SMS. Tentunya bukan sesuatu yang sering kita kirim kepada kekasih kita dan juga bukan promosi dari sebuah produk sosis instan. Soccer Maniac Syndrome, kepanjangannya. Tapi, mari kita lupakan tentang masalah akronim ini dan mulai bercerita tentang SMS itu sendiri.
Banyak orang rela menonton bola pada tengah malam sambil meneguk soda atau bir bersama kacang kulit atau teman sebaya. Di pagi harinya, mereka tampak kikuk dengan diri mereka sendiri dan mulai menjalani hidup secara lambat akibat menjadi manusia nokturnal beberapa saat. Hal ini akan terjadi terutama ketika mulai menjelang laga besar atau menurut salah satu program ANTV sering disebut SUPER BIG MATCH.
Namun, masalah itu tentunya terlalu personal. Every man for himself. Mereka harusnya bisa bertanggung jawab terutama untuk mereka sendiri. Yang ingin saya soroti adalah mengenai penderita SMS ini berinteraksi dan berperilaku.
Penderita SMS ini biasanya mendukung dengan luar biasa hebatnya. Isi twitter mereka kebanyakan me-retweet akun tim bola kesayangan, jersey bola yang dimiliki pun minimal jersey KW Thai dengan Player Issue, dan tentunya seakan rela memberi apapun untuk tim kesayangan. Saya tak tahu bagaimana sebuah tim bisa mem-brain wash para pendukungnya secara total, tapi yang harus ditinjau adalah bagaimana mereka begitu reaktif terhadap hal-hal mengenai tim yang mereka dukung.
Indikasi dari penderita SMS ini adalah mereka akan luar biasa senang apabila tim mereka menang dan mereka akan super duper senang apabila, secara bersamaan, tim rival mereka menang. Dari sana, ungkapan-ungkapan mulai timbul. Umpatan, hinaan, ejekan, atau sindiran tak pelak hadir di akun sosial media mereka bagi tim rival yang kalah. Tak jarang, twitwar pun muncul dan bisa memecah pertemanan. Di sisi lain, ketika tim mereka menelan kekalahan, they just make a justification of it. Kalau tidak, ya cukup menghilang saja dari linimasa.
Dari beberapa indikasi ini, penderita SMS ini tentunya bisa berkembang menjadi akut. Mereka nampak mati tanpa ada tim kesayangan mereka. Mereka rela kehilangan sesuatu yang berharga demi tim kecintaan. Sulit melihat sisi terang dari penderita SMS akut ini tentunya. Mereka terlalu reaktif dan sensitif.
Untuk mengobati SMS ini, meminum paracetamol bukan merupakan langkah yang tepat. Belajar menghargai tim lawan dan berpikir secara objektif tentunya bisa dilatih secara perlahan namun pasti. Janganlah kita mengorbankan diri kita terlalu banyak bagi tim kesayangan kita yang notabene malah mengambil banyak untung dari kita. Bila SMS berlanjut, hubungi dokter.