Hal paling menyebalkan dalam hidup bertetangga adalah masalah tenggang rasa. Selalu ada masa-masa ketika tetangga terlalu asik mendengarkan lagu kesukaannya dengan keras dan berulang kali, ketika tetangga terlalu mudah mengeluarkan suara lantangnya di malam hari, atau hanya dengan sering keluar masuk pintunya yang telah rapuh. Begitulah hidup bertetangga, tenggang rasa memang diperlukan.
Kota Liverpool adalah salah satu kota yang memiliki tetangga yang mungkin paling menyebalkan. Merebut torehan gelar 18 kali Liga Inggris adalah salah satu capaian yang mengesalkan bagi Kota Liverpool. Ya, kota Manchester hanyalah berjarak 33,6 miles atau sekitar 46 menit dari kota Liverpool di jam yang padat. Kekesalan itu pun bertambah dengan kekalahan di Old Trafford semalam.
Semalam, Liverpool datang ke kandang Manchester United dengan kekuatan penuh. Minus Nuri Sahin yang kembali ke Dortmund, Liverpool menurunkan skuat terbaik mereka dengan tentunya kehadiran Stewart Downing. Kubu Manchester United terlihat lebih jumawa walau dengan skuat yang apa adanya tanpa kehadiran Wazza. Saya sendiri agak ragu pertandingan ini akan berakhir dengan kemenangan bagi United. Hal yang tidak terulang di pertandingan sebelumnya adalah Suarez yang akhirnya menyalami Evra layaknya halal bihalal setelah salat idul fitri.
Di awal pertandingan, United terlihat superior dan Liverpool seakan mempersilakan mereka untuk seperti itu. Ditambah lagi, Liverpool terlalu santai seperti sedang main kucing-kucingan bola. Welbeck yang mungkin malas dianggap sebagai kucing beraksi sesekali merebut bola walau penyelesaian akhir kurang baik. Peran Lucas Leiva sebagai gelandang pengangkut air kali ini kurang terlihat dominan. Kekuatan United mulai terasa ketika Old Trafford bergemuruh meneriakkan "Oooh Robin Van Persie" pada menit ke-19 usai sepakan santainya menemui jala gawang Reina.
Setelah gol itu, Liverpool semakin kelimpungan mencari arah serangan. Suarez terlihat berusaha sendiri tanpa ada sodoran dari Glen Johnson atau Downing. Kesulitan ini menambah ketika Suarez lebih sering track back sehingga terlalu jauh untuk menuju gawang. Praktis, Suarez seperti katak dalam tempurung yang dikurung teman-temannya sendiri. United pun lebih bermain dominan dan banyak peluang tercipta, termasuk backheel Van Persie yang mungkin sempat diajarkan di Emirates Stadium.
Di babak kedua, Sturridge masuk menggantikan Lucas yang sedang. Raut wajah yang kesal di babak pertama setidaknya jadi pemicu Sturridge lebih termotivasi. Namun, belum juga Sturridge melahap bola, United kembali mencetak gol lewat sudulan Evra-Vidic seperti sundulan bersama ala Tsubasa. Evra menyundul dan Vidic mengarahkan bola, mirip bukan? Setelah gol tersebut, Liverpool seperti tersengat lebah, mereka pun akhirnya bangkit menyerang.
Sturridge dalam laga debut resminya di Liga Inggris bersama Merseyside Red akhirnya mampu menceploskan bola ke dalam gawang De Gea setelah tendangan Gerrard ditepis kurang sempurna. Selebrasi dengan 5 jari adalah momen yang penuh keyakinan untuk Liverpool. Selepas itu, Liverpool menjadi aktif dalam menyerang dan United meladeninya dengan bermain buruk. Valencia yang datang menggantikan Young yang cedera masih sulit menemukan di mana arti nomer punggung 7 dan mengapa dia tidak menggantinya ke nomer punggung 69.
Beruntungnya United masih dapat memenangkan pertandingan dengan skor 2-1. Jose Mourinho yang datang ke Old Trafford pun sepertinya tahu dirinya akan dipecat atau tidak di laga Februari nanti. Fergie, yang di akhir pertandingan hanya memandangi jam tangan, cukup bersyukur bisa memenangkan pertandingan walau Vidic dan Young yang dibopong ke luar lapangan. Akhirnya, tetangga dari neraka ini kembali mengesalkan tetangganya tersebut.