7 Feb 2014
Melatih Pelatih Berlatih
Tak banyak yang tahu bahwa menjadi seorang pelatih membutuhkan lebih dari sekadar sepasang bola mata dan sebuah otak untuk terus melaju. Formulasi untuk menjadi seorang pelatih yang komplet jauh dari kata-kata yang sederhana. Cara untuk mewujudkannya? Menjadi pelatih sebenarnya.
Selama periode bulan November 2013 hingga Januari 2014, sela hidup saya diisi dengan salah satu pekerjaan yang tidak pernah saya pikir sebelumnya, yaitu pelatih tim sepakbola. Tim sepakbola ini memang bukan tim professional, ini hanyalah tim sepakbola yang mewakili himpunan mahasiswa jurusan saya. Dalam rangka menghadapi suatu kompetisi sepakbola paling akbar di kampus saya, tim ini kemudian terbentuk dan menjadi bagian dari hidup saya selama periode waktu tersebut.
Sebelumnya, saya selalu berpikir menjadi pelatih adalah sesuatu yang tidak jelas dan penuh beban. Tidak jelas, karena peran seorang pelatih tidak benar-benar dimaknai secara utuh terutama jika Anda masuk ke dalam tim non-profesional. Yang membuat penuh beban adalah tuntutan untuk selalu memberikan yang terbaik berada di level yang lebih atas ketimbang seorang pemain saja. Alasannya? Mari kita bedah satu per satu.
Pertama, pengetahuan tentang sepakbola secara umum. Anda tak bisa membawa sebuah tim sebagai pelatih tanpa tahu tentang sepakbola. Terlebih untuk tim yang tidak secara langsung mempelajari sepakbola, ada tanggung jawab bagi seorang pelatih untuk serba tahu. Pertanyaan tentang bagaimana kompetisi akan berjalan atau bagaimana bentuk kompetisi akan berlangsung hanya akan mudah diserap oleh tim secara keseluruhan jika anda pun paham tentang sepakbola secara garis besar. Anda pun harus kuat jika dijejali beragam kepentingan yang sebenarnya agak menyimpang dari sepakbola seperti manajerial tim, manajemen latihan, dan hal semacam itu lainnya.
Kedua, pemahaman tentang kemampuan dan karakter pemain. Untuk memahami kedua hal tersebut, Anda butuh banyak jam untuk terjun langsung menjumpai para pemain dan berinteraksi langsung. Hal tersebut tidak sesederhana meluangkan banyak waktu saja, tetapi Anda harus mawas dalam mengindentifikasi pemain tersebut secara personal yang relevan dengan kebutuhan tim Anda dan berkaitan tentang sepakbola tentunya. Memutuskan pemain ini layak bermain atau tidak membutuhkan kejelian dalam melihat secara lebih jauh kualitas secara individu. Bahkan, faktor di luar sepakbola seperti intelenjesia dan komitmen terhadap tim bisa menjadi kunci penting pemilihan pemain. Keputusan ini pun sebisa mungkin melibatkan tim agar bisa saling bertanggung jawab satu sama lain.
Ketiga, keahlian dalam taktikal dan formasi. Ini dapat dicapai apabila Anda memang telah banyak menekuni sepakbola secara permainan dan mungkin perlu beberapa jam bermain Football Manager. Kemampuan dalam meramu pemain-pemain secara individual menjadi sebuah tim yang solid tidak semudah dalam Football Manager tentunya. Berbagai pertimbangan seperti kualitas permainan, kekompakan, bahkan kehadiran saat latihan menjad faktor penting terutama untuk tim yang hanya bermodalkan komitmen ini. Bermain menyerang saat awal, formasi 4-3-1-2, atau serangan balik cepat hanya akan menetap dalam pikiran Anda jika Anda meluangkan banyak waktu untuk mempelajari itu dan mempelajari kecocokan taktik itu dengan tim. Mempraktekannya di lapangan adalah hal lain yang jauh dari kata simpel.
Terakhir, mental yang kuat dan konsistensi. Dua hal ini adalah hal yang paling mahal dari seorang pelatih yang nyatanya tidak bisa dibeli. Anda harus mampu menjadi role model dalam tim selain harus tetap membawa tim ini mencapai target. Hal yang sederhana adalah bagaimana sebuah latihan bisa terjalani tanpa adanya pelatih? Butuh komitmen yang kuat dan mental baja untuk tetap berjalan dan bisa merealisasikan tujuan tim. Saat tim sedang kalah, Anda tidak bisa diam saja tanpa memperhatikan mentalitas tim. Setelah Anda menegarkan mental Anda sendiri, Anda harus bisa menaikkan moral tim dengan metode yang Anda pilih entah dengan memberi motivasi, memberikan tekanan lebih, atau metode lain.
Empat hal ini memang terlihat lebih ke arah keahlian personal sebagai seorang pelatih. Ada penekanan apabila Anda telah memasuki fase dalam pertandingan. Ini jauh lebih kompleks dan sangat bergantung pada situasi yang anda hadapi. Faktor tim lawan, kondisi lapangan, kondisi tim, dan lain-lain benar-benar harus diperhatikan dalam menjadi seorang pelatih. Anda tidak bisa hadir di lapangan hanya sebagai patung penyemangat atau bos pemarah saja, harus ada keseimbangan di balik itu.
Himpunan mahasiswa jurusan yang saya bawa itu bernama Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM) ITB. Total pemain berjumlah 23 orang. Kiper yang saya miliki hanya 1 orang, penyerang murni berjumlah 4 orang, pemain bertahan hanya 6 orang, dan sisanya pemain tengah. Setelah masuk ke dalam kompetisi Ganesha Football League, tim kami bertanding dan berhasil menuju perempat final di kompetisi dua tahun sekali tersebut. Rekor kami satu kali seri dan satu kali menang, walau akhirnya kami harus kalah di perempat final.
Akhirnya, saya tahu bagaimana beratnya David Moyes untuk membangun sebuah tim yang padu, bagaimana sulitnya Michael Laudrup untuk mempertahankan form kemenangan, bagaimana kerasnya Jose Mourinho di pinggir lapangan memberikan touchline instruction, dan bagaimana rasanya meninggalkan tim seperti Massimiliano Allegri. Jika Anda pernah menjadi pelatih, Anda pasti akan mafhum dengan sebagian keputusan pelatih yang kadang terdengar sumbang. Karena begitulah menjadi seorang pelatih. Ingin mencoba?
