ajang playoff melawan zona CONCACAF. Ini bisa jadi kekurangan kita juga jika kita memang ingin pindah ke OFC. Tantangannya tidak kalah berat dan tidak juga lebih mudah jika kita masih belum menunjukkan perbaikan.

Secara pribadi, saya tetap ingin Indonesia berada di zona AFC karena saya rasa tujuan sepakbola Indonesia lebih dari sekadar lolos ke Piala Dunia. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada coach Timo, Indonesia sedang bergerak ke arah perubahan yang lebih baik dan mengubah zona konfederasi akan sedikit memberi goncangan juga penyesuaian. Saya harap Indonesia masih bisa lebih bekerja keras di zona AFC yang relatif lebih kompetitif sehingga selalu memotivasi kita.

Memang, tak ada yang pedagang yang tidak mencari keuntungan. Berpindah lokasi berjualan harusnya bisa mendapat keuntungan lebih. Namun, kita harus sadar bahwa Tim Nasional Indonesia lebih dari sekadar pedagang yang mencari untung. Timnas Indonesia adalah tim yang harus bisa tetap bekerja keras di mana pun mereka bertanding dan memberi prestasi demi Indonesia. Suatu hari nanti. Percayalah.

16 Jun 2013

Indonesia Muda di Tanah Orang




Ini bukan sebuah tulisan tentang sumber daya alam kita yang diambil oleh negara lain. Ini juga bukan sebuah gambaran bagaimana kita tampak lemah di mata dunia. Ini adalah bukti mengapa kita harus berdiri tegak, berbangga hati, dan terus berusaha memperbaiki diri. Jawaban dari sebuah keraguan yang kerap muncul bagi sepakbola Indonesia.

Mungkin sebagian dari Anda sudah tahu bahwa ada beberapa anak bangsa yang sedang berkelana di berbagai penjuru dunia guna bermain sepakbola. Saya akan mencoba memberi sedikit informasi tentang siapa saja pemain muda yang punya potensi besar untuk mengharumkan nama sepakbola Indonesia di luar negeri.

Syamsir Alam


Syamsir Alam adalah talenta muda yang telah lama bersemayam di telinga kita. Kini, Syamsir bermain bagi DC United di Liga Major League Soccer, Amerika Serikat. Syamsir memang belum bisa menembus jajaran pemain utama di DC United karena memang persaingan yang ketat. Kontrak dengan DC United akan berakhir pada Desember tahun ini dan Syamsir akan kembali ke CS Vise.

Syamsir sempat sedikit geram karena belum mendapat panggilan untuk bermain bagi Tim Nasional Indonesia sewaktu menjamu Tim Nasional Belanda di Jakarta beberapa waktu yang lalu. Namun, ini adalah sebuah peringatan bagi Syamsir untuk terus berjuang di negeri Paman Sam. Semoga Syamsir akan bersinar dalam waktu dekat.

Alfin Tuasalamony


Alfin mungkin pemain muda Indonesia yang paling santer dibicarakan akhir-akhir ini. Umurnya masih 20 tahun dan kini bermain di CS Vise, Belgia. Musim ini Alfin bermain untuk klubnya sebanyak 29 kali, tergolong cukup konsisten bagi pemain Indonesia ditambah 2 assists. Situs transfermarkt mengklaim harganya kini bisa mencapai 200.000 Euro atau 2,6 miliar Rupiah.

Isu yang berkembang kini, Alfin sedang dikejar-kejar oleh klub Benfica setelah sebelumnya dilirik oleh beberapa klub Eropa lain. Posisinya bermain sebagai bek kiri dan bisa menjadi pelapis untuk skuat Benfica musim depan. Kita berharap semoga ini bukan hanya isapan jempol belaka dan Alfin bisa segera merumput bersama klub besar Portugal tersebut.

Joey Suk


Joey Suk mungkin memang belum memastikan diri untuk berpaspor Indonesia, namun sampai saat ini pun belum ada kepastian pihak Belanda akan memasukkannya sebagai warga negara. Joey kini berumur 23 tahun dan Beershot FC adalah klubnya di Belgia. Posisi Joey adalah gelandang tengah dan bisa menjadi playmaker.

Musim depan, Joey Suk akan pindah ke NAC Breda yang bertanding di liga Eredivisie, Belanda. Itu adalah sebuah lompatan yang besar untuk berkompetisi di liga yang lebih kompetitif. Seperti dilansir situr transfermarkt, Joey Suk dibanderol seharga 400.000 Euro atau 5,3 miliar Rupiah. Semoga Joey Suk bisa segera berseragam Merah Putih kelak.

Daftar beberapa pemain muda Indonesia lain di luar negeri:
(Data diambil 16 Juni 2013)

Irfan Bachdim (Chonburi FC - Thailand)
Arthur Irawan (RCD Espanyol B - Spanyol)
Syaffarizal Mursalin Agri (Al-Khor Sports Club - Qatar)
Stefano Lillipaly (Almere City FC - Belanda)

Pemain-pemain di atas adalah segelintir pemain-pemain yang kita miliki yang tengah berjuang di daratan yang tidak kita miliki. Mereka tentu berjuang untuk memberi bukti kepada Indonesia bahwa pemain Indonesia bukanlah kacang-kacang rebus pinggir jalan, melainkan makanan premium. Kita harus berbangga dan terus mendukung mereka. Kelak, pemain kita akan benar-benar menjadi bintang di tanah orang. Semoga.

