Duh. Begitu ngilunya hati saya ketika melihat peringkat FIFA timnas kita yang kian terpuruk dari hari ke hari. Baru beberapa bulan yang lalu kita turun jauh, sekarang kita sudah terkapar di posisi ke-168 dari ranking FIFA. Yang miris adalah beberapa negara yang nampaknya jauh dari pandangan mata kita ternyata memiliki ranking FIFA yang lebih baik dari Garuda, contohnya Fiji, Nepal, sampai Madagascar yang sering kita tonton dalam kartun sebagai negara yang nampaknya berisi lebih banyak hewan ketimbang manusianya.
Sungguh menyedihkan tentunya mendapati prestasi buruk tersebut. Tak perlu lagi kita mengagungkan bahwa timnas kita adalah negara Asia pertama yang tampil di Piala Dunia walau namanya masih Hindia-Belanda. Peringkat FIFA terbaik yang pernah kita raih adalah posisi ke-76 pada tahun 1998. Kita pernah lebih baik dari China, Iraq, bahkan Finlandia apabila dibandingkan dengan peringkat saat ini.
Era tahun 1995-1998 memang era terbaik yang pernah kita miliki. Widodo C Putro yang kini menjadi pelatih, pernah mencetak gol lewat tendangan salto ketika bertanding melawan Kuwait di AFC Cup 1996. Dia pun patut berbangga hati seperti ketika Rooney mencetak gol dengan metode yang sama ketika melawan City musim lalu. Widodo pun terhitung cukup produktif dalam mencetak gol karena mampu mengemas 15 gol dari 55 pertandingan Timnas. Tetapi, kini Widodo harus lebih sanggup menahan tangis daripada mengumbar kebanggaan karena performa Timnas kita semakin memburuk.
Dualisme PSSI yang hadir kian membuat carut marut persepakbolaan Indonesia. Campur aduk antara Timnas kepentingan PSSI dan Timnas kepentingan KPSI (tandingan dari PSSI) membuat bingung banyak pihak mengenai arah Timnas akan dibawa. Saya rasa hal ini akan sangat panjang saya bahas apabila saya angkat di sini. Namun, saya lebih memilih untuk menahannya di artikel selanjutnya lain kali.
Intinya, Indonesia kini sedang terjatuh dan terjatuh lagi. Uluran-uluran tangan palsu hanya akan membuat kita terperosok lebih dalam. Mana kehadiran tangan-tangan yang mampu membawa kita ke arah yang lebih baik?