20 May 2014
Ryan Giggs: Pelari Dingin Manchester United
"If we can play like that every week, we'll get some of level consistency." - Sir Alex Ferguson
Jika kalimat Sir Alex Ferguson itu diinterpretasikan menjadi seorang pemain sepakbola, Ryan Giggs adalah sosok yang paling tepat.
Saya ingat menonton pertandingan Manchester United ketika masih duduk di sekolah dasar. Hanya beberapa pemain United yang saya benar-benar hafal terutama David Beckham. Eric Cantona saja tidak melekat di benak saja. Namun, ada satu orang yang sangat berbeda bagi saya: Ryan Giggs.
Ryan Giggs, untuk saya, merupakan pemain sepakbola yang aneh. Dari tahun ke tahun, penampilannya nyaris tak berubah. Rambut, perawakan, janggut, dan wajahnya seakan tak tergerus oleh umurnya yang kian tua. Sulit untuk membedakan pemain asal Wales itu dari tahun ke tahun.
Hidupnya pun terlihat statis. Tak ada gosip tentangnya yang begitu gempar, kecuali skandal seksualnya yang pernah marak dibicarakan. Kelakuan pemain yang handal dalam tendangan bebas ini pun terbilang tak nakal dan cenderung di bawah radar.
Konsistensi yang lebih mencolok lagi adalah kualitas bermain dari pemain yang dulunya bernama Wilson ini. Seiring tahun berganti, posisinya berganti dari sayap kiri menjadi gelandang tengah. Walaupun begitu, permainan memukaunya masih bertahan, seperti operan-operan mematikan.
Gol terakhir Ryan Giggs adalah gol ke gawang QPR musim lalu setelah selama karirnya di Premier League tak pernah absen mencetak gol tiap musim. Ya, gol tersebut pun menjadi gol Giggs favorit saya. Gol itu tidak sehebat golnya ke gawang Arsenal di FA Cup 1999, namun sikap dingin dirinya tergambar di gol tersebut.
Satu memori yang paling membekas bagi saya soal Giggs adalah saat saya masih di bangku SMP. Semasa itu, saya sempat bergabung dengan tim sepakbola sekolah saya. Saya pun diikutkan dalam kompetisi antar pemain di bawah 15 tahun se-Bandung.
Posisi natural saya adalah seorang winger dan kebetulan ditempatkan di sayap kiri. Tim saya pun berhasil berlanjut sampai babak semi-final, namun kalah di fase tersebut. Namun, pertandingan semi-final itu tak bisa pergi dari ingatan saya.
Mengapa? Karena saya pernah diibaratkan komentator pertandingan sebagai Ryan Giggs. "Kita bisa menganggap Insan sebagai Ryan Giggs, Bung. Terus menggocek di sayap kiri." ujar komentator. Saya tentu tidak sehebat Ryan Giggs dan komentator itu pasti berlebihan. Namun, ingatan itu selalu meyakinkan saya bahwa Ryan Giggs adalah sayap kiri terbaik.
Selepas van Gaal menjadi manajer United, Giggsy akan menjabat sebagai asistennya. Saya cenderung berharap Giggs bisa berlanjut menjadi manajer, namun van Gaal jelas punya pengalaman. Ryan Giggs akan belajar dan, kelak, ia akan menjadi legenda United di pinggir lapangan.
Good bye, Ryan "Giggs" Joseph Wilson. Thank you for all memories as a player.
foto: www.reddit.com