Sumber: Indonesia Talent

9 Jun 2013

Mengekspos Timnas Kembali


Sepakbola Indonesia terasa menggeliat lagi minggu ini. Khususnya pada hari Jumat lalu, masyarakat seakan terbangun dari tidur yang cukup lama untuk meneriakkan lagi nama Garuda dan ikut dalam euforia sesaat. Tim Nasional Belanda yang hadir pun jadi faktor utama mengapa Indonesia kembali bergairah untuk beberapa waktu.

Tentu, seperti kebanyakan prediksi orang-orang yang berpikir secara nalar, Indonesia tak akan bisa berbuat banyak ketika dihadapkan oleh kekuatan Dunia seperti Belanda. Segala macam alasan seperti jetlag, makanan kurang cocok, atau agenda yang ketat, tidak bisa mengalahkan superioritas mereka di lapangan hijau. Indonesia pun takluk dengan skor 3-0.

Lalu, apa yang bisa Indonesia ambil dari pertandingan tersebut? Pengalaman. Itu saja. Tentu berharap menggondol kemenangan bukan hal yang tak mungkin, tapi perlu dibedakan dengan bermimpi di siang bolong di tengah padang pasir. Namun, momen mencoba menggocek Ron Vlaar atau membaca permainan Jonathan De Guzman secara langsung bukan hal yang murah.

Segala aspek teknis yang berpengaruh seperti ketatnya pertandingan liga domestik dan keharmonisan di tubuh PSSI sepatutnya bisa menjadi faktor lain untuk berupaya lebih di pertandingan sekelas ini. Namun, bersyukur adalah langkah paling tepat dan menyadari bahwa pengalaman ini akan sangat berharga untuk masa depan Indonesia.

Belanda mungkin negara dengan peringkat FIFA paling tinggi yang pernah kita lawan di tanah sendiri selama ini. Kita sempat melawan Yordania dengan FIFA Ranking #75 dan takluk dengan skor 0-5. Patut disyukuri bisa hanya berselisih sedikit dengan Belanda? Tidak juga, karena proses dan faktor lain juga harus dilihat. Saat Yordania menang, kita bertanding di kandang mereka dan selalu menjadi batu sandungan Indonesia.

Sejauh ini, jadwal pertandingan internasional akan berlangsung Oktober ini kala Pra-Kualifikasi Piala Asia 2014 dan berhadapan China di kandang sendiri. Diselingi dengan pertandingan non-FIFA seperti melawan Arsenal dan Liverpool, Indonesia punya waktu luang untuk berbenah diri. Jawaban dari pertanyaan apakah hikmah dari melawan Belanda akan tergambar jelas di pertandingan selanjutnya.

2 Jun 2013

Memberi Kredit Kepada Gelandang Bertahan


Kemarin siang, saya punya kesempatan untuk bermain sepakbola di lapangan setelah sekian lama saya tidak menjumpai rumput-rumput di lapangan tersebut. Bersama kawan-kawan, saya memulai bermain bola saat waktu menunjukkan pukul 12.00 atau saat matahari seakan sedang ingin pamer terhadap dirinya sendiri. Entah bodoh atau tak ada kerjaan, saya masih berniat untuk bermain bola walau cuaca seperti itu.

Kebetulan, saya berposisi sebagai gelandang bertahan pada pertandingan tersebut. Biasanya saya berposisi sebagai pemain sayap, namun saya ingin mencoba hal ini. Setelah bermain selama 10 menit, saya merasa bahwa ada beban berat yang menyangkut pada kaki saya sehingga saya sulit bergerak. 5 menit berselang, saya mulai kehabisan nafas. Sampai seketika, saya tahu bahwa beban itu adalah diri saya sendiri yang kurang berolahraga.

Namun, saya tidak akan berkomentar tentang kebugaran saya di sini. Saya akan menelisik tentang gelandang bertahan. Menjadi gelandang bertahan sungguh tidak mudah. Anda harus benar-benar memiliki timing yang tepat untuk bergerak karena tiap gerakan akan menentukan dua hal: serangan tim Anda gagal atau serangan tim lawan berhasil. Sulit.

Hal ini yang kemudian menyadarkan saya bahwa sosok pemain gelandang bertahan memang harus kuat secara stamina. Pada banyak kesempatan, saya seringkali tidak mengindahkan kemampuan seorang gelandang bertahan yang begitu sentral. Kemampuan untuk bisa membagi bola kepada rekan setim dan melihat jauh ke depan apa yang akan terjadi selanjutnya bisa jadi skill penting dalam menjadi gelandang bertahan terutama dalam perannya sebagai water carrier midfielder.

Kini, saya mengerti mengapa sosok seperti Didier Deschamps atau Claude Makelele sangat berpengaruh dalam tim. Ditunjang dengan skill individu masing-masing, sosok gelandang bertahan begitu dinamis dan tak bisa disepelekan. Memang, posisi ini selalu kalah pamor dibandingkan posisi gelandang serang, sayap, atau penyerang. Namun, tak ada penyerangan berarti yang bisa dibangun tanpa gelandang bertahan.

Sering memang terdengar bahwa sosok seperti gelandang bertahan terlihat useless. Anda pasti tidak bisa melihat sosok seperti Sergio Busquets sebagai gelandang yang berguna ditambah dengan sentimen negatif tentang diving dirinya. Namun, cobalah Anda lihat permainan Barcelona secara detil dari kaki ke kaki kemudian Anda akan mengerti mengapa sosok Busquets cukup dominan untuk membagi bola.

Memang, tak akan mudah melihat sosok yang begitu berguna tanpa Anda peka terhadap hal yang Anda lihat. Penyelesaian atau pertahanan terakhir selalu menjadi fokus utama dalam sepakbola terutama di mata para penggemar sepakbola yang masih awam. Saya selalu melihat hal tersebut tak adil dan gelandang bertahan punya kredit lebih.