Beberapa gooners bahkan sudah mulai gerah dan mulai berteriak "Wenger out!" dari hari ke hari. Mereka sudah cukup lelah dengan berbagai kemunduran yang terjadi pada tim. Namun, Wenger bukan saja permasalahan utama dari hilangnya taji Arsenal. Keuangan Arsenal juga menjadi batu ganjalan selama ini. Hal ini dapat terlihat dari gairah transfer pemain dari Arsenal yang begitu dingin. Dinginnya Arsenal pada musim transfer bisa disetarakan dengan wanita frigid. Belum lagi, isu loyalitas yang merebak di Arsenal setelah banyak bintang mereka pergi tak kembali.
Sejak musim panas tahun lalu, Arsenal "hanya" berhasil merekrut sekitar 3 pemain saja, seperti Oliver Giroud, Santi Cazorla, dan Lukas Podolski. Mereka tentu saja bukan pemain ecek-ecek bahkan peran mereka cukup krusial dalam mempertahankan posisi Arsenal saat ini. Hanya saja, Arsenal benar-benar melakukan seperti di peribahasa "Besar pasak daripada tiang". Alih-alih menambah pemain, Arsenal secara kontinu kehilangan pemain sejak jendela transfer musim panas lalu. Arsenal kehilangan sekitar 13 pemain first-team yang ditransfer permanen dan dipinjamkan termasuk Alex Song, Emmanuel Frimpong, dan tentunya Robin Van Persie.
Kehilangan beberapa pemain kunci ini lantas tidak membuat Arsenal menjadi aktif dalam jendela transfer musim dingin ini. Arsene Wenger baru-baru ini malah mengutarakan bahwa fans Arsenal jangan terlalu berharap Arsenal akan merekrut talenta baru ke Emirates Stadium. Wenger memang bukan PHP namun bukan berarti dia harus diam saat Arsenal di tengah kegentingan ini. Bisa jadi, target Arsenal musim ini hanyalah lolos ke fase penyisihan Champions League apabila performa baik tak kunjung berjumpa.
Penurunan gairah Arsenal di bursa transfer ditengarai disebabkan oleh manajemen Arsenal yang kurang baik. Walau mungkin dari segi finansial terlihat sehat, kehilangan Pat Rice sebagai asisten manajer Wenger cukup berimplikasi pada perubahan kebutuhan tim. Belum lagi, kebijakan pihak board Arsenal yang disebut-sebut lebih condong mengambil keuntungan finansial semata dibanding membangun tim dengan matang seperti menaikan harga tiket penonton Emirates Stadium hingga mencapai 92 poundsterling atau sekitar Rp 1.400.000. Uang sebanyak itu tentunya lebih baik untuk dijadikan cicilan motor.
Semua pendukung Arsenal bahkan penikmat Liga Inggris tentunya rindu Arsenal bisa menjadi tim yang trengginas seperti tahun 2003-2004 dengan rekor unbeaten mereka. Menyalahkan Wenger bisa jadi benar, namun tidak absolut. Lalu siapa yang perlu disalahkan? Siapa tahu.